<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Surau Baitul Amin-6 Bekasi</title>
	<atom:link href="http://www.baitulamin6.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.baitulamin6.org</link>
	<description>Dibawah naungan Yayasan Prof.Dr.H.SS.Kadirun Yahya .MSc</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Apr 2010 13:43:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lapar dan Meninggalkan Syahwat</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Lapar dan Meninggalkan Syahwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada kepada orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 155).
Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan mereka memprioritaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada kepada orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 155).</p>
<p style="text-align: justify;">Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).&#8221; (Q.s. AI Hasyr: 9).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a.&#8221; memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw, beliau bertanya, &#8220;Apa ini, wahai Fatimah?&#8221; Fatimah menjawab, &#8220;Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.&#8221;</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menjawab, &#8220;Ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini.&#8221; (Hadis ini diriwayatkan oleh al Harits bin Abu Usamah dalam Musnad nya, melalui sanad yang dha&#8217;if, namun memiliki bukti kebajikan sanad dalam maknanya)</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat kaum Sufi dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh suluk selangkah demi selangkah maju membiasakan berlapar lapar menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal ini cukup banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Salim berkata, &#8220;Etika berlapar diri adalah bahwa seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya, kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit).&#8221; Dikatakan bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas hari. Manakala bulan Ramadhan tiba, ia bahkan tidak makan sampai melihat bulan baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tiap kali berbuka hanya minum air putih saja.  Yahya bin Mu&#8217;adz menjelaskan, &#8220;Seandainya orang dapat membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah berkomentar, &#8220;Ketika Allah swt. menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan minum, dan menempatkan kebijaksanaan dalam lapar.&#8221;<br />
Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Lapar bagi para penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadhah), sebuah cobaan bagi orang-orang yang bertobat, dan siasat bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli ma&#8217;rifat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, &#8220;Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang syeikh menangis, ia bertanya, &#8220;Mengapa Anda menangis?&#8221; Sang syeikh menjawab, &#8220;Aku lapar.&#8221; Ia mencela, &#8220;Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?&#8221; Sang syeikh balas mencela, &#8220;Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis&#8221;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dawud bin Mu&#8217;adz mengisahkan, bahwasanya Mukhallid mengabarkan, &#8216;Al Hajjaj bin Furafishah sedang berada bersama kami di Syam, dan selama limapuluh malam ia tidak minum air ataupun mengisi perut dengan sesuap makanan pun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah Ahmad bin Yahya al-Jalla&#8217; berkata, &#8220;Abu Turab an-Nakhsyaby datang mengarungi padang pasir Bashrah ke Mekkah &#8211; semoga Allah melindungi kota ini &#8211; dan kami bertanya kepadanya tentang makanannya. Ia menjawab, &#8216;Aku meninggalkan Bashrah, makan di Nibaj dan kemudian di Dzat Araq. Dan dari Dzat Araq aku datang kepada kalian.&#8217; Jadi, ia menyeberangi padang itu dengan hanya makan sebanyak dua kali.&#8221;<br />
Setiap kali Sahl bin Abdullah lapar, ia tegar, dan setiap kali makan ia menjadi lemah.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman al-Maghriby berkata, &#8220;Orang yang mengabdi kepada Tuhan (rabbany) hanya makan setiap empatpuluh hari, dan orang yang mengabdi kepada Yang Abadi (shamadany) hanya makan setiap delapanpuluh hari.&#8221;<br />
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan, &#8220;Kunci dunia ini adalah mengisi perut, dan kunci akhirat adalah lapar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah ditanya, &#8220;Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang makan sekali sehari?&#8221; Dijawabnya, &#8220;Itulah makan orang beriman.&#8221; &#8220;Bagaimana dengan yang makan tiga kali sehari?&#8221; Ia mencela, &#8220;Suruh saja orang membuat gentong makanan untukmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz berkomentar, &#8220;Lapar adalah pelita, dan kenyang adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api yang berkobar, dan tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy menuturkan, &#8220;Seorang laki laki dari kaum Sufi datang menemui seorang syeikh dan menyuguhkan sedikit makanan. Lalu ia bertanya, &#8216;Sudah berapa lama Anda tidak makan?&#8217; Sang syeikh menjawab, &#8216;Lima hari.&#8217; Si Sufi berkata, &#8216;Lapar Anda adalah lapar orang bakhil. Anda memakai pakaian (bagus) sementara Anda lapar. Itu bukanlah lapar orang fakir&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan, &#8220;Bahwa meninggalkan sepotong daging di waktu makan malam lebih kusukai daripada berdiri melakukan shalat sepanjang malam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Abul Qasim ja&#8217;far bin Ahmad ar-Razy, &#8220;Beberapa hari Abul Khayr al &#8216;Asqalany ingin sekali mengonsumsi ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ke tangannya melalui jalan yang halal. Tetapi ketika tangannya meraih ikan itu untuk dimakannya, lalu ia berkata, &#8216;Ya Allah, jika hal ini menimpa orang yang mengulurkan tangannya karena ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi kepada orang yang mengulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Rustam asy-Syirazy as-Shufy menuturkan, &#8220;Abu Abdullah bin Khafif sedang menghadiri jamuan makan, tiba-tiba salah seorang muridnya bermaksud mengambil makanan mendahului sang syeikh karena laparnya. Salah seorang murid syeikh, yang ingin menegur atas ketidak sopanannya itu, menempatkan sedikit makanan di hadapan si fakir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyadari bahwa dirinya dicela karena kurang beradab, si fakir itu lalu tidak mau makan selama limabelas hari sebagai hukuman dan pendisiplinan jiwanya, serta sebagai tanda tobat atas ketidak-sopanannya itu, padahal selama ini ia telah menderita kelaparan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Malik bin Dinar berkata, &#8220;Barangsiapa telah mengalahkan syahwat dunia, maka itulah tindakan yang dapat memisahkan setan dari lindungannya.&#8221;<br />
Abu Ali ar-Rudzbary mengajarkan, &#8220;Jika seorang Sufi setelah lima hari tidak makan, mengatakan, &#8216;Aku lapar,&#8217; maka kirimlah ia ke pasar agar mendapatkan pekerjaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan ucapan seorang syeikh, bahwa penghuni neraka telah dikalahkan oleh syahwatnya atas kewaspadaan mereka, hingga mereka tercela. Beliau juga berkata, &#8220;Seseorang bertanya kepada salah seorang syeikh, Apakah Anda tidak menginginkan sesuatu?&#8217; Sang syeikh menjawab, ‘Aku menginginkannya, akan tetapi aku menahan diri&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh yang lain ditanya, &#8220;Adakah sesuatu yang tuan inginkan?&#8221; Jawabnya, &#8216;Aku menginginkan untuk tidak ingin lagi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr at-Tammar mengabarkan, &#8220;Pada suatu malam Bisyr datang kepadaku, dan aku berkata, &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah membawamu ke sini, Sejumlah kapas dari Khurasan telah sampai kepada kami; budak wanita telah menenunnya, menjualnya dan membeli sedikit daging untuk kita. Engkau bisa berbuka puasa dengan kami.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, &#8216;Jika aku mesti makan dengan seseorang, aku akan memilih makan denganmu.&#8217; Lalu ia menjelaskan, &#8216;Telah bertahun tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya.&#8217; Lalu aku menjawabnya, &#8216;Ada terung yang halal dalam makanan ini.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Bahkan sampai bersih dari bijinya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Abu Ahmad ash Shagir berkata, &#8220;Abu Abdullah bin Khafif menyuruhku menyuguhinya sepuluh butir kismis untuk buka puasanya setiap malam. Suatu malam aku merasa kasihan kepadanya, dan kusuguhkan limabelas butir kismis. Ia memandangku dan bertanya, &#8216;Siapa yang menyuruhmu (memberi limabelas kismis?)&#8217; Lalu dimakannya sepuluh butir dan membiarkan sisanya. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Turab an-Nakhsyaby berkomentar, &#8220;Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja: Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata, &#8216;Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu orang orang di situ memukuliku tujuhpuluh kali. Seorang laki laki di antara mereka mengenaliku dan menyela, &#8216;Ini adalah Abu Turab an Nakhsyaby!&#8217; Mendengar itu, mereka cepat-cepat meminta maaf kepadaku, dan laki laki itu lalu membawaku ke rumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri, &#8216;Makanlah, setelah tujuhpuluh kali pukulan&#8217;!&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khusyu dan Tawadhu</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 13:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Khusyu dan Tawadhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman Allah:
&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu&#8217; dalam shalatnya”.(Q.s. Al Mu&#8217;minun: 1 2)
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman Allah:<br />
