<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Surau Baitul Amin-6 Bekasi &#187; Keikhlasan &amp; Kejujuran</title>
	<atom:link href="http://www.baitulamin6.org/tag/keikhlasan-kejujuran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.baitulamin6.org</link>
	<description>Dibawah naungan Yayasan Prof.Dr.H.SS.Kadirun Yahya .MSc</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 05:25:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Keikhlasan dan Kejujuran</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/keikhlasan-dan-kejujuran.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/keikhlasan-dan-kejujuran.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 02:59:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Keikhlasan & Kejujuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahirrahmaanirrahhim. Segala puji hanya bagi Allah. Dalam salam semoga terlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih. Syeikh al-Imam Abul Qasim al-Junaid &#8211; semoga Allah menyucikan ruhnya dan menerangi kuburnya &#8211; berkata: Semoga Allah memberikan kecintaan kepadamu melalui kedekatan-Nya, dan memperbaharui di setiap saat kepadamu dalam kebajikan-Nya. Semoga Dia menutupimu dalam lindungan sayap rahmat-Nya. Dan menempatkan dirimu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><em><strong>Bismillaahirrahmaanirrahhim.</strong></em></span><br />
Segala puji hanya bagi Allah. Dalam salam semoga terlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih. Syeikh al-Imam Abul Qasim al-Junaid &#8211; semoga Allah menyucikan ruhnya dan menerangi kuburnya &#8211; berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah memberikan kecintaan kepadamu melalui kedekatan-Nya, dan memperbaharui di setiap saat kepadamu dalam kebajikan-Nya. Semoga Dia menutupimu dalam lindungan sayap rahmat-Nya. Dan menempatkan dirimu di sisi-Nya yang dihuni oleh ruh-ruhnya kalangan khusus-Nya, mereka yang dilimpahi lewat keluasaan-Nya. Mereka tidak disusul penghubung, tidak dipotong pemotong, dan tidak direpotkan penyibuk. Shalawat dan salam Allah semoga terlimpah kepada Nabi-Nya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.</p>
<p><span id="more-53"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Amma ba&#8217;d: Engkau bertanya seputar perbedaan antara ikhlas dan jujur atau benar. Makna jujur atau benar adalah teguh pada pendirian dengan penjagaan dan perlindungan, setelah engkau merasa sesuai dengan apa yang ada pada dirimu dari pengetahuan yang menunjukkan kepadamu, dalam rangka menegakkan batas-batas perilaku dzahir, yang disertai maksud baik kepada Allah Azza wa Jalla pada tindakan pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap benar itu ada dalam hakikat sifat-sifat kehendak, pada awal kehendak itu, dengan bersiteguh pada keterpanggilanmu dalam hakikat kehendakmu; berupa lintasan Al-Haq bagimu untuk-Nya, dan bergegas keluar dari keselarasan nafsu yang mendorong kesenangan, disertai penegakan ilmu bagimu dan penyalarasanmu kepada-Nya, melalui keluarmu dari penakwilan.<br />
Benar itu ada sebelum adanya hakikat keikhlasan.<br />
Allah swt. telah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar.&#8217;”(U.s. Al-Ahzaab: 8).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Allah swt. menanyakan mereka setelah mereka diberi kejujuran: Apa yang mereka kehendaki dengan kejujuran mereka, padahal Allah swt. telah memberikan simbol nama kepada mereka sebagai ash-Shiddiqun. Pada kali lain, artinya tidak demikian sebagaimana firman-Nya :</p>
<p style="text-align: justify;">“Inilah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenarannya.” (Q.s. Al-Maaidah: 119)</p>
<p style="text-align: justify;">Benar pada ayat pertama sebagai simbol nama bagi makhluk dan keutamaan di antara mereka, dan di antara keikhlasan yang ada pada sifat makhluk pada dua kondisi: Kondisi keyakinan dan niat satu pihak, dan kondisi tindakan dan amal di lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikhlas dalam sifat orang yang benar ada dalam keyakinan yang tidak dikaitkan pada benar kecuali dengan adanya keutamaan-keutamaan ikhlas dalam batinnya. Sementara ilmu-ilmu pengetahuan yang melimpah tetap ada di saat melakukan tindakan lewat fisik, serta upaya penjernihan tindakannya dari berbagai rintangan keikhlasan. Sampai ia dinamakan sebagai Mukhlish (orang yang ikhlas).</p>
<p style="text-align: justify;">Awal ikhlas adalah penyemataan kepada Allah Ta&#8217;ala dalam kehendak. Sedangkan berikutnya adalah membersihkan tindakan dari penyakit (ikhlas). Karena itu benar menurut manusia, ada perbedaannya dengan ikhlas. Benar menurut Allah swt. adalah benar yang disertai ikhlas. Kadang dikatakan, &#8216;Orang itu benar,&#8217; karena ia dipandang memiliki sifat pengetahuan dan ketekunannya terhadap pengetahuan. Tetapi tidak dikatakan, &#8216;Orang itu mukhlis,&#8217; karena pengetahuan terhadap keikhlasan seseorang itu tersembunyi dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar itu bisa disaksikan pada sifat orang yang benar. Sedangkan ikhlas tidak diketahui buktinya. Orang yang benar disifati melalui sifat-sifat orang yang membuktikannya, dikaitkan pada kejujuran melalui bukti-bukti lahiriahnya, disertai adanya keikhlasan dalam batinnya, dimana limpahan berbagai pengetahuan menetap ketika limpahan itu tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang