<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Surau Baitul Amin-6 Bekasi</title>
	<atom:link href="http://www.baitulamin6.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.baitulamin6.org</link>
	<description>Dibawah naungan Yayasan Prof.Dr.H.SS.Kadirun Yahya .MSc</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Feb 2010 19:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ber-Syukur</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 19:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt. berfirman:
&#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7).
Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis dan bertanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis dan bertanya, &#8216;Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, &#8216;Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!&#8217; Aku menjawab, &#8220;Saya senang berdekatan dengan Anda,&#8217; tapi aku mengizinkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku&#8217; dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh.</p>
<p><span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada beliau, &#8216;Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:<br />
&#8216;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.&#8217; (Q.s. Al Baqarah: 164).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ayat ini, Allah swt. memiliki sifat syakur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur, sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana difirmankanNya, &#8220;Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang serupa.&#8221; (Q.s. Asy Syura: 40).</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa bersyukurnya Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit, seperti kata pepatah, &#8220;Seekor binatang dikatakan bersyukur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi kebaikan dengan mengingat ingat anugerah yang telah diberikan Nya. Jadi bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt. adalah pujian kepada Nya dengan mengingat ingat anugerah Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya Allah swt. kepada hamba Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt, sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rahmat Nya kepada si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada Nya. Syukur seorang hamba, Pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum &#8216;arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap Nya di dalam semua perilaku mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr al Warraq berkata, &#8220;Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah terhadap, anugerah tersebut dan menjaga penghormatan.&#8221;<br />
Hamdun al Qashshar menegaskan, &#8220;Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur.&#8221; Al-junayd berkomentar, &#8220;Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur melihat peningkatan bagi dirinya sendiri; jadi ia sadar di sisi Allah swt. lebih dari bagian dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan taufiq Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd mengatakan, &#8220;Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.&#8221; Ruwaym menegaskan, &#8220;Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd menjelaskan, &#8220;Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai anakku, apakah bersyukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengatakan, &#8216;Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak&#8217;!&#8221; Al-junayd mengatakan, &#8216;Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu.&#8221; Asy-Syibly menjelaskan, &#8220;Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Kaum awam bersyukur karena diberi makanan dan pakaian, sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna makna yang datang di hati mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, &#8220;Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepacla Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?&#8221; Allah mewahyukan kepadanya, &#8220;Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, &#8220;Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?&#8221; Allah Menjawab, &#8220;Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan. Sufi itu diminta supaya datang, dan sahabatnya itu mengatakan kepadanya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8221; Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada si Sufi, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian seorang Majusi yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol rantainya dikenakan pada kaki sahabat, dan borgol lainnya dikenakan pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang berarti sahabat itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai melepaskan hajatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.!&#8221; Sahabatnya (si Sufi) bertanya, &#8220;Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini: Cobaan apa yang lebih berat dari ini?&#8221; Sahabatnya menjawab, &#8220;Jika sabuk yang dikenakan orang kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, &#8220;Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!&#8221; Sahl berkata, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid, apa yang akan engkau perbuat?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Syukur adalah menyibukkan diri dalam memujiNya karena Dia telah memberimu apa yang engkau tidak pantas menerimanya.&#8221; Al-Junayd menuturkan, &#8220;Manakala as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai al-Junayd, apakah syukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika tidak satu bagian pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217; Ia bertanya lagi, &#8216;Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan) ini.&#8217; Aku menjawab, &#8216;Bersama majelis-majelis Anda&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat, &#8220;Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah, kecuali kemurahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Jika tangan mu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap syukur dengan lisanmu. &#8221; Dikatakan pula, &#8220;Ada empat amal yang tidak berbuah: Mempercayakan rahasia kepada orang yang bisu, memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur, menebar benih di tanah yang tandus, dan menyalakan lampu di bawah cahaya matahari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dikatakan bahwa ketika Idris as. memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab, &#8220;Agar aku dapat bersyukur kepada Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.&#8221; Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya ke langit.</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa salah seorang Nabi &#8211; semoga Allah swt. melimpahkan salam kepadanya &#8211; berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air, yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara kepadanya, katanya, &#8220;Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman, &#8216;Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.&#8217; (Q.s. At Tahrim: 6).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun menangis karena takut.&#8221; Nabi itu kemudian mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu itu dari api neraka, dan Allah lalu mewahyukan kepadanya, &#8216;Aku telah menyelamatkannya dari neraka.&#8221; Maka Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali melewati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya, yang membuatnya heran.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara, dan Nabi itu lalu bertanya, &#8220;Mengapa engkau masih menangis sedangkan Allah telah mengampunimu?&#8221; Batu itu menjawab, &#8220;Sebelumnya adalah tangis takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, &#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7.). Orang yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian kepada Nya yang memberikan cobaan. Allah lalu berfirman, &#8220;Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar&#8221; (Q.s. AI Anfal: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, &#8220;Coba, yang tua-tua dulu berbicara! &#8221; Mendengar itu si pemuda berkata, &#8220;Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar berkata, &#8220;Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, &#8220;Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan. Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar pun bertanya kepadanya, &#8220;Lantas, siapa kalian ini?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang.&#8221; Dan mereka lalu bersenandung:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam.<br />
Atas apa yang telah kau lakukan,<br />
sedangkan kebaikanmu berbicara.<br />
Aku melihat anugerah darimu<br />
dan aku menyembunyikan;<br />
karenanya, di tangan yang pemurah<br />
jadi pencuri.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as, &#8216;Aku melimpahkan rahmat kepada hamba hamba Ku: Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka yang terampuni.&#8221; Musa bertanya, &#8220;Mengapa pula terhadap mereka yang terampuni?&#8221; Allah swt. menjawab, &#8220;Dikarenakan kecilnya syukur mereka atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu.&#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Pujian itu bagi nafas, dan syukur atas nikmat nikmat anggota badan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Pujian sebagai permulaan dari Nya, dan syukr sebagai tebusan darimu.&#8221; Dalam hadis shahih disebutkan, &#8220;Yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal.&#8221; Dikatakan, &#8220;Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikanNya, dan syukur atas apa yang diperbuat oleh Nya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersabarlah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 11:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bersabarlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.&#8221; (Q.s. An Nahl: 127). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Aisyah menuturkan hadis berikut ini dari Rasulullah saw. yang bersabda:  &#8220;Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.&#8221; (H.r. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).
Kemudian sabar dibagi dalam beberapa macam: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.&#8221; (Q.s. An Nahl: 127). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Aisyah menuturkan hadis berikut ini dari Rasulullah saw. yang bersabda:  &#8220;Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.&#8221; (H.r. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sabar dibagi dalam beberapa macam: Sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tanpa diupayakan. Mengenai sabar dengan upaya, terbagi menjadi dua: Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi larangan Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai sabar terhadap hal hal yang tidak melalui upaya dari si hamba, maka kesabarannya adalah dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.</p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junaid menegaskan, &#8220;Perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang beriman, tetapi hijrahnya di sisi Allah swt. adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah swt. adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar bersama Allah swt.&#8221;  Ketika ditanya tentang sabar, al-Junaid menjawab, &#8220;Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abu Thalib r.a. mengatakan, &#8220;Hubungan antara sabar dengan iman adalah seperti hubungan antara kepala dengan badan.&#8221; Abul Qasim al Hakim menjelaskan, &#8220;Firman Allah swt, &#8216;Dan bersabarlah,&#8217; adalah perintah untuk beribadat, dan firman Nya, &#8216;Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,&#8217; (Q.s. An Nahl: 127) adalah untuk ubudiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa naik dari derajat &#8216;bagi Mu&#8217; menuju derajat &#8216;dengan Mu&#8217;, maka ia telah beralih dari derajat ibadat ke ubudiyah. Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Dengan Mu aku hidup dan dengan Mu aku mati&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman tentang sabar, dan ia mengatakan, &#8220;Demi Allah, kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun berkata, &#8220;Sabar adalah menjauhi pelanggaran dan tetap bersikap rela sementara merasakan sakitnya penderitaan, dan sabar juga menampakkan kekayaannya ketika ditimpa kemiskinan di lapangan kehidupan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Atha&#8217; berkata, &#8220;Sabar adalah tetap tabah dalam malapetaka dengan perilaku adab.&#8221; Dikatakan, &#8220;Sabar adalah fana jiwa dalam cobaan, tanpa keluhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkomentar, &#8220;Orang yang paling sabar adalah yang terbiasa dalam kesengsaraan yang menimpa dirinya.&#8221; Dikatakan, &#8220;Sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti menghadapi kenikmatan.&#8221;<br />