&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu&#8217; dalam shalatnya”.(Q.s. Al Mu&#8217;minun: 1 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji sawi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berpakaian bagus;&#8221;&#8216; Beliau menjawab, &#8220;Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong adalah berpaling dari AI Haq dan mencemooh manusia.&#8221; (H.r. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik mengabarkan, &#8220;Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan budak-budak. Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bani Nadhir, Rasul mengendarai seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula. &#8220;</p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Khusyu&#8217; adalah berkait kepada Allah swt, dan tawadhu&#8217; adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Hudzaifah berkata, &#8220;Khusyu&#8217; adalah hal yang pertama tama hilang dari agamamu.&#8221; Ketika salah scorang Sufi ditanya tentang khusyu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Khusyu&#8217; adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah menegaskan, &#8220;Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu&#8217;.&#8221; Dikatakan, &#8220;Di antara tanda tanda kekhusyu&#8217;an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia semua itu diterimanya.&#8221;<br />
Salah seorang Sufi berkomentar, &#8220;Kekhusyu&#8217;an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Ali at Tirmidzy menjelaskan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah begini: jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, sementara cahaya keagungan menyinari hatinya, sehingga syahwatnya mati, dan hatinya hidup khusyu&#8217;lah semua anggota badannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Hasan al Bashry berkata, &#8220;Khusyu&#8217; adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati.&#8221; Ketika al junayd ditanya tentang khusyu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Khusyu&#8217; adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban.&#8221;<br />
Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hamba hamba Ar Rahman yaitu orang orang yang berjalan di muka bumi dengan sikap rendah hati.&#8221; (Q.s. Al Furqan: 63).<br />
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, bahwa makna ayat ini adalah hamba hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.<br />
Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu&#8217; adalah di dalam hati. Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya, &#8220;Wahai sahabat, khusyu&#8217; itu di sini,&#8221; sambil menunjuk ke dadanya, bukan di sini,&#8221; sambil menunjuk bahunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda:<br />
&#8220;Jika hatinya khusyu&#8217;, niscaya anggota badannya juga akan khusyu&#8217;.&#8221; (H.r. Tirmidzi).<br />
Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.<br />
Syeikh ad-Daqqaq berkata, &#8220;Khusyu&#8217; mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt.&#8221; Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Khusyu&#8217; adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat.&#8221;<br />
Khusyu&#8217; adalah mukadimah bagi luapan anugerah.<br />
Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tiba-tiba.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;Iyadh menegaskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu&#8217; daripada batinnya.<br />
Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Seandainyanya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku seridiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tidak akan menghormatinya pula.&#8221;<br />
Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.<br />
Mujahid berkata, &#8220;Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu, Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.&#8221;<br />
Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri, &#8220;Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.&#8221; Tapi Umar menjawab, &#8220;Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!&#8221; Maka si tamu lalu berkata, &#8220;Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.&#8221; Umar menolak, &#8220;Jangan, ia baru saja pergi tidur!&#8221; Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu. berseru, &#8220;Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?&#8221; Umar berkata kepadanya, &#8220;Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagal Umar pula.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sa&#8217;id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tidak pernah merasa malu membawa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa tertawa, sedih tapi tidak cemberut; rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;lyadh berkata, &#8220;Para ulama dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong.&#8221; Ia juga berkomentar, &#8220;Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu&#8217; sama sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu&#8217;, ia mengajarkan, &#8220;Pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapa pun yang mengatakannya.&#8221;<br />
Ketika al junayd ditanya tentang tawadhu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Wahb berkata, &#8220;Telah tertulis dalam salah satu kitab suci, &#8216;Sesungguhnya Aku (Allah) mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu&#8217; daripada hati Musa as. Maka Kupilih ia dan Aku berbicara langsung dengannya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mubarak mengatakan, &#8220;Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu&#8217;.&#8221;<br />
Abu Yazid ditanya, &#8220;Bisakah seseorang mencapai sifat tawadhu&#8217;?. Dijawabnya, &#8220;jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah anugerah Allah yang tidak pernah iri dengki orang, dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu&#8217;, dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Syaiban menegaskan, &#8220;Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu&#8217;, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qana&#8217;ah.&#8221;<br />
Abu Sa&#8217;id al Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata, &#8216;Ada lima macam manusia termulia di dunia: Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yang rendah hati, scorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti Sunnah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz menegaskan, &#8220;Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin.&#8221;<br />
Ibnu Atha&#8217; berkomentar: &#8220;Tawadhu&#8217; adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendarai kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya, &#8220;Jangan, wahai anak paman Rasulullah!&#8221; Ibnu Abbas berkata, &#8220;Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami.&#8221; Maka Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya, sambil berkata, &#8220;Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Urwah bin az-Zubair menuturkan, &#8220;Ketika aku melihat Ummar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya, &#8216;Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda.&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasaan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya.&#8221; Beliau terus memikul air itu dan membawanya ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisikannya ke dalam gentong milik wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy mengabarkan, &#8220;Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak teriak, &#8216;Beri jalan untuk amir&#8217;!&#8221;<br />
Abdullah ar-Razy menjelaskan, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah tidak membedabedakan dalam memberikan pelayanan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat.&#8221;<br />
Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Keangkuhan terhadap orang yang bersikap sombong terhadapmu dikarenakan kekayaannya, adalah sikap tawadhu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang laki-laki datang kepada asy-Syibly dan bertanyalah kepadanya, &#8220;Siapakah engkau?&#8221; ia menjawab, &#8220;Wahai tuanku, sebuah titik di bawah ba.&#8221; Lalu laki laki itu berkata, &#8220;Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau menganggap rendah kedudukan dirimu sendiri.&#8221;<br />
Ibnu Abbas r.a. mengatakan, &#8220;Salah satu bagian tawadhu&#8217; adalah bahwa orang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya.&#8221;<br />
Bisyr mengajarkan, &#8220;Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syu&#8217;alb bin Harb menuturkan, &#8220;Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka&#8217;bah, seorang buruh laki laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin &#8216;Iyadh, yang berkata, &#8220;WahaiAbu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8216;Aku melihat seorang laki laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka&#8217;bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang orang yang menyanjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf, selang beberapa waktu setelah itu aku melihat ia meminta minta kepada orang orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran, ia lalu berkata kepadaku, Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia mestinya merendahkan diri, maka Allah swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya, &#8216;Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham, jika surat ini telah sampai ke tanganmu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, &#8216;Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar, &#8220;Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang berkhutbah, ku taksir-taksir pakaian yang dikenakannya berharga sekitar duabelas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar, surban, celana, sepasang sandal, dan selendang.&#8221;<br />
Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi&#8217; berjalan dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya, &#8220;Tahukah kamu dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tigaratus dirham. Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang sepertinya di kalangan kaum Muslimin. Lantas, dengan orangtua yang semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?&#8221;<br />
Hamdun al-Qashshar berkata, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah engkau tidak memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal agama.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Abu Dzar dan Bilal -semoga Allah meridhai mereka berdua- sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw, yang lalu bersabda, &#8220;Wahai &#8216;Abu Dzar, sungguh masih ada sifat jahiliyah dalam hatimu!&#8221; Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia tidak bangunbangun sampai Bilal melakukan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian, dan berkata, &#8216;Aku berhutang budi kepada mereka sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku memperoleh keuntungan lebih dari itu.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dzikir</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 14:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.&#8221; (Q.s. Al Ahzab: 41).
