Ridho

Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya.” (Q.s. Al Maidah: 119; Al Bayyinah: 8.)

Jabir r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Para penghuni surga akan berada di dalam sebuah majelis ketika suatu cahaya dari pintu gerbang surga menyinari mereka. Mereka akan mengangkat kepala dan Allah swt. akan memandang mereka dan berfirman, “Wahai penghuni surga, mintalah kepada Ku apa yang kalian menginginkan!” Mereka akan menjawab, ‘Kami mohon agar Engkau ridha kepada kami.’ Allah swt. menjawab, ‘Keridhaan Ku telah membawa kalian ke rumah Ku, dan Aku telah memberi kalian kemuliaan Ku. Ini adalah saat yang tepat, maka bermohonlah kepada Ku!’ Mereka menjawab, ‘Kami memohon tambahan selain ini’.”

Selanjutnya Rasul saw. bersabda, “Kemudian mereka akan dibawakan kendaraan istimewa dari mutu manikam, kendalinya dari zamrud hijau dan manikam merah. Mereka menaikinya, dan kendaraan itu akan melesat cepat melebihi kecepatan penglihatan mata. Lalu Allah swt.

memerintahkan buah-buahan yang lezat serta bidadari supaya dibawa kepada mereka, dan para bidadari itu akan berkata, ‘Kami adalah penghibur kenikmatan yang gemulai, dan kami tidak akan menjadi layu. Kami abadi dan tidak akan mati. Jodoh bagi kaum beriman yang mulia.’

Selanjutnya Allah akan memerintahkan agar didatangkan minyak misik putih yang harum semerbak, dan mereka akan berputar berkeliling dibawa angin yang disebut ‘al-Mutsirah’ sampai akhirnya mereka dibawa ke Surga ‘Adn, yang merupakan pusat surga. Para malaikat akan menyerukan, ‘Wahai Tuhan kami, mereka telah datang.’ Allah swt. berfirman, ‘Selamat datang orang-orang yang benar, selamat datang orang-orang yang taat’!”

Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Maka tabir pun akan disingkapkan bagi mereka. Mereka akan memandang kepada Allah swt, dan mereka akan menikmati Cahaya Yang Maha Pengasih hingga mereka tidak akan melihat satu sama lain. Kemudian Allah swt. memerintahkan, ‘Kembalikanlah mereka ke istana-Istana mereka dengan hadiah’!”

Rasulullah saw. melanjutkan, “Mereka akan dibawa kembali ke tempat tinggal mereka dan akan dapat saling pandang lagi.” Lalu Rasulullah saw. menjelaskan, “Itulah yang dimaksud dengan firman Allah swt, ‘Sebagai hadiah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.s. Fushshilat: 32).” (H.r. Ibnu an Najjar dan al Bazzar).

Ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat mengenai ridha. Apakah ia termasuk keadaan ruhani (ahwaal) ataukah maqam? Ulama Khurasan mengatakan, “Ridha adalah salah satu maqam, sebagai puncak dari tawakkal kepada Allah swt. Ini berarti bahwa ridha dapat dicapai oleh si hamba dengan upayanya sendiri.”

Sedang ulama Iraq mengatakan, “Ridha adalah salah satu ahwal, bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya si hamba. Ridha adalah sesuatu yang memasuki hati, seperti halnya haal-haal yang lain.”

Sebuah kompromi antara dua pandangan ini dapat diajukan, dengan pernyataan demikian, ‘Awal ridha adalah sesuatu yang dicapai oleh si hamba dan merupakan maqam, meskipun pada akhirnya ridha merupakan kondisi ruhani (haal) dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya.”

Banyak orang berbicara tentang ridha, masing masing mengungkapkan keadaan dan konsumsi ruhaninya. Maka ungkapan pendapat mereka berbeda-beda, sebagaimana berbedanya pengalaman meneguk ruhani dan bagian masing-masing.

Sementara syarat ilmu, maka menjadi keharusan. Orang yang ridha dengan Allah swt. adalah orang yang sama sekali tidak menentang takdir Nya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, ridha hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan qadha Allah swt.”