benar menerima apa yang selaras pada makna tujuan pertamanya, dan menolak apa yang berbeda dengan pengetahuan lahirnya. Ikhlas mengungguli jujur/benar karena adanya tambahan ilmu disamping kekuatan menolak segala yang bertentangan, yang muncul dari lawan, disebabkan kejernihan kalbunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak satu pun yang mengungguli keikhlasan, sebab ikhlas itu sendiri tidak ada batasnya dalam ubudiyah, ditinjau dari posisi hamba di atas ikhlas. Tidak juga dikatakan, &#8216;Ikhlasnya orang yang ikhlas,&#8217; karena setelah ikhlas tak ada lagi pangkalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. telah berfirman, “Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kejujurannya.” Tetapi Allah tidak berfirman, “Agar Dia bertanya kepada orang-orang yang ikhlas tentang keikhlasannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab pangkal dari ikhlas itu menurut kemampuan ubudiyah mereka dalam menjalankan keikhlasan tersebut. Ikhlas berarti di atas benar/jujur. Dan benar itu berada di bawah ikhas.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar ada tiga kategori:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Orang yang benar dengan ucapannya; yaitu orang yang bicara benar sebagaimana adanya atau keluarnya dari rekayasa tafsiran dan pencampur-adukan bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Orang yang benar dalam tindakannya. Yaitu orang yang mencurahkan diri dengan cara mengeluarkan diri dari sikap peremehannya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Benar dengan hatinya. Yaitu hatinya menuju pada tindakannya.<br />
Bila seseorang memiliki predikat seperti ini, ia dikatakan jujur atau benar. Hanya saja benar itu ada dalam diri seorang yang benar dalam perilaku, yang sangat dibutuhkan dalam segala tingkah laku. Aku telah menafsirkan secara global pada awal tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar dalam bersikap wara&#8217;, melakukan zuhud, berzuhud, tawakkal, ridha, cinta, rindu, tauhid bagi ahli shalat, ada dalam sifat-sifat Murid dan Murad, ada pada orang yang berdzikir dan didzikirkan. Semua itu harus melahirkan adanya bukti dzahir yang membuktikan adanya sikap benar pada dirinya.<br />
Sedangkan arti ikhlas adalah menyematakan niat hanya bagi Allah swt. dan tujuan yang baik kepada-Nya, melalui kehadiran akal ketika mendapatkan limpahan pengetahuan, dan ketika mendapatkan penjelasan ragam perkaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu berkenaan dengan keselarasan yang pertama di dalam arti keabsahan tujuannya. Ia menolak yang bertentangan, berupa pelimpahan hawa nafsu dan lawan, yang disertai hilangnya penglihatan diri dengan adanya penglihatan anugerah, disertai kemuliaan yang elok di hadapan orang yang mencela.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab ia tahu adanya pengetahuan yang baik lewat anugerah; adanya sikap tidak senang di tempat-tempat pujian, karena takut rusaknya pengetahuan disebabkan pandangan orang lain, dalam berbagai kondisi yang dihadapi. Hal ini adalah ilmu yang bisa dilihat pembuktiannya di mata penyaksi, namun orang yang ikhlas tidak bisa disaksikan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar dan ikhlas secara seksama ada pada kondisi hati si mukhlis, dan sementara benar hanya pada orang yang benar, disertai adanya permulaan ikhlas.</p>
<p style="text-align: justify;">Pangkal sifat orang-orang yang dipredikati dengan ubudiyah dan upaya beribadatnya adalah keikhlasan itu sendiri. Sedangkan orang yang benar dalam hakikat kejujurannya dilimpahi oleh keikhlasan. Orang yang ikhlas dalam hakikat keikhlasannya dilimpahi kemampuan dan kecukupan, karena berlakunya mata hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang mempunyai mata hati dalam hakikat tindakan mata hatinya dilimpahi kewaspadaan dari segala faktor yang merusak. Kemudian muncul pelimpahan wewenang setelah itu. Maka akal dipaksa dan difana&#8217;kan dari perlawanan terhadap limpahan tak terduga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika wujud hakikat pelimpahan wewenang secara khusus, ia keluar dari ibadat kepada Allah yang dilakukan melalui jiwa, lantas masuk ke dalam ibadah kepada-Nya dengan ketunggalan. Hal demikian, diawali wujudnya oleh tauhid kalangan khusus, dengan musnahnya pandangan terhadap segala sesuatu, karena tegaknya pandangan kepada Al-Haq.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berlakulah berbagai kondisi ruhani dalam dirinya mengalir melalui sifat-sifatnya (karena kehendak penguasanya di dalamnya, melalui gugurnya sifat-sifatnya) dari sifat itu. Ketika hamba sampai pada kondisi itu, ia keluar dari sifat wujud sebagaimana dipersepsi akal.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah penghalang akal-akal penghalang ketika berada pada hakikat tauhid, yang kemudian menjadi penggoda yang harus ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab akal itu sendiri adalah citra hamba ketika hamba menegakkan ubudiyah dari segi si hamba. Ketika hakikat-hakikat naluri dari Allah Azza wa jalla tiba untuknya, si hamba hilang dalam ubudiyah tanpa sumber pertama. Maka hamba maujud dalam sifat, namun tiada muncul dari keinginan hati. Ketika itu hamba menjadi ada dalam tiada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/keikhlasan-dan-kejujuran.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