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
&#8220;Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.&#8221; (Q.s. Al Ahzab: 41).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:<br />
&#8220;Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Apakah itu, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Dzikir kepada Allah swt.&#8221; (H.r. Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Anas bin Malik na, bahwa Rasulullah saw. &#8216;bersabda:<br />
&#8220;Hari Kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap &#8216;Allah, Allah&#8217;.&#8221; (H.r. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas r.a. juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,<br />
&#8220;Kiamat tidak akan datang sampai lafazh &#8216;Allah, Allah&#8217; tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.&#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua macam dzikir; Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, &#8220;Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan dijalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelalaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cambuk itu patah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian, ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju kepada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al-Wasithy ditanya tentang dzikir, menjelaskan, &#8220;Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nun al-Mishry menegaskan, &#8220;Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman ditanya, &#8220;Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah swt, tapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?&#8221; Abu Utsman menasihatkan, &#8220;Memujilah kepada Allah swt. karena telah menghiasi anggota badanmu. dengan ketaatan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah hadis yang masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan: “&#8217;Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.&#8221; Ditanyakan kepada bellau, &#8220;Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan dzikir kepada Allah.&#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir bin Abdullah menceritakan, &#8220;Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda:<br />
&#8220;Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman surga!&#8221; Kami bertanya, &#8220;Apakah taman surga itu?&#8217; Beliau menjawab, &#8220;Majelis orang melakukan dzikir.&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Berjalanlah dipagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkan-Nya dalam dirinya.” (H.r. Tirmidzi, juga riwayat darl Abu Hurairah).</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syibly berkata, &#8220;Bukankah Allah swt. telah berfirman, &#8216;Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku&#8217;. &#8220;Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt.?&#8221; Lalu ia bersyair berikut: Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat; Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta, Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar, ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku, Kusaksikan Diri-Mu di mana saja, Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan, Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintah untuk berdzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadat termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu. Dzikir dalam hati bersifat terus-menerus, dalam kondisi apa pun. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaitu orang orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).&#8221; (Q.s. Ali Imran: 191).</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan, &#8220;Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari sikap berpura-pura dalam dzikir.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, &#8220;Manakah yang lebih baik, dzikir ataukah tafakur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?&#8221; Beliau berkata, &#8220;Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apa pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.&#8221; Maka Syeikh Abu Ali setuju dengan pendapat yang bagus ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad al-Kattany berkata, &#8220;Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan syair:<br />
Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu<br />
melainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.<br />
Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,<br />
&#8216;Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya: &#8220;Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 152).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah hadis menyebutkan bahwa Jibril as. mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwasanya Allah swt. telah berfirman, &#8220;Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.&#8221; Nabi saw. bertanya kepada Jibril, &#8220;Apakah pemberian itu?&#8221; Jibril menjawab, &#8220;Pemberian itu adalah firman-Nya, &#8216;Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan akan berdzikir kepadarnu.&#8217; Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Malaikat maut minta izin dengan orang yang berdzikir sebelum mencabut nyawanya.&#8221; Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. bertanya, &#8220;Wahai Tuhanku, di mana Engkau tinggal?&#8221; Allah swt. berfirman, &#8220;Dalam hati manusia yang beriman.&#8221; Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk &#8220;tinggal&#8221; dan penempatan. &#8220;Tinggal&#8221; yang disebutkan di sini hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Dzun-Nun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan, &#8220;Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia membacakan syair:<br />
Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karena<br />
aku telah melupakan-Mu;<br />
Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, &#8216;Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terkadang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya, &#8216;Mengapa engkau berhenti?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Sahabatku telah kendor dzikirnya&#8217;. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur&#8217;an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad al-Aswad menuturkan, &#8220;Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk, begitupun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular itu pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, lalu berkata, &#8216;Dzikirlah kepada Allah!&#8217; Aku pun berdzikir, dan ular-ular itu akhirnya pergi menjauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi. Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya. Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada Syeikh, Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?&#8217; Beliau menjawab, &#8220;Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.&#8221;  As-Sary menegaskan, &#8220;Tertulis dalam salah satu kitab suci, &#8216;Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya&#8217;.&#8221; Dikatakan pula, &#8220;Allah mewahyukan kepada Daud as, &#8216;Bergembiralah dengan-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ats-Tsaury mengatakan, &#8220;Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma&#8217;rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.&#8221;<br />
Tertulis dalam Injil, &#8220;Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah. Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan menggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya, Apa yang telah terjadi atas dirinya?&#8217; Salah seorang dari mereka akan menjawab, &#8216;Seorang manusia telah menyentuhnya&#8217;.&#8221; Sahl berkata, &#8220;Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk dari lupa kepada Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi menuturkan, &#8220;Aku mendengar cerita tentang seorang, laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas menggigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketika ia siuman, aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku, Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan menggigitku sebagaimana yang engkau saksikan&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah Al-jurairy mengabarkan, &#8220;Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzlkir dengan mengucap &#8216;Allah, Allah.&#8217; Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah membentuk kata-kata &#8216;Allah, Allah&#8217;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIAM ( Diam yang bagaimana? )</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 14:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[DIAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim Al-Qusyairy
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari Musliln dan Abu Dawud).
Dari Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">dari : Syeikh Abul Qasim Al-Qusyairy</span></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari Musliln dan Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Umamah, bahwasanya &#8216;Uqbah bin Amir bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa dosamu. &#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh ad-Daqqaq berkata, &#8220;Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan; penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara&#8217;, perintah-perintah dan larangan larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Diam pada waktu yang tepat adalah termasuk sifat para tokoh. Begitupun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.&#8221;</p>
<p><span id="more-110"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran adalah setan yang bisu.&#8221; Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman, &#8220;Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.&#8221; (Q.s. AI Nraf. 204).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin dengan Rasul saw. Firman Nya, &#8220;&#8230; maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, &#8216;Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)&#8217;.&#8221; (Q.s. Al Ahqaf 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, &#8220;&#8230; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.&#8221; (Q.s. Thaaha: 108).</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita berpisah,<br />
Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba,<br />
Tiba tiba kulupakan ketika kita berjumpa,<br />
Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata kata hampa.<br />
Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini:<br />
Betapa banyak kata-kata yang ingin kucurahkan padamu,<br />
Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,<br />
Segalanya jadi kelu.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga baris berikut ini:<br />
Kulihat bicara menghiasi oranq muda,<br />
Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang.<br />
Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut,<br />
Dan betapa banyak pembicara yang berangan<br />
Seandainya ia bisa diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua jenis diam: Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang &#8216;arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus perbuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu? &#8216;Para Rasul menjawab, &#8220;Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). &#8220;&#8216; (Q.s. Al Maidah: 109).</p>
<p style="text-align: justify;">Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu berbicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Dawud ath-Tha&#8217;y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia memutuskan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah seorang muridnya. la duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenaan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber&#8217;uzlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisyr ibnul Harits mengajarkan, “Apabila berbicara menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda, berbicaralah.&#8221; Sahl bin Abdullah menegaskan, &#8220;Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr al-Farisy mengatakan, &#8220;Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan.&#8221;<br />
Salah seorang Sufi berkata, &#8220;Orang yang tidak menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol.&#8221; Mumsyad ad-Dinawary berkata, &#8220;Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kekita Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya, &#8220;Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan masa depan.&#8221; Dikatakannya pula, &#8220;Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mu&#8217;adz bin Jabal r.a. berkata, &#8220;Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat Nya.&#8221; Dzun Nuun al-Mishry ditanya, &#8220;Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?&#8221; Dijawab Dzun Nuun, &#8220;Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya. &#8221; Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama lama lebih dari lidah.&#8221; Ali bin Bukkar mencatat, &#8220;Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Konon Abu Bakr ash Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara. Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya, &#8220;Engkau berbicara, dan bicaramu sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiarn, sehingga engkau menjadi bagus!&#8221; Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat menjemputnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Manakala asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan, &#8220;Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa apa).&#8221; (Q.s. An Naml: 85). Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnus Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu&#8217;adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, menjawab, &#8220;Sudah sepatutnya begini.&#8221; Orang orang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majells Yahya dan duduk di pojok di manaYahya tidak akan dapat melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan, &#8216;Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku,&#8221; dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, &#8220;Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu. Sehingga Allah swt. menjaganya terhadap pendengar yang bukan kompetennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para syeikh yang ahli mengenal tharikat ini telah menjelaskan, &#8220;Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, &#8220;Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku, &#8216;Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang ahli hikmah berkata, &#8220;Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata, &#8220;Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu. &#8221; Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.:<br />
&#8220;Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.&#8221; (Q.s. Al Hujurat: 12).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah scorang Sufi berkata, &#8220;Diam adalah bahasa ketabahan.&#8221;<br />
Sebagian mereka mengatakan, &#8220;Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam rnenguatkanmu.&#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Menjaga lisan adalah lewat diamnya.&#8221; Ada yang mengatakan, &#8220;Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu ikat akan menyerangmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hafs ditanya, &#8220;Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali, diam atau berbicara?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Jika si pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. agar dapat berbicara (agar bisa menunjukan kebaikan).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Diam bagi kaum awam dengan lidahnya, diam bagi kaum yang ma&#8217;rifat kepada Allah swt. dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian sufi mengisahkan, &#8216;Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapanku kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tigapuluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali dari ucapanku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8220;jika lidah Anda didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan Jika Anda berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang &#8216;arif berdiam diri, ia akan berkuasa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Fudhail bin &#8216;Iyadh berkata, &#8220;Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dengki</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 14:17:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk Nya,&#8221; kemudian Dia berfirman, &#8220;Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;. (Q.s. AI Falaq: 1, 2 dan 5).