Abu Utsman juga berkata, &#8220;Pahala yang paling besar bagi amal ibadat adalah pahala untuk kesabaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada pahala lain yang melebihinya. Allah swt. berjanji, &#8220;Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan&#8221;. (Q.s. An Nahl: 96).&#8221; Amru bin Utsman mengatakan, &#8220;Sabar adalah berlaku teguh terhadap Allah swt. dan menerima cobaan cobaan Nya dengan sikap lapang dada dan tenang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Khawwas menjelaskan, &#8220;Sabar adalah menetapi ketentuan ketentuan Kitabullah dan Sunnah Rasul.&#8221;  Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Sabar para pecinta adalah lebih besar daripada sabar orang zuhud. Betapa mengagumkan, bagaima mereka bersabar?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka telah menyenandungkan:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kesabaran begitu indah di mana saja,<br />
Kecuali kepadamu,<br />
sabarmu tidaklah indah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ruwaym berkata, &#8220;Sabar adalah meninggalkan keluh kesah.&#8221;<br />
Dzun Nuun berkata, &#8220;Sabar adalah meminta pertolongan kepada Allah swt.&#8221;<br />
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Sabar adalah seperti namanya. &#8221; Syeikh Abu Abdurrahman melantunkan syair kepada saya, dari Abu Bakr ar</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Razy, dari syair Ibnu Atha&#8217;:<br />
Aku akan bersabar untuk ridha Mu,<br />
sedang rindu menghancurkan diriku.<br />
Cukuplah bagiku bahwa Engkau ridha,<br />
meskipun diriku hancur karena sabarku.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah bin Khafif mengatakan, &#8220;Sabar ada tiga macam: Sabar orang yang berjuang untuk bersabar (mutashabbir), sabar orang yang sabar (shabir) dan sabarnya orang yang sangat sabar (shabbaar).&#8221;<br />
Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, &#8220;Sabar adalah gunung yang tak pernah terguling.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abdullah al Bashry menuturkan, &#8220;Seorang laki laki datang kepada asy Syibly dan bertanya, &#8216;Sabar macam manakah yang tersulit bagi orang bersabar?&#8217; Ia menjawab, &#8216;yaitu sabar terhadap Allah swt.&#8217; Tetapi orang itu menyanggah, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly menyarankan, &#8216;Sabar untuk Allah.&#8217; Orang itu menyanggah lagi, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly menjawab, &#8216;Sabar bersama Allah.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi orang itu menyanggah, &#8216;Bukan!&#8217; Asy Syibly bertanya, &#8216;Lantas, sabar yang mana?&#8217; Orang itu menjawab, &#8216;Sabar berjauhan dengan Allah.&#8217; Mendengar jawaban itu asy-Syibly berteriak sedemikian rupa sehingga nyaris ruhnya melayang&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Muhammad Ahmad al Jurairy menjelaskan, &#8220;Sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai dengan ketentraman pikiran dalam keduanya. Bersikap sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salah seorang Sufi menyenandungkan:<br />
Aku bersabar dan aku belum melihat kehendak Mu atas sabarku<br />
Dan kusembunyikan petaka yang Kau kenakan pada diriku, di tempat sabar.<br />
Takut bahwa hatiku akan menge1uh tentang deritaku.<br />
sampai air mataku mengalir, penuh rahasia<br />
Dan aku tak tahu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq berkomentar, &#8220;Orang yang sabar akan mencapai derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, sebab mereka telah mendapat derajat &#8216;kesertaan&#8217; di sisi Allah swt. sebagaimana firman Nya, &#8220;Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Anfal: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan mengenai arti firman Allah swt, &#8220;Hai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan katakanlah (dirimu kepada Allah).&#8221; (Q.s. Ali 1mran: 200), bahwa sabar (shabr) adalah berada di bawah tahap berteguh hati dalam kesabaran (mushaabarah) dan di bawah tahap mengaitkan diri kepada Allah (muraabathah).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8216;Bersabarlah&#8217; dengan dirimu dalam taat kepada Allah swt, &#8216;Berteguhlah dalam kesabaran&#8217; dengan hatimu dalam menghadapi cobaan cobaan yang berkaitan dengan Allah swt. dan &#8216;kaitkanlah&#8217; jiwamu terhadap kerinduan kepada Allah swt. Juga dikatakan, &#8216;Bersabarlah&#8217; kepada Allah, &#8216;berteguhlah dalam kesabaran&#8217; dengan Allah, dan &#8216;kaitkanlah&#8217; jiwamu dengan Allah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Daud as, &#8220;Berakhlaklah dengan Akhlak Ku. Diantaranya adalah bahwa Aku adalah Yang Maha Penyabar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seraplah kesabaran. Jika ia membunuhmu, engkau akan mati sebagai syahid. Jika ia menghidupimu, maka engkau akan hidup sebagai seorang yang mulia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Kesabaran untuk Allah adalah kesukaran, sabar dengan Allah adalah baqa&#8217;, sabar jauh di dalam Allah adalah cobaan, dan sabar jauh dari Allah adalah sangat hampa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Para Sufi bersyair:<br />
Kesabaran berjauhan dengan Mu tercela akibatnya,<br />
Namun terpujilah segala kesabaran yang lain.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mereka juga membacakan:<br />
Bagaimana sabar, orang yang lepas dari Ku laksana utara dan selatan,<br />
Ketika orang orang bermain main di segala hal<br />
Aku melihat cinta bermain dengan orang orang itu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Sabar dalam mencari pemenuhan hidup adalah tanda kemenangan, dan sabar dalam kesukaran adalah tanda keselamatan.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersikap teguh dalam kesabaran adalah sabar dalam bersabar, sampai kesabaran tenggelam dalam kesabaran dan kesabaran berputus asa dari kesabaran, sebagaimana dikatakan syair:</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar orang yang, sabar hingga kesabaran meminta pertolongan kepadanya.<br />
Sang pecinta berseru kepada kesabaran, &#8216;Sabarlah&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Syibly sedang ditahan di rumah sakit jiwa, dan sekelompok orang datang menjenguknya. Ia bertanya, &#8220;Siapa kalian ini?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami adalah sahabat sahabat tercintamu yang datang untuk mengunjungmu.&#8221; Maka Syibly lalu mulai melempari mereka dengan batu hingga mereka pun berlarian. Ia berteriak, &#8220;Wahai para pendusta jika kalian memang sahabat sahabatku, niscaya kalian akan sabar ketika aku diuji&#8221;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam suatu riwayat disebutkan, &#8220;Demi Penglihatan Ku, apa yang dipikul oleh mereka yang memikul beban demi Aku, adalah dalam penglihatan Ku.&#8221;<br />
Allah swt. berfirman: &#8220;Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.&#8221; (Q.s. AthThuur: 48).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengabarkan, &#8220;Aku sedang berada di Mekkah &#8211; semoga Allah swt. menjaganya &#8211; dan kulihat seorang fakir sedang melakukan thawaf. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya, melihatnya, kemudian meneruskan thawafnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berikutnya kulihat la melakukan hal yang sama. Aku memperhatikannya selama beberapa hari, dan ia terus berbuat demikian. Lalu pada suatu hari ia berjalan mengelilingi Ka&#8217;bah, melihat kertas itu, mundur beberapa langkah, kemudian jatuh dan mati. Aku mengambil kertas yang ada di sakunya, dan di dalamnya tertulis, &#8216;Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian Sufi berkata, &#8220;Aku masuk ke negeri India dan aku melihat seorang pemuda bermata satu, yang dijuluki orang &#8216;Si Fulan yang Sabar&#8217;. Ketika aku bertanya tentangnya, orang mengatakan kepadaku, &#8216;Semasa muda, seorang sahabatnya berangkat untuk bepergian jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sahabatnya itu berpamitan, meneteslah air mata dari salah satu kelopak matanya, namun kelopak matanya yang sebelah lagi tidak. Ia katakan kepada bola matanya yang tidak menangis itu, &#8216;Mengapa engkau tidak menangis atas keberangkatan sahabatku? Engkau kularang melihat dunia ini!&#8217; Lalu ditutupnya matanya itu, dan selama enampuluh tahun belum pernah dibukanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan tentang firman Allah swt, &#8220;Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik,&#8221; (Q.s. AI Ma&#8217;arij: 5), bahwa &#8220;sabar yang baik&#8221; itu adalah sabar yang mencegah diketahuinya korban yang terkena penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khaththab r.a. berkata, &#8220;Seandainya kesabaran dan syukur itu adalah dua ekor unta, bagiku akan sama saja mana yang akan kukendarai.&#8221;<br />
Ketika terkena cobaan, Ibnu Syabramah semoga Allah swt. merahmatinya biasa mengatakan, &#8220;Semua ini hanyalah awan,&#8221; dan cobaan itu akan berlalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjelaskan:<br />
&#8220;(Iman) adalah keteguhan hati dalam bersabar dan bersikap murah hati.&#8221; (H.r. Abu Ya&#8217;la dan Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">As Sary ditanya tentang sabar, dan ia mulai berbicara. Lalu seekor kalajengking merayap ke kakinya dan menyengatnya beberapa kali, namun ia sama sekali tidak bergeming. Seseorang bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau tidak mencampakkannya?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku malu kepada Allah swt. untuk berbicara tentang sabar sedang aku sendiri tidak bersabar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis dikatakan, &#8220;Orang orang miskin yang sabar akan bersama di majelis Allah swt. dihari Kebangkitan.&#8221;<br />
Allah swt. mewahyukan kepada salah seorang Nabi Nya, &#8220;Aku menurunkan cobaan kepada hamba Ku, lalu ia berdoa kepada Ku. Tetapi aku menangguhkan doanya dan ia mengeluh kepada Ku. Maka Aku lalu bertanya, &#8216;Wahai hamba Ku, bagaimana Aku mengasihimu dari suatu yang dengannya Aku mengasihimu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu &#8216;Uyaynah berkomentar mengenai arti firman Allah swt, &#8220;Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar,&#8221; (Q.s. As Sajdah: 24), bahwa artinya adalah, &#8220;Karena mereka memahami kepedulian pokok persoalan, maka Kami angkat mereka sebagai pemimpin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Kondisi bersabar adalah jika engkau tidak berkeberatan terhadap apa yang telah ditetapkan (takdir), sedangkan menampakkan cobaan tanpa rnengeluh, maka hal ini tidaklah menghilangkan sabar. Allah swt. berfirman dalam kisah Nabi Ayyub as, &#8220;Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dialah sebaik baik hamba. Sesungguhnya ia senantiasa berpaling (kepada Kami).&#8221; (Q.s. Shaad: 44). Allah memfirmankan ini meskipun Ayyub berkata, &#8220;Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit.&#8221; (Q.s. AI Anbiya&#8217;: 83).&#8221; Dan saya mendengar beliau mengatakan, &#8216;Allah menyebutkan ucapan Ayyub ini agar ucapan tersebut menjadi jalan ke luar bagi orang orang yang lemah di antara ummat lni&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, Allah swt. berfirman, &#8220;Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar (shabir)&#8221;. Dia tidak berfirman, &#8220;yang paling sabar (shabur),&#8221; sebab Ayyub tidaklah sabar sepanjang waktu. Sebaliknya, terkadang beliau merasa senang terhadap cobaan yang menimpa dirinya dan mendapati cobaan tersebut menyenangkan. Pada saat menyenangi cobaan tersebut, beliau bukanlah orang yang sabar; karena itu Allah tidak menyebutkan, yang paling sabar&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menegaskan, &#8220;Hakikat sabar adalah jika si hamba keluar dari cobaan dalam keadaan seperti ketika memasukinya, sebagaimana dikatakan oleh Ayyub as. pada akhir cobaan yang menimpa diri beliau, &#8216;Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua Yang menyayangi.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ayyub memperlihatkan sikap berbicara yang layak dengan ucapannya, &#8216;Dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi,&#8217; tetapi beliau tidak berkata secara jelas, dengan kata kata, &#8216;Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepadaku&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar ada dua macam: Sabar para ahli lbadat (abidin) dan sabar Para pecinta (muhibbin). Mengenai sabar para ahli ibadat, adalah lebih baik jika sabar macam ini dipelihara.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai arti syair ini, saya telah mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan, &#8220;Yaqub as. telah menyiapkan dirinya untuk bersabar. Karenanya, beliau lalu mengatakan, &#8216;Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).&#8217; Artinya, &#8216;Sikapku adalah bersabar dengan sabar yang baik.&#8217; Namun belum sampai malam tiba, beliau sudah mengatakan, &#8216;Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!&#8217; (Q.s. Yusuf . 84).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/bersabarlah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedih (jangan bersedih)</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 09:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita&#8217;.&#8221; (Q.s. Fathir: 34).
