Tidak Dengki Sesama Kaum Muslimin

Di antara akhlak mereka adalah tidak iri dan dengki terhadap salah seorang Muslim dan memberi bimbingan kepada semua Muslim dengan jalan yang diajarkan syari’ah.

Oleh sebab itu mereka mendapat simpati manusia. Seandainya mereka dengki terhadap seseorang atau curang, tentu mereka tidak disegani dan para pemuka tidak menyambut mereka. Jika Anda, wahai saudaraku, ingin menjadi demikian, maka tempuhlah jalan mereka dengan tulus ikhlas.

Syeikh Ali Al-Khawwash pernah berkata: “Barang siapa mengikhlaskan amal perbuatannya untuk Allah (SWT) maka Allah menjadikan hati orang-orang beriman dengan tulus mencintainya.

Sedangkan orang yang tidak ikhlas dalam menjalankan agamanya maka Allah akan menyampaikan isi batinnya kepada sebagian hamba pilihan-Nya sehingga tidak seorang pun di antara mereka hatinya tulus kepadanya dalam mencintainya.”

Dalam hadits dikatakan, bahwa “Sesungguhnya iri dan dengki memakan kebaikan sepeti api memakan kayu bakar.” Jika kebaikan hamba habis maka kewibawaannya hilang, karena ia menjadi orang yang memiliki keburukan atau menggantung antara tidak mempunyai kebaikan dan tidak pula keburukan. Sebagaimana dimaklumi bahwa kewibawaan dan penghormatan banyak diperoleh bagi orang yang mengungguli orang lain dalam hal amal dan akhlak yang baik.

Ahnaf bin Qais berkata: “Tidak ada ketenangan bagi pendengki dan tidak ada kewibawaan bagi orang yang berakhlak buruk.”

Amirul Mu’minin Umar bin Khattab (ra) berkata: “Tidak ada pemilik nikmat melainkan terhadap nikmat itu pasti ada yang dengki.”

Farqad as-Sanji berkata: “Obat untuk penyakit iri dan dengki adalah zuhud di dunia. Sedangkan orang yang menyukai dunia maka iri dan dengki senantiasa menyertainya, mau tidak mau.”

Sufyan at-Tsauri berkata: “Di antara akibat iri dan dengki adalah tidak faham. Maka barang siapa ingin faham dengan baik maka janganlah iri dan dengki terhadap siapa pun. Aku tidak memakai pakaian baru pada waktu waktu tertentu karena khawatir akan menimbulkan rasa iri pada tetanggaku atau orang-orang lain.”

Yahya bin Muadz berkata: “Orang yang mendapat iri atas nikmat yang ia miliki lebih baik dan pada orang yang tidak memiliki nikmat yang mendapat iri, lalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya itu dan memaafkan orang yang iri.”

Wahab bin Munabbih berkata: “Takutlah terhadap iri dan dengki, sebab itu adalah dosa pertama menentang Allah di langit dan dosa pertama menentang Allah di bumi (Habil anak Adam).”

Maimun bin Muhram berkata: “Jika Anda ingin selamat dari kejahatan orang yang iri pada Anda, maka tutupilah urusan urusan Anda dari orang itu.”

Mus’ir bin Kadam berkata: “Orang-orang terdorong memberi nasihat kepada sauadara-saudara mereka, hanya karena cinta terhadap mereka. Sedangkan di jaman sekarang nasihat menjadi seperti permusuhan dan setiap kali aku memberi nasihat kepada seseorang, ia lalu mencari kesalahan-kesalahan dan aibku, dan lupa melaksanakan nasihatku.”

Muhammad bin Sirin berkata: “Aku sama sekali belum pernah iri pada seseorang atas agama dan tidak pula atas dunia, dan yang demikian adalah nikmat terbesar dari Allah kepadaku.”

Abu Ayyub as-Sakhtayani adalah salah seorang yang paling peduli memberi nasihat kepada saudara saudaranya karena cinta pada agama mereka agar tidak berkurang. Ia juga berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar sayang pada orang-orang yang melakukan maksiat dan mengabaikan terhadap Tuhan mereka.”

Bilamana kaum muslimin mengalami musibah atau kesedihan, ia jatuh sakit karenanya sehingga ia dijenguk seperti layaknya orang yang sakit lainnya. Apabila bencana ini berakhir, ia pun sembuh seketika. (saya katakan) Orang yang mempunyai maqam ini tidak perlu berobat ke dokter, sebab dokter tidak mempunyai keahlidan dalam hal ini. Wallahu a’lam.