Di sini Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyebutkan kata dengki. Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk Nya,&#8221; kemudian Dia berfirman, &#8220;Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;. (Q.s. AI Falaq: 1, 2 dan 5).</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyebutkan kata dengki. Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis Inenolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.&#8221; (H.r. Ibnu Asakir).</p>
<p><span id="more-108"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8220;Orang yang dengki adalah orang yang tidak beriman, sebab ia tidak merasa puas dengan takdir Allah Yang Maha Esa.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang Yang denki tidak berjaya.&#8221;<br />
Disebutkan dalam firman Allah swt,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.&#8221; (Q.s. AI A&#8217;raf : 33).<br />
Dalam beberapa kitab tertulis bahwa, &#8220;Orang yang dengki adalah musuh nikmat-Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Pengaruh dengki tampak padamu sebelum ia tampak pada musuhmu.&#8221; Al Asmu&#8217;i menuturkan, &#8220;Aku melihat seorang Badui yang berumur seratus duapuluh tahun, dan aku berkata, &#8216;Alangkah panjangnya umur Anda.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Aku telah meninggalkan dengki, hingga umurku panjang&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mubarak mengatakan, &#8220;Segala puji bagi Allah, yang tidak menempatkan dengki dalam hati pernimpinku sebagaimana yang telah ditempatkan Nya dalam hati pendengkiku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu hadist dikatakan, &#8220;Ada seorang malaikat di langit kelima yang amal perbuatan seorang manusia melaluinya, dan ia bersinar kemilau seperti matahari. Malaikat itu memerintahkan, &#8216;Berhentilah, karena aku adalah malaikat dengki. Pukullah pelaku dengki pada mukanya, sebab ia adalah seorang pendengki.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan berkata, &#8216;Aku mampu menyenangkan semua orang kecuali pendengki. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa pun selain berhentinya kenikmatan bagi semua orang.&#8221; Dikatakan, &#8220;Seorang pendengki adalah seorang yang paling zalim. Ia tidak membiarkan sesuatu pun tetap tinggal di tempatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Abul Aziz menegaskan,&#8217;Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaan sengsara dan nafas sesak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Di antara tanda tanda seorang pendengki adalah penjilat orang lain manakala orang itu berada di dekatnya, memfitnahnya manakala tidak berada di dekatnya, dan merasa senang apabila ada bencana yang menimpa diri orang lain.&#8221;  Mu&#8217;awiyah berkata, &#8220;Tidak ada sifat sifat kejahatan yang lebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Sulaiman putra Daud as, &#8220;Kuperintahkan engkau agar melakukan tujuh perkara, janganlah engkau menggunjing dan mendengki salah seorang hamba-Ku yang saleh.&#8217; Sulaiman menjawab, &#8216;Tuhanku, cukuplah perintah itu bagiku&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Musa as. melihat seorang manusia di dekat &#8216;Arasy. Karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau bertanya, “Apa amalnya?&#8221; Pertanyaannya itu dijawab, &#8220;Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt. kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seorang pendengki menjadi bingung bila melihat adanya rahmat atas diri orang lain dan merasa senang jika melihat adanya kekurangan pada diri orang lain.&#8221; Dikatakan, &#8220;Jika engkau ingin selamat dari seorang pendengki, sembunyikanlah urusanmu darinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Seorang pendengki sangat marah terhadap manusia yang tidak mempunyai dosa, dan bersikap kikir terhadap yang tidak ia miliki.&#8221;<br />
Dikatakan juga, &#8220;Waspadalah jangan sampai engkau mengharapkan untuk mencintai orang yang mendengkimu, sebab ia pasti tidak akan menerima kebaikanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kata salah seorang Sufi, &#8220;Apablla Allah swt. berkehendak memberikan kekuasaan kepada seorang musuh yang tak mengenal kasihan terhadap salah seorang hamba Nya, maka kekuasaan itu diberikan Nya kepada pendengkinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Dalam syair Sufi:</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Cukuplah bagimu kisah tentang seseorang<br />
yang dikasihani oleh para pendengkinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka juga membacakan syair berikut:<br />
Semua permusuhan terkadang diharapkan<br />
kematiannya<br />
Kecuali permusuhan dari orang<br />
yang melawanmu dengan rasa dengki.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka juga membacakan syair:<br />
Manakala Allah berkehendak menebar kebajikan<br />
Digulunglah lidah pendengkinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mu&#8217;tazz mengatakan:<br />
Katakan pada pendengki<br />
ketika nafasnya terengah-engah,<br />
&#8216;Hai si zalim.&#8217;<br />
Sedang ia seakan akan orang yang ditindas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ber-Syukur</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 19:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt. berfirman:
&#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7).
Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis dan bertanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis dan bertanya, &#8216;Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, &#8216;Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!&#8217; Aku menjawab, &#8220;Saya senang berdekatan dengan Anda,&#8217; tapi aku mengizinkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku&#8217; dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh.</p>
<p><span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada beliau, &#8216;Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:<br />
&#8216;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.&#8217; (Q.s. Al Baqarah: 164).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ayat ini, Allah swt. memiliki sifat syakur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur, sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana difirmankanNya, &#8220;Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang serupa.&#8221; (Q.s. Asy Syura: 40).</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa bersyukurnya Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit, seperti kata pepatah, &#8220;Seekor binatang dikatakan bersyukur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi kebaikan dengan mengingat ingat anugerah yang telah diberikan Nya. Jadi bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt. adalah pujian kepada Nya dengan mengingat ingat anugerah Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya Allah swt. kepada hamba Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt, sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rahmat Nya kepada si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada Nya. Syukur seorang hamba, Pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum &#8216;arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap Nya di dalam semua perilaku mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr al Warraq berkata, &#8220;Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah terhadap, anugerah tersebut dan menjaga penghormatan.&#8221;<br />
Hamdun al Qashshar menegaskan, &#8220;Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur.&#8221; Al-junayd berkomentar, &#8220;Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur melihat peningkatan bagi dirinya sendiri; jadi ia sadar di sisi Allah swt. lebih dari bagian dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan taufiq Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd mengatakan, &#8220;Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.&#8221; Ruwaym menegaskan, &#8220;Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd menjelaskan, &#8220;Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai anakku, apakah bersyukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengatakan, &#8216;Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak&#8217;!&#8221; Al-junayd mengatakan, &#8216;Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu.&#8221; Asy-Syibly menjelaskan, &#8220;Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Kaum awam bersyukur karena diberi makanan dan pakaian, sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna makna yang datang di hati mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, &#8220;Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepacla Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?&#8221; Allah mewahyukan kepadanya, &#8220;Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, &#8220;Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?&#8221; Allah Menjawab, &#8220;Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan. Sufi itu diminta supaya datang, dan sahabatnya itu mengatakan kepadanya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8221; Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada si Sufi, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian seorang Majusi yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol rantainya dikenakan pada kaki sahabat, dan borgol lainnya dikenakan pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang berarti sahabat itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai melepaskan hajatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.!&#8221; Sahabatnya (si Sufi) bertanya, &#8220;Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini: Cobaan apa yang lebih berat dari ini?&#8221; Sahabatnya menjawab, &#8220;Jika sabuk yang dikenakan orang kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, &#8220;Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!&#8221; Sahl berkata, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid, apa yang akan engkau perbuat?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Syukur adalah menyibukkan diri dalam memujiNya karena Dia telah memberimu apa yang engkau tidak pantas menerimanya.