Diriwayatkan darl Abu Sa&#8217;id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita&#8217;.&#8221; (Q.s. Fathir: 34).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan darl Abu Sa&#8217;id al Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya.&#8221; (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).</p>
<p><span id="more-101"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, &#8220;Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan.&#8221; Dalam hadis dikatakan, &#8220;Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Kitab Taurat disebutkan, &#8220;Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam hatinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisyr bin Harits mengatakan, &#8220;Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. &#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sa&#8217;id al Qurasyi berkomentar, &#8220;Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).  Ibnu Khafif menjelaskan, &#8220;Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rabi&#8217;ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, &#8220;Aduhai, kesedihan!&#8221; Rabi&#8217;ah menyela, &#8220;Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sufyan bin &#8216;Uyainah mengatakan, &#8220;Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dawud ath-Tha&#8217;y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa, &#8220;Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku.&#8221; Dan Allah pun menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa.&#8221;  Salah seorang Sufi ditanya, &#8220;Dengan apa kesedihan manusia dinilai?&#8221; Ia Menjawab, &#8220;Dengan banyaknya ratapan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">As Sary as-Saqathy berkata, &#8220;Aku ingin sendainya kesedihan seluruh manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku.&#8221; Banyak orang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini patut dicela.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, &#8220;Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan, &#8220;Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari seorang yang tertimpa kesedihan&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.  Ketika Fudhail bin &#8216;Iyadh meninggal dunia, Waki&#8217; mengatakan, &#8220;Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, &#8220;Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;Iyadh berkomentar, &#8220;Kaum salaf mengatakan, &#8216;Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang&#8217;.&#8221;  Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab, &#8220;Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/sedih-jangan-bersedih.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubudiyah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 11:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ubudiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.&#8221; (Q.s. AI Hijr: 99).
Diriwayatkan oleh Abu Sa&#8217;id al Khudry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil; pemuda yang bersemangat dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.&#8221; (Q.s. AI Hijr: 99).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abu Sa&#8217;id al Khudry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil; pemuda yang bersemangat dalam ibadat kepada Allah swt.; seseorang yang hatinya berkait dengan masjid sejak saat ia keluar hingga kembali (ke masjid); dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena Allah; seseorang yang mengingat Allah swt. hingga air matanya mengalir, serta seseorang yang digoda seorang wanita baik dan cantik, lantas menjawab dengan ucapan, Aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam,&#8217;, dan seseorang yang bersedekah dengan diam diam hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.&#8221; (H.r. Bukhari Muslin2, Tirmidzi dan Nasa&#8217;i).</p>
<p><span id="more-95"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Ubudiyah adalah lebih sempurna daripada ibadat. Karena itu, pertama tama adalah ibadat, lalu ubudiyah, dan akhimya abudah. Ibadat adalah amalan kaum awam, ubudiyah adalah amalan kaum terpilih (khawash), dan abudah adalah amalan kaum yang sangat terpilih (khawashul khawash).”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga mengatakan, &#8220;Ibadat adalah untuk orang yang memiliki ilmul yaqin, ubudiyah untuk orang yang memiliki &#8216;ainul yaqin dan abudah untuk orang yang memiliki haqqul yaqin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga berkomentar, &#8220;Ibadat adalah untuk orang yang sedang berjuang keras (mujahadah), ubudiyah untuk orang yang sangat tahan menanggung kesukaran (mukabidat), dan abudah adalah sifat ahli musyahadah. Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya berada dalam keadaan ibadat, dan siapa yang tidak bakhil jiwanya dialah pemilik ubudiyah, dan siapa yang tidak bakhil ruhnya, dialah pemilik abudah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah menegakkan tindak tindak ketaatan yang sejati, dengan khusyu&#8217;, memandang diri dengan mata yang terbatas, dan menyadari bahwa amal amal kebajikan hanya dapat terlaksana berkat ketentuan takdir.&#8221;<br />
Dikatakan pula, &#8220;Ubudiyah berarti meninggalkan ikhtiar sendiri ketika menghadapi takdir Ilahi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan Nya kepadamu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah menyambut apa pun perintah yang diberikan kepadamu dan memisahkan dirimu dari apa pun yang engkau dilarang atasnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Khafif ditanya, &#8220;Bilakah ubudiyah itu sah?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Apabila seseorang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. dan memiliki kesabaran terhadap-Nya dalam menjalani cobaan Nya.&#8221;<br />
Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Bagi siapa pun, ubudiyah tidaklah shahih sampai ia tidak mempedulikan empat hal: Kelaparan, ketelanjangan, kemiskinan dan kehinaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Ubudiyah adalah hendaknya engkau menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan menanggungkan segala perbuatan kepada-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Salah satu tanda ubudiyah adalah bahwa engkau meninggalkan angan angan sendiri dan mempersaksikan takdir.&#8221;<br />
Dzun Nuun al Mishry menjelaskan, &#8220;Ubudiyah adalah bahwa engkau menjadi hamba-Nya dalarn setiap kondisi, seperti halnya Dia adalah Tuhanmu di setiap kondisi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad jurairy menjelaskan, &#8220;Penghamba kenikmatan banyak sekali, tapi sedikit sekali yang menjadi penghamba Sang Pemberi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikatpada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda:<br />
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian bagus.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali al Jurjany berkata, &#8220;Merasa ridha adalah rumah ubudiyah. Sabar adalah pintunya, penyerahan total adalah rumahnya. Suara di atas pintu, kegaduhan di dalam tempat tinggal, dan keringanan jiwa ada di rumah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, &#8220;Sebagaimana rububiyah sebagai sifat Allah swt. yang tak pernah sirna, maka ubudiyah adalah sifat hamba yang tak pernah pisah. Sebagian Sufi bersyair: jika kau tanya padaku, aku berkata, &#8220;Indah, aku hamba-Nya.&#8221; Dan jika mereka tanya kepada-Nya, Dia berkata, &#8220;Indah, dia hamba Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">An Nashr Abadzy menegaskan, &#8220;Amal amal ibadat lebih dekat pada pencarian maaf dan ampunan atas kekurangan kekurangan daripada permohonan imbalan dan pahala.&#8221; Ia juga mengatakan, &#8220;Ubudiyah berarti kehilangan kesadaran akan pengabdian ketika menyaksikan Yang Maha Disernbah. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Al junayd mengatakan, &#8220;Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal hal yang merupakan dasar kebebasan.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ubudiyah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Pergunjingan</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya Pergunjingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik saudaranya kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat lagi Maha penyayang. (Q.s. Al 14ujurat: 12).
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ada seseorang laki-laki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik saudaranya kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat lagi Maha penyayang. (Q.s. Al 14ujurat: 12).</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ada seseorang laki-laki yang ikut duduk bersama Rasulullah saw, kemudian ia pergi. Salah seorang yang hadir berkata, &#8220;Alangkah lemahnya orang itu.&#8221; Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Engkau telah memakan daging saudaramu ketika engkau menggunjingnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. mewahyukan kepada Musa as, &#8220;Barangsiapa meninggal dengan bertobat dari menggunjing, akan menjadi orang terakhir Yang masuk surga, dan barangsiapa meninggal dengan berterus-terusan melakukan pergunjingan itu, akan menjadi orang yang pertama masuk neraka.&#8221;</p>
<p><span id="more-97"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Auf menuturkan, &#8220;Aku datang kepada Ibnu Sirin, aku menggunjing al Hajaj. Ibnu Sirin berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah swt. adalah hakim yang paling adil, maka sebanyak yang diambilnya dari al Hajai, sebanyak itu Pula yang diberikan Nya kepadanya. Ketika engkau berjumpa dengan Allah swt. di akhirat nanti, dosa sekecil apa pun yang telah dilakukan Hajaj akan menjadi lebih besar bagimu daripada dosa terbesar yang telah dilakukan al Hajjaj&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta, dan ia pun bersedia menghadirinya. Ketika orang orang membicarakan seseorang yang tidak hadir, mereka mengatakan &#8220;Ia seorang yang kurus kering dan tidak menarik.&#8221; Ibrahim berkata &#8220;Inilah yang dilakukan nafsuku terhadap diriku: Kutemukan diriku dalam perkumpulan di mana pergunjingan dilakukan.&#8221; Ia lalu Pergi begitu saia, setelah itu ia tidak makan selama tiga hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Barangsiapa menggunjing orang lain adalah seperti orang yang menyiapkan ketepil. Ia menembak amal-amal baiknya sendiri dengan perbuatannya itu ke Barat dan ke Timur. Ia menggunjing seseorang dari Khurasan, seorang lagi dari Hijaz, seorang lagi dari Turki, ia mencerai beraikan amal amal baiknya sendiri, dan ketika berdiri, tak satu pun amal baiknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari Kiamat, tetapi ia tidak melihat satu pun amal baik di dalamnya. la akan bertanya, &#8216;Di mana shalat, puasa dan amal amal ibadatku yang lain?&#8217; Dikatakan kepadanya, &#8216;Semua amalmu telah hilang karena engkau terlibat dalam pergunjingan&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Barangsiapa digunjing, Allah mengampuni separo dosanya.&#8221;<br />
