Tentang Dengki

dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk Nya,” kemudian Dia berfirman, “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (Q.s. AI Falaq: 1, 2 dan 5).

Di sini Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyebutkan kata dengki. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis Inenolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.” (H.r. Ibnu Asakir).

Salah seorang Sufi mengatakan, “Orang yang dengki adalah orang yang tidak beriman, sebab ia tidak merasa puas dengan takdir Allah Yang Maha Esa.” Dikatakan, “Orang Yang denki tidak berjaya.”
Disebutkan dalam firman Allah swt,

“Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Q.s. AI A’raf : 33).
Dalam beberapa kitab tertulis bahwa, “Orang yang dengki adalah musuh nikmat-Ku.”

Dikatakan pula, “Pengaruh dengki tampak padamu sebelum ia tampak pada musuhmu.” Al Asmu’i menuturkan, “Aku melihat seorang Badui yang berumur seratus duapuluh tahun, dan aku berkata, ‘Alangkah panjangnya umur Anda.’ Ia menjawab, ‘Aku telah meninggalkan dengki, hingga umurku panjang’.”

Ibnul Mubarak mengatakan, “Segala puji bagi Allah, yang tidak menempatkan dengki dalam hati pernimpinku sebagaimana yang telah ditempatkan Nya dalam hati pendengkiku.”

Dalam salah satu hadist dikatakan, “Ada seorang malaikat di langit kelima yang amal perbuatan seorang manusia melaluinya, dan ia bersinar kemilau seperti matahari. Malaikat itu memerintahkan, ‘Berhentilah, karena aku adalah malaikat dengki. Pukullah pelaku dengki pada mukanya, sebab ia adalah seorang pendengki.”

Mu’awiyah bin Abu Sufyan berkata, ‘Aku mampu menyenangkan semua orang kecuali pendengki. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa pun selain berhentinya kenikmatan bagi semua orang.” Dikatakan, “Seorang pendengki adalah seorang yang paling zalim. Ia tidak membiarkan sesuatu pun tetap tinggal di tempatnya.”

Umar bin Abul Aziz menegaskan,’Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaan sengsara dan nafas sesak.”

Dikatakan, “Di antara tanda tanda seorang pendengki adalah penjilat orang lain manakala orang itu berada di dekatnya, memfitnahnya manakala tidak berada di dekatnya, dan merasa senang apabila ada bencana yang menimpa diri orang lain.”  Mu’awiyah berkata, “Tidak ada sifat sifat kejahatan yang lebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya.”

Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Sulaiman putra Daud as, “Kuperintahkan engkau agar melakukan tujuh perkara, janganlah engkau menggunjing dan mendengki salah seorang hamba-Ku yang saleh.’ Sulaiman menjawab, ‘Tuhanku, cukuplah perintah itu bagiku’.”

Dikatakan bahwa Musa as. melihat seorang manusia di dekat ‘Arasy. Karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau bertanya, “Apa amalnya?” Pertanyaannya itu dijawab, “Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt. kepadanya.”

Dikatakan, “Seorang pendengki menjadi bingung bila melihat adanya rahmat atas diri orang lain dan merasa senang jika melihat adanya kekurangan pada diri orang lain.” Dikatakan, “Jika engkau ingin selamat dari seorang pendengki, sembunyikanlah urusanmu darinya.”

Dikatakan pula, “Seorang pendengki sangat marah terhadap manusia yang tidak mempunyai dosa, dan bersikap kikir terhadap yang tidak ia miliki.”
Dikatakan juga, “Waspadalah jangan sampai engkau mengharapkan untuk mencintai orang yang mendengkimu, sebab ia pasti tidak akan menerima kebaikanmu.”

Kata salah seorang Sufi, “Apablla Allah swt. berkehendak memberikan kekuasaan kepada seorang musuh yang tak mengenal kasihan terhadap salah seorang hamba Nya, maka kekuasaan itu diberikan Nya kepada pendengkinya.”

Dalam syair Sufi:

Cukuplah bagimu kisah tentang seseorang
yang dikasihani oleh para pendengkinya.

Mereka juga membacakan syair berikut:
Semua permusuhan terkadang diharapkan
kematiannya
Kecuali permusuhan dari orang
yang melawanmu dengan rasa dengki.

Mereka juga membacakan syair:
Manakala Allah berkehendak menebar kebajikan
Digulunglah lidah pendengkinya,

Ibnul Mu’tazz mengatakan:
Katakan pada pendengki
ketika nafasnya terengah-engah,
‘Hai si zalim.’
Sedang ia seakan akan orang yang ditindas.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Best Verizon Cell Phone Deals and Plans | Thanks to CD Rates, Reverse Phone Lookup and Registry Software