Ubudiyah

Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Q.s. AI Hijr: 99).

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil; pemuda yang bersemangat dalam ibadat kepada Allah swt.; seseorang yang hatinya berkait dengan masjid sejak saat ia keluar hingga kembali (ke masjid); dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena Allah; seseorang yang mengingat Allah swt. hingga air matanya mengalir, serta seseorang yang digoda seorang wanita baik dan cantik, lantas menjawab dengan ucapan, Aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam,’, dan seseorang yang bersedekah dengan diam diam hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.” (H.r. Bukhari Muslin2, Tirmidzi dan Nasa’i).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Ubudiyah adalah lebih sempurna daripada ibadat. Karena itu, pertama tama adalah ibadat, lalu ubudiyah, dan akhimya abudah. Ibadat adalah amalan kaum awam, ubudiyah adalah amalan kaum terpilih (khawash), dan abudah adalah amalan kaum yang sangat terpilih (khawashul khawash).”

Beliau juga mengatakan, “Ibadat adalah untuk orang yang memiliki ilmul yaqin, ubudiyah untuk orang yang memiliki ‘ainul yaqin dan abudah untuk orang yang memiliki haqqul yaqin.”

Beliau juga berkomentar, “Ibadat adalah untuk orang yang sedang berjuang keras (mujahadah), ubudiyah untuk orang yang sangat tahan menanggung kesukaran (mukabidat), dan abudah adalah sifat ahli musyahadah. Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya berada dalam keadaan ibadat, dan siapa yang tidak bakhil jiwanya dialah pemilik ubudiyah, dan siapa yang tidak bakhil ruhnya, dialah pemilik abudah.”

Dikatakan, “Ubudiyah adalah menegakkan tindak tindak ketaatan yang sejati, dengan khusyu’, memandang diri dengan mata yang terbatas, dan menyadari bahwa amal amal kebajikan hanya dapat terlaksana berkat ketentuan takdir.”
Dikatakan pula, “Ubudiyah berarti meninggalkan ikhtiar sendiri ketika menghadapi takdir Ilahi.”

Dikatakan pula, “Ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan Nya kepadamu.”

Juga dikatakan, “Ubudiyah adalah menyambut apa pun perintah yang diberikan kepadamu dan memisahkan dirimu dari apa pun yang engkau dilarang atasnya.”

Muhammad bin Khafif ditanya, “Bilakah ubudiyah itu sah?” Ia menjawab, “Apabila seseorang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. dan memiliki kesabaran terhadap-Nya dalam menjalani cobaan Nya.”
Sahl bin Abdullah mengatakan, “Bagi siapa pun, ubudiyah tidaklah shahih sampai ia tidak mempedulikan empat hal: Kelaparan, ketelanjangan, kemiskinan dan kehinaan.”

Dikatakan, “Ubudiyah adalah hendaknya engkau menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan menanggungkan segala perbuatan kepada-Nya.”

Dikatakan pula, “Salah satu tanda ubudiyah adalah bahwa engkau meninggalkan angan angan sendiri dan mempersaksikan takdir.”
Dzun Nuun al Mishry menjelaskan, “Ubudiyah adalah bahwa engkau menjadi hamba-Nya dalarn setiap kondisi, seperti halnya Dia adalah Tuhanmu di setiap kondisi.”

Ahmad jurairy menjelaskan, “Penghamba kenikmatan banyak sekali, tapi sedikit sekali yang menjadi penghamba Sang Pemberi nikmat.

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, “Engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikatpada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.”

Rasulullah saw. bersabda:
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian bagus.”

Abu Ali al Jurjany berkata, “Merasa ridha adalah rumah ubudiyah. Sabar adalah pintunya, penyerahan total adalah rumahnya. Suara di atas pintu, kegaduhan di dalam tempat tinggal, dan keringanan jiwa ada di rumah.”

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, “Sebagaimana rububiyah sebagai sifat Allah swt. yang tak pernah sirna, maka ubudiyah adalah sifat hamba yang tak pernah pisah. Sebagian Sufi bersyair: jika kau tanya padaku, aku berkata, “Indah, aku hamba-Nya.” Dan jika mereka tanya kepada-Nya, Dia berkata, “Indah, dia hamba Ku.”

An Nashr Abadzy menegaskan, “Amal amal ibadat lebih dekat pada pencarian maaf dan ampunan atas kekurangan kekurangan daripada permohonan imbalan dan pahala.” Ia juga mengatakan, “Ubudiyah berarti kehilangan kesadaran akan pengabdian ketika menyaksikan Yang Maha Disernbah. “

Al junayd mengatakan, “Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal hal yang merupakan dasar kebebasan.”

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Best Verizon Cell Phone Deals and Plans | Thanks to CD Rates, Reverse Phone Lookup and Registry Software