Sufyan ibnul Husain mengabarkan, &#8220;Aku sedang duduk duduk dengan Iyas bin Mu&#8217;awiyah, dan menggunjing seseorang. Iyas bertanya kepadaku, Apakah engkau telah menyerang orang orang Romawi atau Turki tahun ini?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menjawab, &#8216;Tidak.&#8217; Iyas berkata, &#8216;Orang orang Turki dan Romawi telah selamat dari seranganmu, sementara saudaramu sendiri yang Muslim tidak&#8217;!&#8221; Dikatakan, &#8220;Seorang manusia akan diberi catatan amalnya di hari Kiamat, dan ia menemukan di dalamnya amal amal baik yang tidak pernah diperbuatnya. Dikatakan kepadanya, &#8216;Ini adalah imbalan bagi gunjingan orang terhadapmu, yang tidak kamu ketahui&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sufyan ats Tsaury ditanya tentang sabda Nabi saw, &#8220;Sesungguhnya Allah membenci keluarga pemakan daging manusia.&#8221; (H.r. Baihaqi). Sufyan mengomentari, &#8220;Yang dimaksud di sini adalah orang orang yang menggunjing; mereka memakan daging manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menggunjing ditanyakan di hadapan Abdullah Ibnul Mubarak, ia berkata, &#8220;Jika aku mengunjing seseorang, niscaya aku akan menggunjing kedua orangtuaku, sebab merekalah yang paling berhak atas amal amal baikku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz berkata, &#8220;Jadikanlah keuntungan seorang Muslim terhadap dirimu berupa tiga hal ini: jika engkau tidak bisa membantunya, maka janganlah engkau mengganggunya; Jika engkau tidak bisa memberinya kegembiraan, maka janganlah engkau rnembuatnya sedih; Jika engkau tidak bisa memujinya, maka janganlah engkau mencari cari kesalahannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan kepada Hasan al Bashry, &#8220;Si Fulan telah menggunjing Anda.&#8221; Maka al Hasan lalu. mengirimkan kue kue kepada orang yang rnenggunjingnya, dengan pesan, &#8216;Aku mendengar bahwa engkau telah melimpahkan amal baikmu kepadaku. Aku ingin membalas kebaikanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. Telah bersabda, &#8220;Jika orang melepaskan tabir rasa malu dari wajahnya, niscaya tidak akan ada masalah pergunjingan baginya.&#8221; (H.r. Ibnu Addi dan Abu asy Syeikh)</p>
<p style="text-align: justify;">Al Junayd menuturkan, &#8220;Aku sedang duduk duduk di masjid asy Syuniziyah, menunggui jenazah agar aku bisa ikut melaksanakan shalat jenazah. Orang orang Baghdad dengan berbagai kelasnya duduk menunggu iringan tersebut. Lalu aku melihat seorang miskin yang kelihatan bekas ibadatnya mengemis dari orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata kepada diriku sendiri, &#8216;Jika orang ini mau bekerja untuk memperoleh rezekinya, Itu akan lebih baik baginya.&#8217; Ketika aku kembali ke rumah, maka seperti biasanya, aku mulai melakukan wirid di malam hari, rnenangis dan shalat, serta amalan amalan lainnya. Tetapi semua wiridku itu terasa memberatkan jiwaku, maka aku lalu tidak dapat tidur, dan hanya duduk duduk saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku terjaga, kantuk datang kepadaku, aku melihat si pengemis itu. Kulihat orang orang sedang meletakkan tubuhnya di atas sehamparan kain yang lebar, dan mereka memerintahkan kepadaku, &#8216;Makanlah daging orang ini, karena engkau telah menggunjingnya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan orang itu diungkapkan kepadaku, dan aku memprotes, Aku tidak menggunjingnya! Aku hanya mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri.&#8217; Lalu dikatakan kepadaku, &#8216;Perbuatan seperti itu pun tidak layak. Pergilah kepada orang itu dan meminta maaflah!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Paginya aku terus mencari orang itu, sampai aku menemukannya sedang mengumpulkan dedaunan yang tersisa dalam air yang digunakan untuk mencuci sayur mayur. Ketika aku memberi salam kepadanya, ia bertanya, &#8216;Wahai Abul Qasim, apakah engkau datang ke sini lagi?&#8217; Aku menjawab,&#8217;Tidak&#8221; Ia berkata, &#8216;Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosamu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ja&#8217;far al Balkhy berkata, &#8220;Seorang pemuda dari kalangan warga Balkh sedang berada di antara kami, ia bermujahadah dan mengabdikan dirinya untuk melayani Allah. Hanya saja ia terus menerus terlibat dalam gunjingan. Ia suka mengatakan, &#8216;Si Fulan dan si Fulan itu demikian.&#8217; Pada suatu hari aku melihatnya sedang mengunjungi beberapa tukang memandikan jenazah yang disebut orang sebagai &#8216;orang orang banci&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pemuda itu meninggalkan mereka, aku bertanya kepadanya, &#8216;Wahai Fulan, apa yang telah terjadi padamu?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Beginilah akibatnya atas perbuatan menggunjing. Hal itu telah mencampakkanku dalam kehinaan ini. Aku telah tergila gila kepada salah seorang banci dan aku melayani mereka atas namanya. Semua amal ibadatku sebelumnya telah musnah. Maka doakan agar Allah swt. mengasihiku&#8217;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/bahaya-pergunjingan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ridho</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ridho.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ridho.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 11:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ridho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya.&#8221; (Q.s. Al Maidah: 119; Al Bayyinah: 8.)
Jabir r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Para penghuni surga akan berada di dalam sebuah majelis ketika suatu cahaya dari pintu gerbang surga menyinari mereka. Mereka akan mengangkat kepala dan Allah swt. akan memandang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya.&#8221; (Q.s. Al Maidah: 119; Al Bayyinah: 8.)</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Para penghuni surga akan berada di dalam sebuah majelis ketika suatu cahaya dari pintu gerbang surga menyinari mereka. Mereka akan mengangkat kepala dan Allah swt. akan memandang mereka dan berfirman, &#8220;Wahai penghuni surga, mintalah kepada Ku apa yang kalian menginginkan!&#8221; Mereka akan menjawab, &#8216;Kami mohon agar Engkau ridha kepada kami.&#8217; Allah swt. menjawab, &#8216;Keridhaan Ku telah membawa kalian ke rumah Ku, dan Aku telah memberi kalian kemuliaan Ku. Ini adalah saat yang tepat, maka bermohonlah kepada Ku!&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Kami memohon tambahan selain ini&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Rasul saw. bersabda, &#8220;Kemudian mereka akan dibawakan kendaraan istimewa dari mutu manikam, kendalinya dari zamrud hijau dan manikam merah. Mereka menaikinya, dan kendaraan itu akan melesat cepat melebihi kecepatan penglihatan mata. Lalu Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">memerintahkan buah-buahan yang lezat serta bidadari supaya dibawa kepada mereka, dan para bidadari itu akan berkata, &#8216;Kami adalah penghibur kenikmatan yang gemulai, dan kami tidak akan menjadi layu. Kami abadi dan tidak akan mati. Jodoh bagi kaum beriman yang mulia.&#8217;</p>
<p><span id="more-92"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Allah akan memerintahkan agar didatangkan minyak misik putih yang harum semerbak, dan mereka akan berputar berkeliling dibawa angin yang disebut &#8216;al-Mutsirah&#8217; sampai akhirnya mereka dibawa ke Surga &#8216;Adn, yang merupakan pusat surga. Para malaikat akan menyerukan, &#8216;Wahai Tuhan kami, mereka telah datang.&#8217; Allah swt. berfirman, &#8216;Selamat datang orang-orang yang benar, selamat datang orang-orang yang taat&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Maka tabir pun akan disingkapkan bagi mereka. Mereka akan memandang kepada Allah swt, dan mereka akan menikmati Cahaya Yang Maha Pengasih hingga mereka tidak akan melihat satu sama lain. Kemudian Allah swt. memerintahkan, &#8216;Kembalikanlah mereka ke istana-Istana mereka dengan hadiah&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. melanjutkan, &#8220;Mereka akan dibawa kembali ke tempat tinggal mereka dan akan dapat saling pandang lagi.&#8221; Lalu Rasulullah saw. menjelaskan, &#8220;Itulah yang dimaksud dengan firman Allah swt, &#8216;Sebagai hadiah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.s. Fushshilat: 32).&#8221; (H.r. Ibnu an Najjar dan al Bazzar).</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat mengenai ridha. Apakah ia termasuk keadaan ruhani (ahwaal) ataukah maqam? Ulama Khurasan mengatakan, &#8220;Ridha adalah salah satu maqam, sebagai puncak dari tawakkal kepada Allah swt. Ini berarti bahwa ridha dapat dicapai oleh si hamba dengan upayanya sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang ulama Iraq mengatakan, &#8220;Ridha adalah salah satu ahwal, bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya si hamba. Ridha adalah sesuatu yang memasuki hati, seperti halnya haal-haal yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kompromi antara dua pandangan ini dapat diajukan, dengan pernyataan demikian, &#8216;Awal ridha adalah sesuatu yang dicapai oleh si hamba dan merupakan maqam, meskipun pada akhirnya ridha merupakan kondisi ruhani (haal) dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang berbicara tentang ridha, masing masing mengungkapkan keadaan dan konsumsi ruhaninya. Maka ungkapan pendapat mereka berbeda-beda, sebagaimana berbedanya pengalaman meneguk ruhani dan bagian masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara syarat ilmu, maka menjadi keharusan. Orang yang ridha dengan Allah swt. adalah orang yang sama sekali tidak menentang takdir Nya.<br />
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, ridha hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan qadha Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah, kewajiban bagi hamba adalah rela terhadap ketentuan Allah swt. yang telah diperintahkan agar ia ridha dengannya. Sebab tidaklah setiap ketentuan itu mengharuskan ia ridha, atau boleh ridha dengan qadha tersebut, misalnya kemaksiatan dan banyaknya fitnah yang menimpa kaum Muslimin.<br />
Para syeikh berkomentar, &#8220;Keridhaan adalah gerbang Allah swt. yang terbesar.&#8221; Maksud mereka adalah, bahwa barangsiapa mendapat kehormatan dengan ridha, berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi.&#8221;<br />
Abdul Wahid bin Zaid menjelaskan, &#8220;Keridhaan adalah gerbang Allah yang teragung dan surga dunia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa si hamba tidak akan mendekati derajat ridha kecuali Allah swt. ridha terhadapnya, sebab Allah swt. telah berfirman, “Allah rldha kepada mereka, dan mereka pun rela kepada Nya.&#8221; (Q.s. Al Maidah: 119).<br />
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, &#8220;Seorang murid bertanya kepada gurunya, Apakah si hamba mengetahui jika Allah ridha kepadanya?&#8217; Sang guru menjawab, &#8216;Tidak, bagaimana dapat mengetahuinya, sedang ridha-Nya gaib?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Si murid berkata, &#8216;Sungguh ia tahu hal itu! jika aku mendapati hatiku ridha kepada Allah swt, maka aku tahu bahwa Dia ridha kepadaku.&#8217; Maka sang guru lalu berkata, &#8216;Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda&#8217;. &#8221;<br />
Ketika Musa as. berdoa, &#8220;Ilahi, bimbinglah aku kepada amal yang mendatangkan keridhaan Mu.&#8221; Allah swt. menjawab, &#8220;Engkau tidak akan mampu melakukannya.&#8221; Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah swt. lalu mewahyukan kepadanya, &#8220;Wahai putra Imran, keridhaan Ku ada pada keridhaanmu menerima ketetapan Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdurrahman ad-Darany mengatakan, &#8220;Jika si hamba membebaskan dirinya dari ingatan terhadap hawa nafsu, maka ia akan mencapai ridha.&#8221;<br />