&#8221; Al-Junayd menuturkan, &#8220;Manakala as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai al-Junayd, apakah syukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika tidak satu bagian pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217; Ia bertanya lagi, &#8216;Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan) ini.&#8217; Aku menjawab, &#8216;Bersama majelis-majelis Anda&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat, &#8220;Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah, kecuali kemurahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Jika tangan mu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap syukur dengan lisanmu. &#8221; Dikatakan pula, &#8220;Ada empat amal yang tidak berbuah: Mempercayakan rahasia kepada orang yang bisu, memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur, menebar benih di tanah yang tandus, dan menyalakan lampu di bawah cahaya matahari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dikatakan bahwa ketika Idris as. memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab, &#8220;Agar aku dapat bersyukur kepada Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.&#8221; Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya ke langit.</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa salah seorang Nabi &#8211; semoga Allah swt. melimpahkan salam kepadanya &#8211; berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air, yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara kepadanya, katanya, &#8220;Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman, &#8216;Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.&#8217; (Q.s. At Tahrim: 6).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun menangis karena takut.&#8221; Nabi itu kemudian mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu itu dari api neraka, dan Allah lalu mewahyukan kepadanya, &#8216;Aku telah menyelamatkannya dari neraka.&#8221; Maka Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali melewati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya, yang membuatnya heran.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara, dan Nabi itu lalu bertanya, &#8220;Mengapa engkau masih menangis sedangkan Allah telah mengampunimu?&#8221; Batu itu menjawab, &#8220;Sebelumnya adalah tangis takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, &#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7.). Orang yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian kepada Nya yang memberikan cobaan. Allah lalu berfirman, &#8220;Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar&#8221; (Q.s. AI Anfal: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, &#8220;Coba, yang tua-tua dulu berbicara! &#8221; Mendengar itu si pemuda berkata, &#8220;Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar berkata, &#8220;Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, &#8220;Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan. Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar pun bertanya kepadanya, &#8220;Lantas, siapa kalian ini?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang.&#8221; Dan mereka lalu bersenandung:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam.<br />
Atas apa yang telah kau lakukan,<br />
sedangkan kebaikanmu berbicara.<br />
Aku melihat anugerah darimu<br />
dan aku menyembunyikan;<br />
karenanya, di tangan yang pemurah<br />
jadi pencuri.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as, &#8216;Aku melimpahkan rahmat kepada hamba hamba Ku: Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka yang terampuni.&#8221; Musa bertanya, &#8220;Mengapa pula terhadap mereka yang terampuni?&#8221; Allah swt. menjawab, &#8220;Dikarenakan kecilnya syukur mereka atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu.&#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Pujian itu bagi nafas, dan syukur atas nikmat nikmat anggota badan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Pujian sebagai permulaan dari Nya, dan syukr sebagai tebusan darimu.&#8221; Dalam hadis shahih disebutkan, &#8220;Yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal.&#8221; Dikatakan, &#8220;Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikanNya, dan syukur atas apa yang diperbuat oleh Nya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersabarlah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 11:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bersabarlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.&#8221; (Q.s. An Nahl: 127). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Aisyah menuturkan hadis berikut ini dari Rasulullah saw. yang bersabda:  &#8220;Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.&#8221; (H.r. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).
Kemudian sabar dibagi dalam beberapa macam: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.&#8221; (Q.s. An Nahl: 127). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Aisyah menuturkan hadis berikut ini dari Rasulullah saw. yang bersabda:  &#8220;Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.&#8221; (H.r. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sabar dibagi dalam beberapa macam: Sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tanpa diupayakan. Mengenai sabar dengan upaya, terbagi menjadi dua: Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi larangan Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai sabar terhadap hal hal yang tidak melalui upaya dari si hamba, maka kesabarannya adalah dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.</p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junaid menegaskan, &#8220;Perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang beriman, tetapi hijrahnya di sisi Allah swt. adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah swt. adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar bersama Allah swt.&#8221;  Ketika ditanya tentang sabar, al-Junaid menjawab, &#8220;Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abu Thalib r.a. mengatakan, &#8220;Hubungan antara sabar dengan iman adalah seperti hubungan antara kepala dengan badan.&#8221; Abul Qasim al Hakim menjelaskan, &#8220;Firman Allah swt, &#8216;Dan bersabarlah,&#8217; adalah perintah untuk beribadat, dan firman Nya, &#8216;Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,&#8217; (Q.s. An Nahl: 127) adalah untuk ubudiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa naik dari derajat &#8216;bagi Mu&#8217; menuju derajat &#8216;dengan Mu&#8217;, maka ia telah beralih dari derajat ibadat ke ubudiyah. Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Dengan Mu aku hidup dan dengan Mu aku mati&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman tentang sabar, dan ia mengatakan, &#8220;Demi Allah, kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun berkata, &#8220;Sabar adalah menjauhi pelanggaran dan tetap bersikap rela sementara merasakan sakitnya penderitaan, dan sabar juga menampakkan kekayaannya ketika ditimpa kemiskinan di lapangan kehidupan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Atha&#8217; berkata, &#8220;Sabar adalah tetap tabah dalam malapetaka dengan perilaku adab.&#8221; Dikatakan, &#8220;Sabar adalah fana jiwa dalam cobaan, tanpa keluhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkomentar, &#8220;Orang yang paling sabar adalah yang terbiasa dalam kesengsaraan yang menimpa dirinya.&#8221; Dikatakan, &#8220;Sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti menghadapi kenikmatan.&#8221;<br />
Abu Utsman juga berkata, &#8220;Pahala yang paling besar bagi amal ibadat adalah pahala untuk kesabaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada pahala lain yang melebihinya. Allah swt. berjanji, &#8220;Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan&#8221;. (Q.s. An Nahl: 96).&#8221; Amru bin Utsman mengatakan, &#8220;Sabar adalah berlaku teguh terhadap Allah swt. dan menerima cobaan cobaan Nya dengan sikap lapang dada dan tenang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Khawwas menjelaskan, &#8220;Sabar adalah menetapi ketentuan ketentuan Kitabullah dan Sunnah Rasul.&#8221;  Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Sabar para pecinta adalah lebih besar daripada sabar orang zuhud. Betapa mengagumkan, bagaima mereka bersabar?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka telah menyenandungkan:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kesabaran begitu indah di mana saja,<br />
Kecuali kepadamu,<br />
sabarmu tidaklah indah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ruwaym berkata, &#8220;Sabar adalah meninggalkan keluh kesah.&#8221;<br />
Dzun Nuun berkata, &#8220;Sabar adalah meminta pertolongan kepada Allah swt.&#8221;<br />
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Sabar adalah seperti namanya. &#8221; Syeikh Abu Abdurrahman melantunkan syair kepada saya, dari Abu Bakr ar</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Razy, dari syair Ibnu Atha&#8217;:<br />
Aku akan bersabar untuk ridha Mu,<br />
sedang rindu menghancurkan diriku.<br />
Cukuplah bagiku bahwa Engkau ridha,<br />
meskipun diriku hancur karena sabarku.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah bin Khafif mengatakan, &#8220;Sabar ada tiga macam: Sabar orang yang berjuang untuk bersabar (mutashabbir), sabar orang yang sabar (shabir) dan sabarnya orang yang sangat sabar (shabbaar).&#8221;<br />
Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, &#8220;Sabar adalah gunung yang tak pernah terguling.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abdullah al Bashry menuturkan, &#8220;Seorang laki laki datang kepada asy Syibly dan bertanya, &#8216;Sabar macam manakah yang tersulit bagi orang bersabar?&#8217; Ia menjawab, &#8216;yaitu sabar terhadap Allah swt.&#8217; Tetapi orang itu menyanggah, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly menyarankan, &#8216;Sabar untuk Allah.&#8217; Orang itu menyanggah lagi, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly menjawab, &#8216;Sabar bersama Allah.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi orang itu menyanggah, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly bertanya, &#8216;Lantas, sabar yang mana?&#8217; Orang itu menjawab, &#8216;Sabar berjauhan dengan Allah.&#8217; Mendengar jawaban itu asy-Syibly berteriak sedemikian rupa sehingga nyaris ruhnya melayang&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Muhammad Ahmad al Jurairy menjelaskan, &#8220;Sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai dengan ketentraman pikiran dalam keduanya. Bersikap sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salah seorang Sufi menyenandungkan:<br />
