<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Surau Baitul Amin-6 Bekasi &#187; Pengabdian Kepada Allah</title>
	<atom:link href="http://www.baitulamin6.org/tag/pengabdian-kepada-allah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.baitulamin6.org</link>
	<description>Dibawah naungan Yayasan Prof.Dr.H.SS.Kadirun Yahya .MSc</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 05:25:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kecintaan Mendahulukan Pengabdian Kepada Allah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/kecintaan-mendahulukan-pengabdian-kepada-allah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/kecintaan-mendahulukan-pengabdian-kepada-allah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 09:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Kepada Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Di antara akhlak mereka adalah kecintaan untuk mendahulukan murid mereka mengabdi kepada Allah atas pengabdian mereka. Apabila seseorang diminta untuk keperluan lalu ia tidak bisa datang karena sedang khusyu membaca al Qur&#8217;an atau dzikir, maka yang demikian itu lebih mereka sukai dari pada memenuhi panggilan mereka, meskipun penting seperti menumbuk gandum atau memasak masakan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di antara akhlak mereka adalah kecintaan untuk mendahulukan murid mereka mengabdi kepada Allah atas pengabdian mereka. Apabila seseorang diminta untuk keperluan lalu ia tidak bisa datang karena sedang khusyu membaca al Qur&#8217;an atau dzikir, maka yang demikian itu lebih mereka sukai dari pada memenuhi panggilan mereka, meskipun penting seperti menumbuk gandum atau memasak masakan atau hal sejenisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhlak ini tidak dilakukan kecuali oleh orang yang lepas dari ikatan-lkatan nafsu dan cintanya demi keridha&#8217;an Allah ta&#8217;ala sehingga mengutamakan ridha Allah dari semua keinginan nafsunya.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya mempunyai wirid shalawat Nabi. Lalu suatu malam saya berdzikir semalaman hingga terlupa membaca wirid shalawat Nabi itu. Maka setelah itu saya malu kepada Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada pagi harinya saya kemukakan itu kepada syaikh kami Sayyidi Ali al Khawwash lalu ia mengatakan: &#8220;Yang demikian Tidak perlu malu kepada pada Nabi (SAW). Sebab beliau lebih mencintai Tuhannya dari pada cintanya pada dirinya sendiri dengan suatu keyakinan. Maka tidak diragukan bahwa beliau memaklumi pada yang demikian itu, bahkan beliau lebih senang berdzikir kepada Allah dari pada shalawat kepada beliau meskipun dalam shalawat terdapat dzikir kepada Nya.&#8221; Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula syaikh akan lebih senang dengan kesibukan muridnya bershalawat kepada Nabi (SAW) dari pada ketika ia mendoakan,&#8221; Ya Allah berilah rahmat kepada syaikh kami dan berilah ampunan kepadanya!&#8221; Yang demikian itu karena Nabi (SAW) lebih dicintai oleh setiap syaikh dari pada dirinya sendiri. Ini patut dipahami.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak Lupa dari Berdzikir dan Shalawat Nabi<br />
Di antara akhlak mereka adalah tidak lalai berzikir dan bershalawat kepada Rasulullah SAW. di setitap majelis yang mereka hadiri sebagai pengamalan dari hadits Rasulullah, &#8220;Tidakkah suatu kaum duduk di suatu majelis yang mana mereka tidak mengingat kepada Allah (SWT) di dalamnya dan tidak pula bershalawat kepada nabi mereka, melainkan mereka itu mendapatkan kekurangan di hari kiamat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula sebagai pengamalan sabdanya yang lain: &#8220;Ahli surga tidak menyesali selain karena sedetik waktu yang berlaku tanpa mereka mengingat Allah (SWT) di dalamnya.&#8221;<br />
Hasan Basri berkata: &#8220;Allah (SWT) telah dengan firmanNya.<br />
Firman Allah swt.:<br />
&#8220;Ingatlah kalian kepada Ku niscaya Aku ingat kepada kalian.&#8221; (al Baqarah 152)</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tidak mengkhususkan tempat tertentu untuk berdzikir. Seandainya Dia mengkhususkan tempat dan menentukannya agar kita ingat kepadaNya di suatu tempat tertentu, maka wajib bagi kita untuk berusaha ke tempat itu meskipun harus menempuh waktu seratus tahun seperti berdoa di Ka&#8217;bah.</p>
<p style="text-align: justify;">Fadhil bin Iyadh berkata: &#8220;Apabila kalian ingat manusia di majelis kalian, maka ingatlah kepada Allah (SWT) karena mengingat Nya adalah obat bagi penyakit ingat kepada manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Atha&#8217; as Sulami berkata: &#8220;Seyogyanya bagi orang yang menzalimi diri untuk tidak berdzikir kepada Allah kecuali setelah tobat dan istighfar, karena Allah melaknat orang yang dzalim bila ia mengingat Nya selama ia terus melakukan kedzaliman.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">(Saya katakan) yang dimaksud dengan tobat oleh mereka adalah setiap kali hendak berdzikir kepada Tuhan sebagai penjagaan untuk diri mereka yang kemungkinan ada kezaliman diri mereka meskipun hanya baru perbuatan yang makruh atau lengah atau lintasan tercela, dan semacamnya. Wallahm a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/kecintaan-mendahulukan-pengabdian-kepada-allah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