An-Nashr Abadzy menegaskan, &#8220;Barangsiapa ingin mencapai derajat kerelaan, hendaklah berpegang teguh apa apa yang padanya Allah telah menempatkan keridhaan-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah bin Khafif menjelaskan, &#8220;Ada dua macam ridha: Ridha dengan Allah swt. dan ridha terhadap apa yang datang dari-Nya. Ridha dengan Allah swt, berarti bahwa si hamba rela terhadap-Nya sebagai Pengatur. Dan ridha terhadap apa yang datang dari Nya berkaltan dengan apa yang telah ditetapkan Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Jalan sang pengembara ruhani (salikin) itu lebih panjang, dan itulah jalan olah ruhani, jalan kaum terpilih (khawash) lebih singkat, tapi lebih sulit dan menuntut agar engkau bertindak sesuai dengan keridhaan dan juga ridha dengan takdir.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ruwaym mengatakan, &#8220;Keridhaan adalah jika Allah meletakkan neraka jahanam di tangan kanannya, maka ia tidak akan meminta agar Dia memindahkannya ke tangan kirinya.&#8221;<br />
Abu Bakr bin Thahir berkomentar, &#8220;Keridhaan adalah menghilangkan kesedihan dari hati hingga tidak sesuatu pun yang tinggal selain kebahagiaan dan kegembiraan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Wasithy mengajarkan, &#8220;Manfaatkanlah keridhaan sebesar-besarnya, dan jangan biarkan ia memanfaatkan dirimu, agar kemanisan dan wawasannya tidak menabirimu dari kebenaran batin yang menyangkut penglihatanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa kata-kata al-Wasithy tersebut sangat penting. Di dalamnya terdapat peringatan yang tersirat bagi ummat sebab ridha terhadap keadaan ruhani belaka merupakan tabir yang menabiri Si Pemberi derajat keadaan ruhani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang menemukan kesenangan dalam ridha dan mengalami nikmatnya ridha dalam hatinya, maka ia telah tertabiri oleh keadaannya sendiri dari musyahadah kebenaran batin. Al-Wasithy juga mengingatkan, &#8220;Waspadalah terhadap perasaan nikmat karena amal ibadat, sebab itu adalah racun yang membawa maut. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Khafif berkata, &#8220;Ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Allah swt. dan keserasian hati dengan apa yang menjadikan Allah swt. ridha dan dengan apa yang dipilih Nya.&#8221; Ketika Rabi&#8217;ah al-Adawiyah ditanya, &#8220;Bilakah seorang hamba dipandang ridha?&#8221; Ia menjawab, &#8216;Apabila baginya penderitaan sama menggembirakannya dengan anugerah nikmat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa asy-Syibly menegaskan di hadapan al-junayd, &#8220;Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah, (laa haula wa laa quwwata illa billaah),&#8221; dan al-Junayd mengatakan kepadanya, &#8220;Ucapanmu itu merupakan ungkapan dada yang sempit, dan dada sempit (sedih) karena meninggalkan ridha pada ketentuan Nya.&#8221; Asy-Sylbly lalu terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, &#8220;Ridha adalah jika engkau tidak meminta surga kepada Allah swt. atau berlindung kepada Nya dari neraka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, &#8216;Ada tiga tanda ridha, tidak punya pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), tidak merasakan kepahitan setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta di tengah tengah cobaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan kepada al-Husain putra Ali bin Abu Thalib ra, &#8220;Abu Dzar mengatakan, &#8216;Kemiskinan lebih kucintai daripada kekayaan, dan sakit lebih kucintai daripada kesehatan.&#8217; Al-Husain menjawab, &#8216;Semoga Allah mengasihani Abu Dzar. Kalau aku sendiri, berpendapat, &#8216;Orang yang menaruh pilihan baik Allah swt. baginya, tidak akan berkeinginan selain dari apa yang telah dipilihkan Allah swt. baginya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Fudhail bin &#8216;Iyadh mengatakan kepada Bisyr al-Hafi, &#8220;Ridha adalah lebih baik daripada hidup zuhud di dunia ini, sebab orang yang rela tidak pernah berkeinginan akan sesuatu di luar keadaannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Abu Utsman ditanya tentang sabda Nabi saw, &#8216;Aku memohon kepada Mu ridha setelah diputuskannya ketetapan-Mu. &#8221; Dijelaskannya, &#8220;Ini karena ridha sebelum diputuskannya ketetapan Allah, berarti adanya niat kuat untuk ridha, tetapi ridha setelah diputuskannya ketetapan adalah ridha itu sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman berkata, &#8220;Seandainya aku ingin mengetahui sebagian kecil saja tentang ridha. Sekalipun itu akan menyebabkan aku masuk ke neraka, aku akan menjadi orang yang ridha.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Umar ad-Dimasyqi mengatakan, &#8220;Ridha adalah hilangnya kesedihan terhadap perintah yang mana pun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junayd berkata, &#8220;Ridha berarti meniadakan pilihan.&#8221;<br />
Ibnu Atha&#8217; menegaskan, &#8220;Ridha adalah mengarahkan perhatian hati pada berlalunya qadha bagi si hamba, yaitu meninggalkan ketidak senangan terhadapnya.&#8221; Ruwaym berkata, &#8220;Ridha, tenangnya hati dalam menjalani ketetapan (Allah).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">An-Nury mengatakan, &#8220;Ridha adalah senangnya hati atas pahitnya nasib.&#8221;<br />
AI-Jurairy mengatakan, &#8220;Barangsiapa ridha tanpa batas, Allah swt. akan mengangkat derajaatnya di luar batas.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Turab an-Nakhsyaby menjelaskan, &#8220;Siapa pun tidak akan pernah mendapatkan ridha manakala dalam hatinya ada seberat biji sawi dunia.&#8221;<br />
Diriwayatkan oleh al-Abbas bin Abdul Muthallb, bahwa Rasulullah saw. menjelaskan, &#8220;Orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, akan merasakan nikmatnya iman.&#8221; (H.r. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa Umar bin Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al Asy&#8217;ary, &#8220;Amma ba&#8217;du&#8230; Bahwa segala kebaikan terletak didalam keridhaan. Maka jika engkau mampu jadilah orang yang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah kisah disebutkan, bahwa Utbah al-Ghulam biasa menghabiskan malam malamnya hingga pagi dengan berucap, &#8220;jika Engkau menghukumku, aku akan mencintai Mu, dan jika Engkau mengasihi aku, aku pun tetap mencintai Mu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, &#8220;Manusia dibuat dari lempung, dan lempung itu tiada bernilai untuk menentang keputusan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Seorang laki-laki marah kepada salah seorang budaknya, maka si budak lalu minta bantuan seorang laki-laki lainnya untuk menjadi penengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tuannya telah memaafkannya, si budak lalu menangis, dan si penengah bertanya, &#8216;Mengapa engkau menangis, sedangkan tuanmu telah memaafkanmu?&#8217; Si tuan berkata kepadanya, ia menginginkan ridhaku, dan tidak ada jalan lagi baginya untuk memperolehnya. Karena itu ia menangis &#8216;. &#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ridho.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejujuran</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/kejujuran.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/kejujuran.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 10:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Kejujuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.&#8221; (Q.s. At-Taubah: 119).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur; dan jika ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.&#8221; (Q.s. At-Taubah: 119).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur; dan jika ia tetap berbuat dusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.&#8221; (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran (shidq) adalah tiang penopang segala persoalan, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan ini tercapai, dan melaluinya pula ada tata aturan. Kejujuran mengiringi derajat kenabian, sebagaimana difirmankan Allah swt.:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;…maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dan orang-orang yang menetapi kejujuran (shiddiqin), para syuhada&#8217; dan orang orang saleh.&#8221; (Q.s. An-Nisa&#8217;: 69).</p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kata shadiq (orang yang jujur) berasal dari kata shidq (kejujuran) Kata shiddiq adalah bentuk penekanan (mubalaghah) dari shadiq, dan berarti orang yang didominasi oleh kejujuran. Demikian juga halnya dengan kata-kata lain yang bermakna penekanan, seperti sikkir dan pemabuk, yang penuh anggur (khimmir).</p>
<p style="text-align: justify;">Derajat terendah kejujuran adalah bila batin seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shadiq adalah orang yang benar dalam kata-katanya. Shiddiqy adalah orang yang benar-benar jujur dalam semua kata-kata, perbuatan dan keadaan batinnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Khadhrawaih mengajarkan, &#8220;Barangsiapa ingin agar Allah bersamanya, hendaklah ia berpegang teguh pada kejujuran, sebab Allah swt. bersama-sama orang yang jujur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junayd berkata, &#8220;Orang yang jujur berubah empatpuluh kali dalam sehari, sedangkan orang riya&#8217; tetap berada dalam satu keadaan selama empatpuluh tahun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, &#8220;Jika orang yang jujur ingin menggambarkan apa yang ada dalam hatinya, maka lisannya tidak akan mengatakannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Bersikap jujur berarti menegaskan kebenaran, meskipun terancam kebinasaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">An-Naqqad mengatakan, &#8220;Sikap jujur berarti mencegah kedua rahang (syidq) dari mengucapkan apa yang terlarang. &#8221; Abdul Wahid bin Zaid berkomentar, &#8220;Sikap benar adalah kepada Allah swt. dalam tindakan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Seorang hamba yang menipu diri sendiri atau orang lain tidak akan mencium harum semerbaknya kebenaran. &#8221;<br />