Aku bersabar dan aku belum melihat kehendak Mu atas sabarku<br />
Dan kusembunyikan petaka yang Kau kenakan pada diriku, di tempat sabar.<br />
Takut bahwa hatiku akan menge1uh tentang deritaku.<br />
sampai air mataku mengalir, penuh rahasia<br />
Dan aku tak tahu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq berkomentar, &#8220;Orang yang sabar akan mencapai derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, sebab mereka telah mendapat derajat &#8216;kesertaan&#8217; di sisi Allah swt. sebagaimana firman Nya, &#8220;Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Anfal: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan mengenai arti firman Allah swt, &#8220;Hai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan katakanlah (dirimu kepada Allah).&#8221; (Q.s. Ali 1mran: 200), bahwa sabar (shabr) adalah berada di bawah tahap berteguh hati dalam kesabaran (mushaabarah) dan di bawah tahap mengaitkan diri kepada Allah (muraabathah).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8216;Bersabarlah&#8217; dengan dirimu dalam taat kepada Allah swt, &#8216;Berteguhlah dalam kesabaran&#8217; dengan hatimu dalam menghadapi cobaan cobaan yang berkaitan dengan Allah swt. dan &#8216;kaitkanlah&#8217; jiwamu terhadap kerinduan kepada Allah swt. Juga dikatakan, &#8216;Bersabarlah&#8217; kepada Allah, &#8216;berteguhlah dalam kesabaran&#8217; dengan Allah, dan &#8216;kaitkanlah&#8217; jiwamu dengan Allah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Daud as, &#8220;Berakhlaklah dengan Akhlak Ku. Diantaranya adalah bahwa Aku adalah Yang Maha Penyabar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seraplah kesabaran. Jika ia membunuhmu, engkau akan mati sebagai syahid. Jika ia menghidupimu, maka engkau akan hidup sebagai seorang yang mulia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Kesabaran untuk Allah adalah kesukaran, sabar dengan Allah adalah baqa&#8217;, sabar jauh di dalam Allah adalah cobaan, dan sabar jauh dari Allah adalah sangat hampa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Para Sufi bersyair:<br />
Kesabaran berjauhan dengan Mu tercela akibatnya,<br />
Namun terpujilah segala kesabaran yang lain.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka juga membacakan:<br />
Bagaimana sabar, orang yang lepas dari Ku laksana utara dan selatan,<br />
Ketika orang orang bermain main di segala hal<br />
Aku melihat cinta bermain dengan orang orang itu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Sabar dalam mencari pemenuhan hidup adalah tanda kemenangan, dan sabar dalam kesukaran adalah tanda keselamatan.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersikap teguh dalam kesabaran adalah sabar dalam bersabar, sampai kesabaran tenggelam dalam kesabaran dan kesabaran berputus asa dari kesabaran, sebagaimana dikatakan syair:</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar orang yang, sabar hingga kesabaran meminta pertolongan kepadanya.<br />
Sang pecinta berseru kepada kesabaran, &#8216;Sabarlah&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Syibly sedang ditahan di rumah sakit jiwa, dan sekelompok orang datang menjenguknya. Ia bertanya, &#8220;Siapa kalian ini?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami adalah sahabat sahabat tercintamu yang datang untuk mengunjungmu.&#8221; Maka Syibly lalu mulai melempari mereka dengan batu hingga mereka pun berlarian. Ia berteriak, &#8220;Wahai para pendusta jika kalian memang sahabat sahabatku, niscaya kalian akan sabar ketika aku diuji&#8221;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam suatu riwayat disebutkan, &#8220;Demi Penglihatan Ku, apa yang dipikul oleh mereka yang memikul beban demi Aku, adalah dalam penglihatan Ku.&#8221;<br />
Allah swt. berfirman: &#8220;Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.&#8221; (Q.s. AthThuur: 48).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengabarkan, &#8220;Aku sedang berada di Mekkah &#8211; semoga Allah swt. menjaganya &#8211; dan kulihat seorang fakir sedang melakukan thawaf. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya, melihatnya, kemudian meneruskan thawafnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berikutnya kulihat la melakukan hal yang sama. Aku memperhatikannya selama beberapa hari, dan ia terus berbuat demikian. Lalu pada suatu hari ia berjalan mengelilingi Ka&#8217;bah, melihat kertas itu, mundur beberapa langkah, kemudian jatuh dan mati. Aku mengambil kertas yang ada di sakunya, dan di dalamnya tertulis, &#8216;Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian Sufi berkata, &#8220;Aku masuk ke negeri India dan aku melihat seorang pemuda bermata satu, yang dijuluki orang &#8216;Si Fulan yang Sabar&#8217;. Ketika aku bertanya tentangnya, orang mengatakan kepadaku, &#8216;Semasa muda, seorang sahabatnya berangkat untuk bepergian jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sahabatnya itu berpamitan, meneteslah air mata dari salah satu kelopak matanya, namun kelopak matanya yang sebelah lagi tidak. Ia katakan kepada bola matanya yang tidak menangis itu, &#8216;Mengapa engkau tidak menangis atas keberangkatan sahabatku? Engkau kularang melihat dunia ini!&#8217; Lalu ditutupnya matanya itu, dan selama enampuluh tahun belum pernah dibukanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan tentang firman Allah swt, &#8220;Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik,&#8221; (Q.s. AI Ma&#8217;arij: 5), bahwa &#8220;sabar yang baik&#8221; itu adalah sabar yang mencegah diketahuinya korban yang terkena penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khaththab r.a. berkata, &#8220;Seandainya kesabaran dan syukur itu adalah dua ekor unta, bagiku akan sama saja mana yang akan kukendarai.&#8221;<br />
Ketika terkena cobaan, Ibnu Syabramah semoga Allah swt. merahmatinya biasa mengatakan, &#8220;Semua ini hanyalah awan,&#8221; dan cobaan itu akan berlalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjelaskan:<br />
&#8220;(Iman) adalah keteguhan hati dalam bersabar dan bersikap murah hati.&#8221; (H.r. Abu Ya&#8217;la dan Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">As Sary ditanya tentang sabar, dan ia mulai berbicara. Lalu seekor kalajengking merayap ke kakinya dan menyengatnya beberapa kali, namun ia sama sekali tidak bergeming. Seseorang bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak mencampakkannya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku malu kepada Allah swt. untuk berbicara tentang sabar sedang aku sendiri tidak bersabar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis dikatakan, &#8220;Orang orang miskin yang sabar akan bersama di majelis Allah swt. dihari Kebangkitan.&#8221;<br />
Allah swt. mewahyukan kepada salah seorang Nabi Nya, &#8220;Aku menurunkan cobaan kepada hamba Ku, lalu ia berdoa kepada Ku. Tetapi aku menangguhkan doanya dan ia mengeluh kepada Ku. Maka Aku lalu bertanya, &#8216;Wahai hamba Ku, bagaimana Aku mengasihimu dari suatu yang dengannya Aku mengasihimu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu &#8216;Uyaynah berkomentar mengenai arti firman Allah swt, &#8220;Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar,&#8221; (Q.s. As Sajdah: 24), bahwa artinya adalah, &#8220;Karena mereka memahami kepedulian pokok persoalan, maka Kami angkat mereka sebagai pemimpin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Kondisi bersabar adalah jika engkau tidak berkeberatan terhadap apa yang telah ditetapkan (takdir), sedangkan menampakkan cobaan tanpa rnengeluh, maka hal ini tidaklah menghilangkan sabar. Allah swt. berfirman dalam kisah Nabi Ayyub as, &#8220;Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah sebaik baik hamba. Sesungguhnya ia senantiasa berpaling (kepada Kami).&#8221; (Q.s. Shaad: 44). Allah memfirmankan ini meskipun Ayyub berkata, &#8220;Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit.&#8221; (Q.s. AI Anbiya&#8217;: 83).&#8221; Dan saya mendengar beliau mengatakan, &#8216;Allah menyebutkan ucapan Ayyub ini agar ucapan tersebut menjadi jalan ke luar bagi orang orang yang lemah di antara ummat lni&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, Allah swt. berfirman, &#8220;Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar (shabir)&#8221;. Dia tidak berfirman, &#8220;yang paling sabar (shabur),&#8221; sebab Ayyub tidaklah sabar sepanjang waktu. Sebaliknya, terkadang beliau merasa senang terhadap cobaan yang menimpa dirinya dan mendapati cobaan tersebut menyenangkan. Pada saat menyenangi cobaan tersebut, beliau bukanlah orang yang sabar; karena itu Allah tidak menyebutkan, yang paling sabar&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menegaskan, &#8220;Hakikat sabar adalah jika si hamba keluar dari cobaan dalam keadaan seperti ketika memasukinya, sebagaimana dikatakan oleh Ayyub as. pada akhir cobaan yang menimpa diri beliau, &#8216;Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua Yang menyayangi.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ayyub memperlihatkan sikap berbicara yang layak dengan ucapannya, &#8216;Dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi,&#8217; tetapi beliau tidak berkata secara jelas, dengan kata kata, &#8216;Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepadaku&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar ada dua macam: Sabar para ahli lbadat (abidin) dan sabar Para pecinta (muhibbin). Mengenai sabar para ahli ibadat, adalah lebih baik jika sabar macam ini dipelihara.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai arti syair ini, saya telah mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan, &#8220;Yaqub as. telah menyiapkan dirinya untuk bersabar. Karenanya, beliau lalu mengatakan, &#8216;Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).&#8217; Artinya, &#8216;Sikapku adalah bersabar dengan sabar yang baik.&#8217; Namun belum sampai malam tiba, beliau sudah mengatakan, &#8216;Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!&#8217; (Q.s. Yusuf . 84).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedih (jangan bersedih)</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 09:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita&#8217;.&#8221; (Q.s. Fathir: 34).