Ketahuilah, kewajiban bagi hamba adalah rela terhadap ketentuan Allah swt. yang telah diperintahkan agar ia ridha dengannya. Sebab tidaklah setiap ketentuan itu mengharuskan ia ridha, atau boleh ridha dengan qadha tersebut, misalnya kemaksiatan dan banyaknya fitnah yang menimpa kaum Muslimin.
Para syeikh berkomentar, “Keridhaan adalah gerbang Allah swt. yang terbesar.” Maksud mereka adalah, bahwa barangsiapa mendapat kehormatan dengan ridha, berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi.”
Abdul Wahid bin Zaid menjelaskan, “Keridhaan adalah gerbang Allah yang teragung dan surga dunia.”

Ketahuilah bahwa si hamba tidak akan mendekati derajat ridha kecuali Allah swt. ridha terhadapnya, sebab Allah swt. telah berfirman, “Allah rldha kepada mereka, dan mereka pun rela kepada Nya.” (Q.s. Al Maidah: 119).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Seorang murid bertanya kepada gurunya, Apakah si hamba mengetahui jika Allah ridha kepadanya?’ Sang guru menjawab, ‘Tidak, bagaimana dapat mengetahuinya, sedang ridha-Nya gaib?’

Si murid berkata, ‘Sungguh ia tahu hal itu! jika aku mendapati hatiku ridha kepada Allah swt, maka aku tahu bahwa Dia ridha kepadaku.’ Maka sang guru lalu berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda’. ”
Ketika Musa as. berdoa, “Ilahi, bimbinglah aku kepada amal yang mendatangkan keridhaan Mu.” Allah swt. menjawab, “Engkau tidak akan mampu melakukannya.” Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah swt. lalu mewahyukan kepadanya, “Wahai putra Imran, keridhaan Ku ada pada keridhaanmu menerima ketetapan Ku.”

Abu Abdurrahman ad-Darany mengatakan, “Jika si hamba membebaskan dirinya dari ingatan terhadap hawa nafsu, maka ia akan mencapai ridha.”
An-Nashr Abadzy menegaskan, “Barangsiapa ingin mencapai derajat kerelaan, hendaklah berpegang teguh apa apa yang padanya Allah telah menempatkan keridhaan-Nya.”

Abu Abdullah bin Khafif menjelaskan, “Ada dua macam ridha: Ridha dengan Allah swt. dan ridha terhadap apa yang datang dari-Nya. Ridha dengan Allah swt, berarti bahwa si hamba rela terhadap-Nya sebagai Pengatur. Dan ridha terhadap apa yang datang dari Nya berkaltan dengan apa yang telah ditetapkan Nya.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Jalan sang pengembara ruhani (salikin) itu lebih panjang, dan itulah jalan olah ruhani, jalan kaum terpilih (khawash) lebih singkat, tapi lebih sulit dan menuntut agar engkau bertindak sesuai dengan keridhaan dan juga ridha dengan takdir.”

Ruwaym mengatakan, “Keridhaan adalah jika Allah meletakkan neraka jahanam di tangan kanannya, maka ia tidak akan meminta agar Dia memindahkannya ke tangan kirinya.”
Abu Bakr bin Thahir berkomentar, “Keridhaan adalah menghilangkan kesedihan dari hati hingga tidak sesuatu pun yang tinggal selain kebahagiaan dan kegembiraan.”

Al-Wasithy mengajarkan, “Manfaatkanlah keridhaan sebesar-besarnya, dan jangan biarkan ia memanfaatkan dirimu, agar kemanisan dan wawasannya tidak menabirimu dari kebenaran batin yang menyangkut penglihatanmu.”

Ketahuilah bahwa kata-kata al-Wasithy tersebut sangat penting. Di dalamnya terdapat peringatan yang tersirat bagi ummat sebab ridha terhadap keadaan ruhani belaka merupakan tabir yang menabiri Si Pemberi derajat keadaan ruhani.

Jika seseorang menemukan kesenangan dalam ridha dan mengalami nikmatnya ridha dalam hatinya, maka ia telah tertabiri oleh keadaannya sendiri dari musyahadah kebenaran batin. Al-Wasithy juga mengingatkan, “Waspadalah terhadap perasaan nikmat karena amal ibadat, sebab itu adalah racun yang membawa maut. “

Ibnu Khafif berkata, “Ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Allah swt. dan keserasian hati dengan apa yang menjadikan Allah swt. ridha dan dengan apa yang dipilih Nya.” Ketika Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, “Bilakah seorang hamba dipandang ridha?” Ia menjawab, ‘Apabila baginya penderitaan sama menggembirakannya dengan anugerah nikmat.”