Abu Sa&#8217;id al-Qurasyi mengatakan, &#8220;Orang yang jujur adalah orang yang siap mati dan tidak akan malu jika rahasianya diungkapkan. Allah swt. berfirman, &#8220;Maka inginkanlah kematian, jika kamu orang orang yang jujur.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 94).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, &#8220;Suatu hari Abu Ali ats-Tsaqafy sedang memberikan pelajaran, tiba-tiba Abdullah bin Munazil berkata kepadanya, &#8216;Wahai Abu Ali, siapkanlah diri Anda untuk mati, sebab tidak ada jalan untuk lari darinya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali menjawab, &#8216;Dan Anda, wahai Abdullah, siapkanlah diri untuk mati, sebab tidak ada jalan lari darinya.&#8217; Maka di saat itulah Abdullah merebahkan diri, membentangkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya dan mengatakan, Aku mati sekarang.&#8217; Abu Ali pun diam terpaku karenanya, dimana dirinya tidak mampu menandingi apa yang dilakukan Abdullah karena Abu Ali masih terpaut pada dunia, sedangkan Abdullah telah terbebas dari ikatan dunia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Muhammad ad-Dainury sedang berbicara di hadapan sekumpulan orang ketika seorang wanita di antara mereka berteriak. Abul Abbas memarahinya dengan kata-kata, &#8216;Matilah engkau!&#8217; Wanita itu bangkit, maju beberapa langkah, berpaling kepadanya dan berkata, &#8216;Aku telah mati.&#8217; Kemudian ia jatuh ke tanah dan mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Wasithy berkata, &#8220;Kejujuran adalah keyakinan yang kokoh terhadap tauhid bersama-sama dengan mati.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Abdul Wahid bin Zaid memandang kepada seorang pemuda di antara para sahabatnya, yang bertubuh kurus kering, dan Abdul Wahid bertanya kepadanya, &#8216;apakah engkau telah terlalu lama memperpanjang puasamu?&#8217; Pemuda itu menjawab, &#8216;Aku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan memperpanjang berbuka.&#8217; Kemudian Abdul Wahid bertanya, &#8216;Apakah engkau telah memperpanjang waktu bangun untuk shalat malammu?&#8217; Pemuda itu menjawab, &#8216;Bukan, bukan pula aku telah memperpanjang tidur.&#8217; Lalu Abdul Wahid pun bertanya, Apa yang telah membuatmu begitu kurus?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu menjawab, &#8216;Hasrat yang selalu berkobar dan rahasia terpendam yang abadi. &#8216;Abdul Wahid berseru, &#8216;Dengarlah, betapa beraninya pemuda ini!&#8217; Pemuda itu lalu berdiri, maju dualangkah dan berteriak, &#8216;Ya Allah, jika aku memang tulus, ambillah nyawaku sekarang juga!&#8217; lalu ia pun jatuh dan meninggalkan dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Amr az-Zujajy menuturkan, &#8220;Ibuku meninggal, dan aku mewarisi sebuah rumah beliau. Aku menjualnya dengan harga limapuluh dinar dan kemudian berangkat menunaikan ibadah haji.&#8221; Setiba di Babilonia, seorang penggali saluran air bertanya kepadaku, &#8216;Apa yang engkau bawa?&#8217; Aku berkata dalam hati, &#8216;Kejujuran adalah yang terbaik&#8217; dan aku menjawab, &#8216;Uang limapuluh dinar.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata, &#8216;Serahkanlah kepadaku!&#8217; Maka aku pun memberikan kantong uangku kepadanya. Dihitungnya jumlah semua uang di dalamnya, dan ternyata memang ada limapuluh dinar. Berkatalah ia, &#8216;Ambillah kembali uangmu! Kejujuranmu menyentuh hatiku.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia turun dari kudanya dan berkata, &#8216;Naiklah kudaku!&#8217; Aku balik berkata, &#8216;Aku tidak menginginkannya.&#8217; Ia berkata, &#8216;Harus &#8230;!&#8217; dan terus memaksaku menaiki kudanya. Akhirnya setelah aku bersedia naik di atasnya, ia berkata, &#8216;Aku di belakangmu.&#8217; Satu tahun kemudian ia berhasil menyusulku, dan tinggal bersamaku hingga akhir hayatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim al-Khawwas menjelaskan, &#8220;Orang jujur tidak memandang kecuali kewajiban yang harus ditunaikan, atau ibadat utama bagi Allah swt.&#8221;<br />
Al-Junayd berkata, &#8220;Inti kejujuran adalah bahwa engkau berkata jujur di wilayah yang apabila seseorang berkata jujur tidak akan selamat kecuali berdusta.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Tiga hal tidak pernah lepas dari seorang: jujur ucapannya, kehadiran yang kharismatis dan pancaran taat di wajahnya. &#8221; Dikatakan pula, &#8220;Allah swt. bersabda kepada Daud as, &#8216;Wahat Daud, barangsiapa menerima apa yang Kukatakan dengan sejujurnya dalam batinnya, niscaya Aku akan mengukuhkan sifat juiur di kalangan makhluk manusia dalam lahiriahnya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan Ibrahim bin Dawhah memasuki padang pasir bersama Ibrahim bin Sitanbah. Kata Ibnu Dawhah, &#8220;Ibnu Sitanbah mengatakan kepadaku, &#8216;Campakkanlah segala apa yang mengikatmu!&#8217; Aku melemparkan segala sesuatu yang ada padaku, kecuali uang satu dinar. Lalu ia berkata, &#8216;Wahai Ibrahim, janganlah engkau membebani pikiranku!</p>
<p style="text-align: justify;">Campakkanlah keterikatanmu!&#8217; Maka dinar itu pun lalu kulemparkan. Tapi lagi-lagi ia mengatakan, &#8216;Wahai Ibrahim, campakkanlah keterikatanmu!&#8217; Lalu aku ingat bahwa aku masih memiliki beberapa utas tali sandal cadangan, yang lalu kulemparkan juga. Selanjutnya, dalam perjalananku, setiap kali aku memerlukan tali sandal, maka muncullah seutas tali sandal di hadapanku. Ibrahim bin Sitanbah mengatakan, &#8216;Inilah orang yang beramal dengan Allah swt. secara jujur&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al-Mishry berkata, &#8220;Kejujuran adalah pedang Allah. Tidak satu pun diletakkan padanya, kecuali akan memotongnya.&#8221; Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8216;Awal pengkhianatan orang-orang jujur adalah munculnya keraguan dengan dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanya tentang kejujuran, Fath al-Maushaly memasukkan tangannya ke dalam bara api seorang tukang besi, mengambil sebatang besi yang merah membara, meletakkannya di telapak tangannya dan berkata, &#8220;Inilah kejujuran!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf bin Asbat berkata, &#8220;Aku lebih suka menghabiskan waktu semalam bersamaAllah swt. dalam kejujuran jiwa daripada berperang dengan pedangku dijalan-Nya.&#8221;  Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan, &#8220;Kejujuran adalah seperti engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al-Harits al-Muhasiby ditanya tentang tanda-tanda kejujuran, ia menjawab, &#8220;Orang yang jujur adalah orang yang manakala tidak peduli akan ketergantungan kalbu manusia kepada dirinya, tidak pula senang atas jasanya kepada manusia untuk dilihat, dan yang tidak peduli apakah popularitasnya di antara manusia akan lenyap. Ia bahkan tidak membenci bila perbuatan buruknya dilihat oleh orang banyak. Jika ia benci, ia perlu menambah imannya. Dan yang demikian itu bukanlah ciri akhlak orang orang jujur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi berkomentar, &#8220;Jika seseorang tidak memenuhi satu kewajiban agama yang abadi, maka pelaksanaan kewajiban-kewajiban agamanya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tidak akan diterima.&#8221; Seseorang bertanya, &#8216;Apakah kewajiban agama yang abadi itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Kejujuran.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Jika engkau mencari Allah swt. dalam kejujuran, niscaya Dia akan memberimu cermin yang di dalamnya engkau akan melihat semua keajaiban dunia dan akhirat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Engkau harus berlaku jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakanmu, padahal itu akan bermanfaat bagimu. Janganlah mempu ketika engkau mengira hal itu akan menguntungkanmu, padahal pasti ia akan merugkanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Tiap-tiap sesuatu punya arti, tapi persahabatan seorang pendusta tidak berarti apa-apa.&#8221;  Dikatakan, &#8220;Tanda seorang pendusta adalah kegairahannya untuk bersumpah sebelum hal itu dituntut darinya.&#8221;  Ibnu Sirin mengatakan, &#8220;Lingkup pembicaraan itu demikian luas hingga (sebetulnya) orang tldak perlu berdusta.   Dikatakan, &#8220;Seorang pedagang yang jujur tidak pernah melarat.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/kejujuran.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istiqamah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/istiqamah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/istiqamah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 10:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, &#8216;Tuhan kami adalah Allah,&#8217; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, &#8216;Hendaknya kamu sekalian tidak takut dan tidak gelisah, dan hendaknya kamu sekalian bergembira dengan surga yang telah dijanjikan untuk kamu sekalian.&#8221; (Q.s. Fushshilat: 30).
Riwayat dari Tsauban, bekas budak Rasulullah saw, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari: Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, &#8216;Tuhan kami adalah Allah,&#8217; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, &#8216;Hendaknya kamu sekalian tidak takut dan tidak gelisah, dan hendaknya kamu sekalian bergembira dengan surga yang telah dijanjikan untuk kamu sekalian.&#8221; (Q.s. Fushshilat: 30).</p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat dari Tsauban, bekas budak Rasulullah saw, menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Berteguh-hatilah (istiqamahlah) kamu, meskipun kamu tidak akan mampu melakukan sepenuhnya. Ketahuilah bahwa bagian terbaik dari agamamu adalah shalat, dan tiada seorang yang akan memelihara wudhu, kecuali orang yang beriman.&#8221; (H.r. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Istiqamah adalah derajat yang menjadikan urusan-urusan seseorang menjadi baik dan sempurna, dan memungkinkannya untuk mencapai manfaat manfaat secara tetap dan teratur. Upaya dan perjuangan orang yang tidak teguh hati akan sia-sia.&#8221;</p>
<p><span id="more-87"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan janganlah kamu seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi ceraiberai kembali.&#8221; (Q.s. An Nahl: 92).</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang tidak istiqamah dalam keberadaannya tidak akan pernah meningkat dari satu tahapan ke tahapan maqam berikutnya, dan suluknya tidak akan kokoh. Salah satu persyaratan yang perlu pada awal suluk adalah memenuhi persyaratan-persyaratan istiqamah dalam hukum kepermulaan. Sebagaimana bagi &#8216;arifin, istiqamah merupakan pangkalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda istiqamah dari mereka yang mulai menempuh suluk adalah bahwa amal-amal lahiriah mereka tidak dicemari oleh kesenjangan. Bagi mereka yang berada pada tahap pertengahan (ahlul wasaith) adalah bahwa tidak ada kata &#8220;berhenti&#8221;. Tanda istiqamah mereka yang berada pada tahap akhir adalah, bahwa tidak ada tabir yang melindungi mereka dari kelanjutan wushulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan, &#8216;Ada tiga derajat istiqamah: Menegakkan segala sesuatu (taqwim), meluruskan segala sesuatu (iqamah), berlaku teguh (istiqamah). Taqwim menyangkut disiplin jiwa; iqamah berkaitan dengan penyempurnaan hati, dan istiqamah berhubungan dengan tindak mendekat kepada Allah dengan jalan sirri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkomentar, &#8220;Makna firman Nya, &#8216;… kemudian mereka beristiqamah,&#8217; adalah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah swt. dengan sesuatu pun.&#8221; Umar bin Khaththab r.a. mengajarkan, &#8220;Artinya, mereka tidak mempu orang lain seperti rubah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat Abu Bakr merujuk pada pelaksanaan prinsip-prinsip tauhid, sedangkan pendapat Umar merujuk kepada sikap mencegah diri dari penafsiran penafsiran yang dipaksakan, dan pelaksanaan syarat-syarat perjanjian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Atha&#8217; mengatakan bahwa ayat di atas berarti, &#8220;Mereka istiqamah dalam membatasi hati mereka kepada Tuhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali al-Juzajany berkata, &#8220;Jadilah pemilik istiqamah, bukan pencari karamah. Sebab nafsumu masih berkutat mencari karamah, padahal Allah swt. menuntutmu istiqamah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali asy-Syabbuwy menuturkan, &#8220;Aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw, dan aku berkata kepada beliau, &#8216;Dikabarkan bahwa Paduka bersabda, &#8216;Surat Huud telah membuat rambutku menjadi putih.&#8217; Apakah (rambut Paduka menjadi putih karena) kisah kisah para Nabi ataukah karena dimusnahkannya ummat ummat (zaman dahulu)?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Bukan, melainkan karena firman Allah swt.:<br />
&#8220;Maka beristiqamahlah kamu sebagaimana kamu telah diperintah!&#8221; (Q.s. Huud: 112).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan,&#8221;Hanya orang orang besar saja yang dapat memelihara istiqamah, sebab hal ini meninggalkan perkara yang sebelumnya disepakati dan meninggalkan adat serta kebiasaan, menegakkan ketulusan secara esensial di sisi Allah swt. Karena itu, Nabi saw. bersabda, &#8216;Beristiqamahlah kamu, meskipun kamu sekalian tidak akan mampu melakukan sepenuhnya&#8217;!&#8221;<br />