Diriwayatkan darl Abu Sa&#8217;id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita&#8217;.&#8221; (Q.s. Fathir: 34).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan darl Abu Sa&#8217;id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya.&#8221; (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).</p>
<p><span id="more-101"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, &#8220;Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan.&#8221; Dalam hadis dikatakan, &#8220;Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Kitab Taurat disebutkan, &#8220;Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam hatinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisyr bin Harits mengatakan, &#8220;Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. &#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sa&#8217;id al Qurasyi berkomentar, &#8220;Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).  Ibnu Khafif menjelaskan, &#8220;Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rabi&#8217;ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, &#8220;Aduhai, kesedihan!&#8221; Rabi&#8217;ah menyela, &#8220;Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sufyan bin &#8216;Uyainah mengatakan, &#8220;Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dawud ath-Tha&#8217;y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa, &#8220;Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku.&#8221; Dan Allah pun menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa.&#8221;  Salah seorang Sufi ditanya, &#8220;Dengan apa kesedihan manusia dinilai?&#8221; Ia Menjawab, &#8220;Dengan banyaknya ratapan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">As Sary as-Saqathy berkata, &#8220;Aku ingin sendainya kesedihan seluruh manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku.&#8221; Banyak orang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini patut dicela.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, &#8220;Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan, &#8220;Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari seorang yang tertimpa kesedihan&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.  Ketika Fudhail bin &#8216;Iyadh meninggal dunia, Waki&#8217; mengatakan, &#8220;Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, &#8220;Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;Iyadh berkomentar, &#8220;Kaum salaf mengatakan, &#8216;Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang&#8217;.&#8221;  Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab, &#8220;Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubudiyah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 11:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ubudiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.&#8221; (Q.s. AI Hijr: 99).
Diriwayatkan oleh Abu Sa&#8217;id al Khudry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil; pemuda yang bersemangat dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.&#8221; (Q.s. AI Hijr: 99).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abu Sa&#8217;id al Khudry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil; pemuda yang bersemangat dalam ibadat kepada Allah swt.; seseorang yang hatinya berkait dengan masjid sejak saat ia keluar hingga kembali (ke masjid); dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena Allah; seseorang yang mengingat Allah swt. hingga air matanya mengalir, serta seseorang yang digoda seorang wanita baik dan cantik, lantas menjawab dengan ucapan, Aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam,&#8217;, dan seseorang yang bersedekah dengan diam diam hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.&#8221; (H.r. Bukhari Muslin2, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).</p>
<p><span id="more-95"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Ubudiyah adalah lebih sempurna daripada ibadat. Karena itu, pertama tama adalah ibadat, lalu ubudiyah, dan akhimya abudah. Ibadat adalah amalan kaum awam, ubudiyah adalah amalan kaum terpilih (khawash), dan abudah adalah amalan kaum yang sangat terpilih (khawashul khawash).”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga mengatakan, &#8220;Ibadat adalah untuk orang yang memiliki ilmul yaqin, ubudiyah untuk orang yang memiliki &#8216;ainul yaqin dan abudah untuk orang yang memiliki haqqul yaqin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga berkomentar, &#8220;Ibadat adalah untuk orang yang sedang berjuang keras (mujahadah), ubudiyah untuk orang yang sangat tahan menanggung kesukaran (mukabidat), dan abudah adalah sifat ahli musyahadah. Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya berada dalam keadaan ibadat, dan siapa yang tidak bakhil jiwanya dialah pemilik ubudiyah, dan siapa yang tidak bakhil ruhnya, dialah pemilik abudah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah menegakkan tindak tindak ketaatan yang sejati, dengan khusyu&#8217;, memandang diri dengan mata yang terbatas, dan menyadari bahwa amal amal kebajikan hanya dapat terlaksana berkat ketentuan takdir.&#8221;<br />
Dikatakan pula, &#8220;Ubudiyah berarti meninggalkan ikhtiar sendiri ketika menghadapi takdir Ilahi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan Nya kepadamu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah menyambut apa pun perintah yang diberikan kepadamu dan memisahkan dirimu dari apa pun yang engkau dilarang atasnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Khafif ditanya, &#8220;Bilakah ubudiyah itu sah?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Apabila seseorang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. dan memiliki kesabaran terhadap-Nya dalam menjalani cobaan Nya.&#8221;<br />
Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Bagi siapa pun, ubudiyah tidaklah shahih sampai ia tidak mempedulikan empat hal: Kelaparan, ketelanjangan, kemiskinan dan kehinaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah hendaknya engkau menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan menanggungkan segala perbuatan kepada-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Salah satu tanda ubudiyah adalah bahwa engkau meninggalkan angan angan sendiri dan mempersaksikan takdir.&#8221;<br />
Dzun Nuun al Mishry menjelaskan, &#8220;Ubudiyah adalah bahwa engkau menjadi hamba-Nya dalarn setiap kondisi, seperti halnya Dia adalah Tuhanmu di setiap kondisi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad jurairy menjelaskan, &#8220;Penghamba kenikmatan banyak sekali, tapi sedikit sekali yang menjadi penghamba Sang Pemberi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikatpada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda:<br />
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian bagus.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali al Jurjany berkata, &#8220;Merasa ridha adalah rumah ubudiyah. Sabar adalah pintunya, penyerahan total adalah rumahnya. Suara di atas pintu, kegaduhan di dalam tempat tinggal, dan keringanan jiwa ada di rumah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Sebagaimana rububiyah sebagai sifat Allah swt. yang tak pernah sirna, maka ubudiyah adalah sifat hamba yang tak pernah pisah. Sebagian Sufi bersyair: jika kau tanya padaku, aku berkata, &#8220;Indah, aku hamba-Nya.&#8221; Dan jika mereka tanya kepada-Nya, Dia berkata, &#8220;Indah, dia hamba Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">An Nashr Abadzy menegaskan, &#8220;Amal amal ibadat lebih dekat pada pencarian maaf dan ampunan atas kekurangan kekurangan daripada permohonan imbalan dan pahala.&#8221; Ia juga mengatakan, &#8220;Ubudiyah berarti kehilangan kesadaran akan pengabdian ketika menyaksikan Yang Maha Disernbah. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Al junayd mengatakan, &#8220;Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal hal yang merupakan dasar kebebasan.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Pergunjingan</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya Pergunjingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik saudaranya kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat lagi Maha penyayang. (Q.s. Al 14ujurat: 12).