Diceritakan bahwa asy-Syibly menegaskan di hadapan al-junayd, “Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah, (laa haula wa laa quwwata illa billaah),” dan al-Junayd mengatakan kepadanya, “Ucapanmu itu merupakan ungkapan dada yang sempit, dan dada sempit (sedih) karena meninggalkan ridha pada ketentuan Nya.” Asy-Sylbly lalu terdiam.

Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, “Ridha adalah jika engkau tidak meminta surga kepada Allah swt. atau berlindung kepada Nya dari neraka.”

Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, ‘Ada tiga tanda ridha, tidak punya pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), tidak merasakan kepahitan setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta di tengah tengah cobaan.”

Dikatakan kepada al-Husain putra Ali bin Abu Thalib ra, “Abu Dzar mengatakan, ‘Kemiskinan lebih kucintai daripada kekayaan, dan sakit lebih kucintai daripada kesehatan.’ Al-Husain menjawab, ‘Semoga Allah mengasihani Abu Dzar. Kalau aku sendiri, berpendapat, ‘Orang yang menaruh pilihan baik Allah swt. baginya, tidak akan berkeinginan selain dari apa yang telah dipilihkan Allah swt. baginya’.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan kepada Bisyr al-Hafi, “Ridha adalah lebih baik daripada hidup zuhud di dunia ini, sebab orang yang rela tidak pernah berkeinginan akan sesuatu di luar keadaannya.”

Ketika Abu Utsman ditanya tentang sabda Nabi saw, ‘Aku memohon kepada Mu ridha setelah diputuskannya ketetapan-Mu. ” Dijelaskannya, “Ini karena ridha sebelum diputuskannya ketetapan Allah, berarti adanya niat kuat untuk ridha, tetapi ridha setelah diputuskannya ketetapan adalah ridha itu sendiri.”

Abu Sulaiman berkata, “Seandainya aku ingin mengetahui sebagian kecil saja tentang ridha. Sekalipun itu akan menyebabkan aku masuk ke neraka, aku akan menjadi orang yang ridha.”

Abu Umar ad-Dimasyqi mengatakan, “Ridha adalah hilangnya kesedihan terhadap perintah yang mana pun.”

Al-Junayd berkata, “Ridha berarti meniadakan pilihan.”
Ibnu Atha’ menegaskan, “Ridha adalah mengarahkan perhatian hati pada berlalunya qadha bagi si hamba, yaitu meninggalkan ketidak senangan terhadapnya.” Ruwaym berkata, “Ridha, tenangnya hati dalam menjalani ketetapan (Allah).”

An-Nury mengatakan, “Ridha adalah senangnya hati atas pahitnya nasib.”
AI-Jurairy mengatakan, “Barangsiapa ridha tanpa batas, Allah swt. akan mengangkat derajaatnya di luar batas.”

Abu Turab an-Nakhsyaby menjelaskan, “Siapa pun tidak akan pernah mendapatkan ridha manakala dalam hatinya ada seberat biji sawi dunia.”
Diriwayatkan oleh al-Abbas bin Abdul Muthallb, bahwa Rasulullah saw. menjelaskan, “Orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, akan merasakan nikmatnya iman.” (H.r. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).

Diceritakan bahwa Umar bin Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al Asy’ary, “Amma ba’du… Bahwa segala kebaikan terletak didalam keridhaan. Maka jika engkau mampu jadilah orang yang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.”

Dalam sebuah kisah disebutkan, bahwa Utbah al-Ghulam biasa menghabiskan malam malamnya hingga pagi dengan berucap, “jika Engkau menghukumku, aku akan mencintai Mu, dan jika Engkau mengasihi aku, aku pun tetap mencintai Mu.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Manusia dibuat dari lempung, dan lempung itu tiada bernilai untuk menentang keputusan Allah swt.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Seorang laki-laki marah kepada salah seorang budaknya, maka si budak lalu minta bantuan seorang laki-laki lainnya untuk menjadi penengah.

Ketika tuannya telah memaafkannya, si budak lalu menangis, dan si penengah bertanya, ‘Mengapa engkau menangis, sedangkan tuanmu telah memaafkanmu?’ Si tuan berkata kepadanya, ia menginginkan ridhaku, dan tidak ada jalan lagi baginya untuk memperolehnya. Karena itu ia menangis ‘. “

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Best Verizon Cell Phone Deals and Plans | Thanks to CD Rates, Reverse Phone Lookup and Registry Software