Al-Wasithy mengatakan, &#8220;Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa istiqamah akhlak akan menjadi buruk.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syibly berkata, &#8220;Istiqamah berarti engkau menghadapi setiap waktu, sebagai wahana bangkitnya. &#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Istiqamah dalam berbicara berarti meninggalkan perbuatan menggunjing orang, dalam tindakan berarti menjauhi bid&#8217;ah, dalam amal saleh berarti meninggalkan kemalasan dan dalam keadaan (haal) batin ia berarti menyingkap hijab.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan bin Furak menjelaskan, &#8220;Huruf siin dalam lafadz &#8216;istiqamah&#8217; adalah siin pencapaian. Artinya, mereka memohon istiqamah dalam bertauhid, kemudian dalam menepati janji, dan dalam menjaga batas-batas perilaku mereka sesuai dengan ketetapan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa istiqamah melahirkan ketetapan akan karamah. Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Jikalau mereka tetap berjalan lurus (istiqamah) di atas tharikat itu, niscaya Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah.&#8221; (Q.s. Al-Jin: 16).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. tidak berfirman, &#8220;Kami akan membiarkan mereka minum,&#8221; melainkan, &#8220;Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah,&#8221; yang menunjukkan keabadiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd berkata, &#8220;Aku berjumpa dengan salah seorang penempuh jalan Allah (salik) di padang pasir di bawah sebatang pohon, dialah Ummu Ghailan. Kutanyakan kepadanya, &#8216;Mengapa Anda duduk di situ?&#8217; Ia menjawab, Ada peristiwa, aku kehilangan sesuatu, dan aku berlalu meninggalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku kembali dari ibadat haji, aku bersama pemuda, kutemukan barang tersebut telah berpindah ke sebuah tempat yang lebih dekat ke pohon itu&#8217; Aku bertanya, &#8216;Mengapa Anda duduk di sini?&#8217; Ia menjawab, Aku telah menemukan apa yang telah kucari di tempat ini jadi tetap saja aku duduk di sini&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junayd berkata, &#8220;Aku tidak tahu mana yang lebih mulia, kegigihannya karena kehilangan keadaan, atau keteguhan hatinya tinggal di tempat di mana ia telah mencapai kehendaknya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/istiqamah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami tentang: Iradat</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/memahami-tentang-iradat.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/memahami-tentang-iradat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 10:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Iradat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Firman Allah swt.:
&#8220;Dan janganlah kamu mengusir orang orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki Wajah Nya.&#8221; (Q.s. AI An&#8217;aam: 52).
Diriwayatkan oleh Anas ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya.&#8221; Seseorang bertanya, &#8220;Bagaimana Dia mempekejakannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah swt.:<br />
&#8220;Dan janganlah kamu mengusir orang orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki Wajah Nya.&#8221; (Q.s. AI An&#8217;aam: 52).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Anas ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya.&#8221; Seseorang bertanya, &#8220;Bagaimana Dia mempekejakannya, wahai Rasulullah?&#8221; Rasul menjawab, &#8220;Dia akan memberinya pertolongan untuk amal saleh sebelum mati.&#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Kehendak (iradat) adalah jalan permulaan para penempuh dan nama tahapan pertama dari mereka yang menempuh jalan menuju Allah swt. Sifat ini disebut &#8220;kehendak&#8221; (iradat) hanya karena kehendak mendahului setiap masalah sedemikian rupa, sehingga bila seorang hamba tidak menghendaki sesuatu, ia pun tidak akan melakukannya.</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Manakala hal ini terjadi di awal langkah menuju jalan Allah swt, ia disebut &#8220;kehendak&#8221; dengan diserupakan pada keinginan yang mendahului semua persoalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang murid mendapat sebutan demikian karena ia mempunyai kehendak, sebagaimana halnya seorang &#8216;alim disebut demikian karena ia mempunyai ilmu. Kedua kata ini (iradat dan ilmu) merupakan isim-isim musytaqat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi di lingkungan kaum Sufi, yang menghendaki (murid) identik dengan orang yang tidak berkehendak itu sendiri. Seseorang yang belum menanggalkan kehendak dirinya bukanlah seorang murld. Tetapi dalam pengertian bahasa, orang yang tidak mempunyai kehendak bukanlah seorang murid.</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas orang telah berbicara tentang makna Iradat, masing-masing mengungkapkan sesuai dengan kecenderungan hatinya. Sebagian besar syeikh menjelaskan, &#8220;Iradat adalah berpisah dari praktik-praktik yang menjadi kebiasaan.&#8221; Kebiasaan orang banyak adalah menghuni kelalaian, cenderung pada ajakan hawa nafsu, terus menerus mengikuti angan-angan kosong.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, seorang murid terlepas dari semua itu. Keterlepasannya itu sendiri merupakan bukti keabsahan iradatnya. Oleh karenanya, keadaan demikian itu disebut iradat, karena ia terlepas dari praktik-praktik kebiasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hakikat iradat adalah kebangkitan qalbu dalam mencari Al-Haq. Karena itu dikatakan, bahwa iradat merupakan keterpesonaan yang menyakitkan, yang membuat remeh setiap yang menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian syeikh menuturkan, &#8220;Suatu ketika aku hanya seorang diri di padang pasir dan jiwaku merasa sangat tertekan, hingga aku berteriak, &#8216;Wahai manusia, berbicaralah kepadaku! Wahai jin, berbicaralah kepadaku!&#8217; Lalu sebuah suara gaib berseru kepadaku, &#8216;Apakah yang engkau kehendaki?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku menghendaki Allah swt.&#8217; Suara itu bertanya, &#8216;Kapankah engkau menghendaki Allah swt.&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya, orang yang memanggil-manggil manusia dan jin dengan kata-kata, &#8220;Berbicaralah kepadaku!&#8221; bagaimana ia dapat disebut menghendaki Allah swt.? Padahal sebagai seorang murid tidak akan pernah gentar dalam kehendaknya baik siang maupun malam. Ia berjuang keras secara lahiriah, sementara dalam batinnya menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia meninggalkan tempat tidurnya, batinnya sibuk sepanjang waktu, menanggung kesulitan hidup, memikul beban, mengembangkan sifat-sifat akhlak yang baik, meraih kerinduan demi kerinduan, memeluk bencana, dan meninggalkan semua bentuk. Seperti yang terkandung dalam sebuah syair:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kulibas malam dengan gairahnya<br />
tiada harimau dan serigala serigala<br />
yang menakutkan,<br />
Rinduku tenggelam meluapi rahasia batinku<br />
Dan betapa perindu selalu tergulung jiwanya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakah, &#8220;Kehendak (iradat) adalah keterpesonaan yang pedih dalam sanubari, sengatan dalam hati, hasrat yang membara dalam sukma, gemuruh dalam batin, dan kilatan-kilatan dalam jiwa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf ibnul Husain menuturkan, &#8220;Abu Sulaiman dan Ahmad bin Abu al-Hawary mengadakan perjanjian bahwa Ahmad tidak akan menentang perintah Abu Sulaiman dalam semua hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari ia menemui Abu Sulaiman ketika yang tersebut belakangan ini sedang berbicara di majelisnya. Ahmad melaporkan, &#8216;Tungku sudah menyala, apa perintahmu?&#8217; Abu Sulaiman diam, tidak menjawab. Ahmad mengulangi perkataannya hingga tiga kali, akhirnya Abu Sulaiman berkata, dengan nada seakan-akan jengkel kepadanya, &#8216;Pergilah kamu dan duduk diatasnya saja!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu sejenak ia lupa akan Ahmad. Ketika ingat, Abu Sulaiman segera memerintahkan, &#8216;Lekas jemput Ahmad! Ia ada di atas tungku, sebab ia telah berjanji pada dirinya untuk tidak menentang perintahku.&#8217; Maka orang orang pun pergi mencari Ahmad, dan mereka menemukannya di dalam tungku, tanpa sehelai rambut pun terbakar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Di antara sifat sifat murid adalah bahwa ia senang melaksanakan shalat sunnah, ikhlas dalam menasihati ummat, sukacita dalam khalwat, dan sabar dalam menaati aturan, memprioritaskan kepentingan Allah swt, memiliki rasa malu di hadapan Nya, rajin mengerjakan apa yang disenangi-Nya, mengerjakan apa pun yang dapat membawa kepada-Nya, qana&#8217;ah dengan menyembunyikan diri dari orang lain, dan hatinya selalu mengalami kegelisahan sampai ia wushul kepada Tuhannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr Muhammad al-Warraq mengatakan, &#8216;Ada tiga hal yang menyiksa hati seorang murid: Pernikahan, menulis hadis dan perjalanan.&#8221; Sescorang bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa engkau berhenti menulis hadis?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Kehendak mencegahku untuk melanjutkan pekerjaan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hatim al-Asham mengajarkan, &#8220;Jika engkau datang kepada seorang murid yang menginginkan sesuatu selain yang dikehendaki, yakinlah bahwa ia telah menunjukkan kerendahan dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Kattany berkata, &#8220;Aturan hidup yang layak bagi seorang murid mencakup hal-hal sebagai berikut: tidur hanya jika sangat mengantuk, makan hanya ketika sangat lapar, dan berbicara hanya manakala terpaksa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junayd mengatakan, &#8220;Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama pembaca buku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Pangkal iradat, engkau melakukan isyarat menuju Allah swt. dan engkau menernukan Dia dengan isyarat itu.&#8221; Saya lalu bertanya, &#8216;Apakah yang mencakup seluruh persoalan tentang iradat?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Yaitu bahwa engkau menemukan Allah swt. tanpa isyarat.&#8221; Ad-Daqqaq menjelaskan, &#8220;Seorang murid tidak dapat disebut murid sampai malaikat di sisi kirinya tidak mencatat selama duapuluh tahun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman al-Hiry menegaskan, &#8220;Jika murid mendengar sesuatu tentang ilmu kaum Sufi, dan mengamalkannya, ilmu itu menjadi hikmah dalam hati hingga akhir hayatnya. Jika ia berbicara tentang hikmah itu, orang yang mendengarnya memperoleh manfaat. Orang yang mendengar sesuatu tentang ilmu mereka, namun tidak berbuat sesuai dengannya, hanyalah sebuah hikayat yang kelak akan dilupakannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Wasithy berkomentar, &#8220;Tahapan pertama seorang murid adalah kehendak Allah swt. yang menggugurkan kehendaknya sendiri. &#8221;<br />
Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Hal tersulit bagi para murid adalah bergaul dengan orang-orang yang menentang mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf bin al Husain mengatakan, &#8220;Jika engkau melihat seorang murid terlibat dalam usaha mencari penghidupan serta pekerjaan-pekerjaan halal, tetapi tidak sesuai dengan ketaatan aturan hukum, yakinlah bahwa tidak sesuatu pun hasil yang akan muncul darinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bertanya kepada al-Junayd, &#8216;Apakah baik bagi seorang murid untuk mendengarkan cerita-cerita?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Cerita-cerita adalah salah satu tentara Allah, yang menguatkan qalbu para murid.&#8221; Kemudian ditanyakan lagi kepadanya, &#8216;Adakah dalil yang mendukung ucapanmu itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junayd menegaskan, &#8220;Ya, dalilnya adalah firman Allah swt, &#8216;Dan semua kisah dari Rasul rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu&#8217;.&#8221; (Q.s. Huud: 120).<br />
Al-Junayd mengatakan, &#8220;Seorang murid yang tulus tidak membutuhkan ilmu pengetahuan para ulama.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan antara yang berkehendak (murid) dan yang dikehendaki (murad), bahwa pada hakikatnya setiap murid sesungguhnya adalah juga murad. Jika ia bukan yang dikehendaki Allah swt, niscaya tidak akan menjadi murid, sebab tiada sesuatu pun dapat terjadi kecuali dengan kehendak Allah swt. Selanjutnya, setiap murad adalah juga murid, sebab jika Allah menghendakinya secara khusus, Dia akan menganugerahinya keberhasilan dalam memiliki iradat (terhadap Nya).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, kaum Sufi membedakan antara murid dan murad. Menurut mereka, murid adalah seorang pemula, sedangkan murad berada pada pangkalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Murid dibimbing melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga dan diterjunkan ke dalam kancah kesulitan; bagi seorang murad, satu perintah dari Allah swt. saja sudah mencukupi, tanpa menimbulkan kesulitan bagi dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Murid dipaksa untuk bekerja keras, sedangkan murad dianugerahi kenyamanan dan ketentraman. Sunnatullah bagi para penempuh cita cita beraneka ragam: Mayoritas mereka berselaras melalui mujahadah, dan setelah mengalami kesulitan yang berkepanjangan, akhirnya berhasil mencapai kebenaran hakiki yang agung.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi sebagian besar dari mereka yang diperlihatkan keagungan kebenaran hakiki pada awalnya, belum dicapai oleh mereka yang mengerjakan banyak olah ruhani, tetapi sebagian besar dari mereka kembali lagi, dan mujahadah setelah mendapatkan anugerah bersama mereka riyadhah, agar selaras garis garis ketentuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan, &#8220;Murid menanggung, sedangkan murad ditanggung.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia juga berkomentar, &#8220;Musa as. Adalah seorang murid sebab beliau berkata, &#8216;Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku!&#8217; (Q.s. Thaha: 25). Nabi kita Muhanmad saw. adalah seorang murad, sebab Allah swt. berfirman mengenai diri beliau, &#8216;Tidakkah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?&#8217;(Q.s. Al-Insyirah: 1 4).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Musa as. juga memohon, &#8216;Ya Tuhanku, tampakkanlah (Diri Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau!&#8217; Allah swt. berfirman, &#8216;Kamu sekali kali tidak akan sanggup melihat Ku.&#8217; (Q.s. AI-Araf 143). Allah swt. berfirman kepada Nabi kita, ‘Apakah kamu tidak melihat kepada Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang?&#8217; (Q.s. Al-Furqan: 45).</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata, ‘Apakah kamu tidak melihat kepada Tuhanmu?&#8217; dan &#8216;Bagaimana Dia memanjangkan bayangbayang?&#8217; dimaksudkan sebagai tabir bagi cerita yang sebenarnya dan sebagai sarana untuk memperkuat keadaannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al-Junayd ditanya tentang murid dan murad, ia menjawab, &#8220;Murid dikendalikan oleh aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan ilmu, sedangkan murad dikendalikan oleh pemeliharaan dan perlindungan Allah swt. Murid berjalan; sedang murad terbang. Sanggupkah manusia pejalan mampu menyusul yang terbang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun mengirim seseorang kepada Abu Yazid dengan pesan,<br />
&#8220;Tanyakan kepada Abu Yazid, &#8216;Berapa lama tidur dan kesantaian ini, padahal kafilah telah berlalu?&#8217; Abu Yazid mengirimkan jawabannya, &#8216;Katakan kepada saudaraku Dzun Nuun, &#8216;Seorang laki-laki adalah yang tidur sepanjang malam kemudian bangun diperhentian sebelum kafilah tiba.&#8217; Dzun Nuun berseru, &#8216;Hebat dia! Inilah ucapan yang belum sampai pada keadaan kita&#8217;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/memahami-tentang-iradat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhlas</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ikhlas.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ikhlas.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 10:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Apa itu Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy
Allah swt. berfirman:
&#8220;Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik).&#8221; (Q.s. Az Zumar: 3).
Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
&#8220;Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: IkhIas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik).&#8221; (Q.s. Az Zumar: 3).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara: IkhIas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim.&#8221; (H.r. Ahmad, dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar).</p>
<p style="text-align: justify;">Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya sesembahan. Sikap taat dimaksudkan adalah taqarrub kepada Allah swt, mengesampingkan yang lain dari makhluk, apakah itu sifat memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia.</p>
<p><span id="more-80"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ataupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah swt. semata. Dapat dikatakan, &#8220;Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk&#8221; Dikatakan juga, &#8220;Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. ditanya, apakah ikhlas itu? Nabi saw. bersabda:<br />
&#8216;Aku bertanya kepada Jibril as. tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya?&#8217;Allah swt. menjawab, &#8216;Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.&#8221; (H.r. Al Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, dan sifat shidq berarti membersihkan diri dari kesadaran akan diri sendiri. Orang yang ikhlas tidaklah bersikap riya&#8217; dan orang yang jujur tidaklah takjub pada diri sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al-Mishry berkomentar, &#8220;Keikhlasan hanya tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menetapi dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus-menerus.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ya&#8217;qub as-Susy mengatakan, &#8220;Apabila mereka melihat keikhlasan di dalam keikhlasannya, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan lagi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan, &#8216;Ada tiga tanda keikhlasan: Manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman al-Maghriby mengatakan, &#8220;Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlas orang awam. Mengenai ikhlas manusia pilihan (khawash), keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka menyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri, tidak pula, peduli terhadap amalnya. Itulah keikhlasan kaum pillhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan, &#8220;Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan keikhlasannya itu, jika Allah swt. menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, dia akan mengugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri dan jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan Allah swt. (mukhlash), bukannya berikhlas (mukhlish).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl berkata, &#8220;Hanya orang yang ikhlas (mukhlish) sajalah yang mengetahui riya&#8217;.&#8221;  Abu Sa&#8217;id al-Kharraz menegaskan, &#8220;Riya&#8217; kaum &#8216;arifin lebih baik daripada ikhlas para murid.&#8221;  Dzun Nuun berkata, &#8220;Keikhlasan adalah apa yang dilindungi dari kerusakan musuh.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman mengatakan, &#8220;Keikhlasan adalah melupakan pandangan makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada Khalik.&#8221;  Hudzaifah al-Mar&#8217;asyi berkomentar, &#8220;Keikhlasan berarti bahwa perbuatan-perbuatan si hamba adalah sama, baik lahir maupun batinnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Keikhlasan adalah sesuati yang dengannya Allah swt. berkehendak dan dimaksudkan tulus dalam ucapan serta tindakan.&#8221;<br />
Dikatakan pula, &#8220;Keikhlasan berarti mengikat diri sendiri pada kesadaran akan perbuatan baik&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">As-Sary mengatakan, &#8221; Orang yang menghiasi dirinya di hadapan manusia dengan sesuatu yang bukan miliknya, berarti tercampak dari penghargaan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Fudhail berkata, &#8220;Menghentikan amal-amal baik karena manusia adalah riya&#8217;, dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkanmu dari dua penyakit ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd mengatakan, &#8220;Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ruwaym menjelaskan, &#8220;Ikhlas dalam beramal kebaikan berarti bahwa orang yang melakukannya tidak menginginkan pahala, baik di dunia maupun di akhirat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan kepada Sahl bin Abdullah, &#8216;Apakah hal terberat pada diri manusia?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Keikhlasan, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanya tentang ikhlas, salah seorang Sufi menjawab, &#8220;Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah swt. untuk menjadi saksi atas perbuatanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi menuturkan, &#8220;Aku menemui Sahl bin Abdullah pada hari jum&#8217;at di rumahnya sebelum shalat. Ada seekor ular di rumahnya, hingga aku ragu-ragu berdiri di pintu. Ia berseru, &#8216;Masuklah! Tidak seorang pun dapat mencapai hakikat iman jika ia masih takut pada sesuatu pun di atas bumi.&#8217; Kemudian ia bertanya, Apakah engkau hendak mengikuti shalat jum&#8217;at?&#8217; Aku menjawab, jarak dari sini ke masjid di depan kita adalah sejauh perjalanan sehari semalam.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Sahl lalu menggandeng tanganku, dan sesaat kemudian kami telah berada di masjid itu. Kami masuk ke dalam dan shalat, kemudian keluar. Sahl berdiri di sana, melihat ke arah orang banyak, dan berkata, &#8216;Banyak orang mengucapkan Laa i1aaha illallaah, tapi yang ikhlas amatlah sedikit&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Makhul berkata, &#8220;Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama empatpuluh hari, kecuali akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari hati pada lisannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf bin al-Husain berkomentar, &#8220;Milikku, yang paling berharga di atas dunia ini adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah berjuang untuk membebaskan hatiku dari riya&#8217;, namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dalam warna yang lain!&#8221;  Abu Sulaiman berkata, &#8220;Jika seorang hamba berikhlas, maka terpotonglah waswas dan riya&#8217;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ikhlas.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