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ada seseorang laki-laki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik saudaranya kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat lagi Maha penyayang. (Q.s. Al 14ujurat: 12).</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ada seseorang laki-laki yang ikut duduk bersama Rasulullah saw, kemudian ia pergi. Salah seorang yang hadir berkata, &#8220;Alangkah lemahnya orang itu.&#8221; Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Engkau telah memakan daging saudaramu ketika engkau menggunjingnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. mewahyukan kepada Musa as, &#8220;Barangsiapa meninggal dengan bertobat dari menggunjing, akan menjadi orang terakhir Yang masuk surga, dan barangsiapa meninggal dengan berterus-terusan melakukan pergunjingan itu, akan menjadi orang yang pertama masuk neraka.&#8221;</p>
<p><span id="more-97"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Auf menuturkan, &#8220;Aku datang kepada Ibnu Sirin, aku menggunjing al Hajaj. Ibnu Sirin berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah swt. adalah hakim yang paling adil, maka sebanyak yang diambilnya dari al Hajai, sebanyak itu Pula yang diberikan Nya kepadanya. Ketika engkau berjumpa dengan Allah swt. di akhirat nanti, dosa sekecil apa pun yang telah dilakukan Hajaj akan menjadi lebih besar bagimu daripada dosa terbesar yang telah dilakukan al Hajjaj&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta, dan ia pun bersedia menghadirinya. Ketika orang orang membicarakan seseorang yang tidak hadir, mereka mengatakan &#8220;Ia seorang yang kurus kering dan tidak menarik.&#8221; Ibrahim berkata &#8220;Inilah yang dilakukan nafsuku terhadap diriku: Kutemukan diriku dalam perkumpulan di mana pergunjingan dilakukan.&#8221; Ia lalu Pergi begitu saia, setelah itu ia tidak makan selama tiga hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Barangsiapa menggunjing orang lain adalah seperti orang yang menyiapkan ketepil. Ia menembak amal-amal baiknya sendiri dengan perbuatannya itu ke Barat dan ke Timur. Ia menggunjing seseorang dari Khurasan, seorang lagi dari Hijaz, seorang lagi dari Turki, ia mencerai beraikan amal amal baiknya sendiri, dan ketika berdiri, tak satu pun amal baiknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari Kiamat, tetapi ia tidak melihat satu pun amal baik di dalamnya. la akan bertanya, &#8216;Di mana shalat, puasa dan amal amal ibadatku yang lain?&#8217; Dikatakan kepadanya, &#8216;Semua amalmu telah hilang karena engkau terlibat dalam pergunjingan&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Barangsiapa digunjing, Allah mengampuni separo dosanya.&#8221;<br />
Sufyan ibnul Husain mengabarkan, &#8220;Aku sedang duduk duduk dengan Iyas bin Mu&#8217;awiyah, dan menggunjing seseorang. Iyas bertanya kepadaku, Apakah engkau telah menyerang orang orang Romawi atau Turki tahun ini?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menjawab, &#8216;Tidak.&#8217; Iyas berkata, &#8216;Orang orang Turki dan Romawi telah selamat dari seranganmu, sementara saudaramu sendiri yang Muslim tidak&#8217;!&#8221; Dikatakan, &#8220;Seorang manusia akan diberi catatan amalnya di hari Kiamat, dan ia menemukan di dalamnya amal amal baik yang tidak pernah diperbuatnya. Dikatakan kepadanya, &#8216;Ini adalah imbalan bagi gunjingan orang terhadapmu, yang tidak kamu ketahui&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sufyan ats Tsaury ditanya tentang sabda Nabi saw, &#8220;Sesungguhnya Allah membenci keluarga pemakan daging manusia.&#8221; (H.r. Baihaqi). Sufyan mengomentari, &#8220;Yang dimaksud di sini adalah orang orang yang menggunjing; mereka memakan daging manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menggunjing ditanyakan di hadapan Abdullah Ibnul Mubarak, ia berkata, &#8220;Jika aku mengunjing seseorang, niscaya aku akan menggunjing kedua orangtuaku, sebab merekalah yang paling berhak atas amal amal baikku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz berkata, &#8220;Jadikanlah keuntungan seorang Muslim terhadap dirimu berupa tiga hal ini: jika engkau tidak bisa membantunya, maka janganlah engkau mengganggunya; Jika engkau tidak bisa memberinya kegembiraan, maka janganlah engkau rnembuatnya sedih; Jika engkau tidak bisa memujinya, maka janganlah engkau mencari cari kesalahannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan kepada Hasan al Bashry, &#8220;Si Fulan telah menggunjing Anda.&#8221; Maka al Hasan lalu. mengirimkan kue kue kepada orang yang rnenggunjingnya, dengan pesan, &#8216;Aku mendengar bahwa engkau telah melimpahkan amal baikmu kepadaku. Aku ingin membalas kebaikanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. Telah bersabda, &#8220;Jika orang melepaskan tabir rasa malu dari wajahnya, niscaya tidak akan ada masalah pergunjingan baginya.&#8221; (H.r. Ibnu Addi dan Abu asy Syeikh)</p>
<p style="text-align: justify;">Al Junayd menuturkan, &#8220;Aku sedang duduk duduk di masjid asy Syuniziyah, menunggui jenazah agar aku bisa ikut melaksanakan shalat jenazah. Orang orang Baghdad dengan berbagai kelasnya duduk menunggu iringan tersebut. Lalu aku melihat seorang miskin yang kelihatan bekas ibadatnya mengemis dari orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata kepada diriku sendiri, &#8216;Jika orang ini mau bekerja untuk memperoleh rezekinya, Itu akan lebih baik baginya.&#8217; Ketika aku kembali ke rumah, maka seperti biasanya, aku mulai melakukan wirid di malam hari, rnenangis dan shalat, serta amalan amalan lainnya. Tetapi semua wiridku itu terasa memberatkan jiwaku, maka aku lalu tidak dapat tidur, dan hanya duduk duduk saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku terjaga, kantuk datang kepadaku, aku melihat si pengemis itu. Kulihat orang orang sedang meletakkan tubuhnya di atas sehamparan kain yang lebar, dan mereka memerintahkan kepadaku, &#8216;Makanlah daging orang ini, karena engkau telah menggunjingnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan orang itu diungkapkan kepadaku, dan aku memprotes, Aku tidak menggunjingnya! Aku hanya mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri.&#8217; Lalu dikatakan kepadaku, &#8216;Perbuatan seperti itu pun tidak layak. Pergilah kepada orang itu dan meminta maaflah!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Paginya aku terus mencari orang itu, sampai aku menemukannya sedang mengumpulkan dedaunan yang tersisa dalam air yang digunakan untuk mencuci sayur mayur. Ketika aku memberi salam kepadanya, ia bertanya, &#8216;Wahai Abul Qasim, apakah engkau datang ke sini lagi?&#8217; Aku menjawab,&#8217;Tidak&#8221; Ia berkata, &#8216;Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosamu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ja&#8217;far al Balkhy berkata, &#8220;Seorang pemuda dari kalangan warga Balkh sedang berada di antara kami, ia bermujahadah dan mengabdikan dirinya untuk melayani Allah. Hanya saja ia terus menerus terlibat dalam gunjingan. Ia suka mengatakan, &#8216;Si Fulan dan si Fulan itu demikian.&#8217; Pada suatu hari aku melihatnya sedang mengunjungi beberapa tukang memandikan jenazah yang disebut orang sebagai &#8216;orang orang banci&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pemuda itu meninggalkan mereka, aku bertanya kepadanya, &#8216;Wahai Fulan, apa yang telah terjadi padamu?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Beginilah akibatnya atas perbuatan menggunjing. Hal itu telah mencampakkanku dalam kehinaan ini. Aku telah tergila gila kepada salah seorang banci dan aku melayani mereka atas namanya. Semua amal ibadatku sebelumnya telah musnah. Maka doakan agar Allah swt. mengasihiku&#8217;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