Abdul Malik bin Marwan pernah berkata suatu hari kepada Hajjaj bin Yusuf: “Hai Hajjaj, setiap orang mengetahui aibnya sendiri tidak sedikit pun tersembunyi. Maka katakanlah kepadaku, hai Hajjaj, tentang aibmu?” Ia menjawab: “Bebaskanlah aku dari itu, wahai Amirul Mu’minin.” Ia berkata “Tentu, dan aku bersumpah untuk itu..” Hajjaj berkata: “Di antara aibku adalah bahwa aku seorang yang iri dan pendengki.” Lalu Abdul Malik berkata: “Semoga Allah memerangi, tidak ada pada setan pun yang lebih buruk dari pada apa yang kamu katakan.”

Malik bin Dinar berkata: “Aku memberi ijazah Qari (untuk yang mengajar Qur’an) kepada orang-orang tetapi aku tidak memberi ijazah itu (untuk saling mengajar) karena mereka pendengki dan saling iri.”

Begitu juga Imam Malik (ra) berkata bahwa Aus bin Kharijah ditanya: “Siapakah majikanmu?” Ia menjawab: “Hatim at-Tha’i”. Dikatakan kepadanya: “Di manakah kedudukanmu dibanding dia?” Ia berkata: “Tidak pantas aku menjadi seorang pelayanannya!”. Hatim at Tha’i ditanya: “Siapakah yang Memimpin kalian?” Ia, menjawab Aus bin Kharijah.” Dikatakan kepadanya ; “Di manakah kedudukanmu dibanding dia?” Ia berkata: “Aku tidak pantas menjadi seorang budaknya! Imam Malik lalu berkata: “Manakah para fuqaha kita terhadap masalah ini?!”

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata pada suatu hari kepada seorang laki-laki: “Manakah tetua kalian?” Laki laki itu menjawab: “Aku, wahai Amirul Mu’minin.” Umar lalu berkata kepadanya: “Bohong, seandainya kamu adalah tetua mereka, tentu kamu tidak mengatakan demikian.”

Ibnu Sammak pernah berkata: “Di antara tanda orang yang iri adalah bahwa ketamakan membuat ia mendekati Anda, dan watak buruknya membuat ia jauh dari Anda. Orang yang irinya paling besar adalah orang orang dekat dan para tetangga, karena mereka melihat nikmat yang mereka irikan. Oleh sebab itu Umar bin Khattab (ra) menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari (ra) untuk mengajak para sahabat agar saling mengunjungi tetapi tidak saling menjadi tetangga.”

Fadhil bin Iyadh pernah berkata kepada Sufyan ats-Tsauni: “Ketahuilah, seandainya kamu memberi nasihat kepada orang-orang hingga mereka menjadi seperti kamu dalam hal agama, maka kamu belum menunaikan nasihat kepada mereka. Bagaimana kamu memenuhi nasihat kepada mereka sementara mereka, belum mencapai tingkatmu?”

Syaqiq al-Balkhi berkata: “Apabila pada dirimu ada sifat-sifat yang ditakuti musuh maka tidak ada padamu kebaikan. Maka bagaimanakah jika pada dirimu terdapat sifat-sifat yang ditakuti temanmu? Ketahuilah bahwa barang siapa menjadi sasaran keburukan orang, ia menempatkan diri pada kehancuran dan orang yang membuat orang lain selamat maka ia pun selamat dari orang lain.”

Mawas dirilah, saudaraku, apakah Anda bebas dari penyakit iri terhadap sesama Muslim atas karunia Allah yang diberikan kepada mereka? Apakah Anda telah memberi nasihat bagaimana diperintahkan oleh Allah jika di antara mereka ada yang iri pada orang lain?

” semoga bermanfaat saudara..” ( Kembali ke Awal – Home )

Both comments and pings are currently closed.

2 Responses to “Tidak Dengki Sesama Kaum Muslimin”

  1. name says:

    artikel ini sangat menyentuh hati dan bermanfaat untuk setiap masa.terima kasih atas ditulisnya artikel ini.

Best Verizon Cell Phone Deals and Plans | Thanks to CD Rates, Reverse Phone Lookup and Registry Software