<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Surau Baitul Amin-6 Bekasi &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://www.baitulamin6.org/category/uncategorized/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.baitulamin6.org</link>
	<description>Dibawah naungan Yayasan Prof.Dr.H.SS.Kadirun Yahya .MSc</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 05:25:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Lailatul Qadar</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/lailatul-qadar.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/lailatul-qadar.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 05:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Allah menurunkan Wahyu, Mukjizat Agung, Kitab Sucinya, di malam terang benderang, yang bertabur Cahaya, dari pendaran yang Maha Cahaya, lebih dahsyat dari seribu bulan Cahaya. Syeikh Abdul Qadir al-Jilany memaparkan, &#8220;Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar-Ruh (Jibril) di dalam malam itu. &#8221; Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan ia bertindak sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah menurunkan Wahyu, Mukjizat Agung, Kitab Sucinya, di malam terang benderang, yang bertabur Cahaya, dari pendaran yang Maha Cahaya, lebih dahsyat dari seribu bulan Cahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abdul Qadir al-Jilany memaparkan, &#8220;Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar-Ruh (Jibril) di dalam malam itu. &#8221; Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan ia bertindak sebagai pemimpinnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jibril terus menerus memberi salam kepada mereka yang sedang duduk (beribadah), sementara seluruh malaikat yang lain memberi salah kepada mereka yang sedang tidur. Allah sendiri yang terus memberi salam kepada mereka yang bangkit berdiri menuju kepadaNya.</p>
<p><span id="more-131"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana Salam Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang menjadi ahli surga di surga, dengan firman-Nya:    Salaamun Qaulan min Rabbir Rahiim (Salam yang terucap dari Tuhan Yang Maha Pengasih). Maka, berkenan pula Allah memberikan salam kepada para hamba-Nya yang senantiasa berbuat kebajikan di dunia, mendapatkan anugerah kebaikan luhur dan kebahagiaan di zaman &#8216;azali.</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu para hamba-Nya yang senantiasa fana&#8217; atau sirna dari segala makhluk, dan abadi bersama Tuhannya, senantiasa tenteram menuju kepada Allah Ta&#8217;ala Yang Maha Benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam Lailatul Qadar itu, tak ada yang tersisa dari suatu tempat melainkan ada malaikat yang sedang sujud di sana, atau berdiri mendoakan hamba-Nya yang mukmin dan mukminat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecuali tempat-tempat seperti gereja, biara, tempat ibadah majusi dan tempat-tempat berhala, atau sebagian tempat yang menjadi pembuangan kotoran maksiat. Di tempat-tempat itu malaikat tidak mati bersujud dan berdoa.</p>
<p style="text-align: justify;">Malaikat-malaikat itu senantiasa mendoakan kaum mukminin dan mukminat. Sedangkan Jibril as, sama sekali tidak mendoakan kaum mukminin dan mukminat, melainkan hanya menyalami dan bersalaman kepada mereka.<br />
Jika Anda sekalian sedang dalam keadaan beribadah, maka Jibril menyalami, &#8220;Salam kepadamu, semoga diterima dan mendapatkan kebaikan.&#8221; Jika anda ditemui sedang dalam keadaan bermaksiat, Jibril menyalami, &#8220;Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ampunan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda ditemui dalam keadaan tidur, Jibril menyalami, &#8220;Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ridla- Nya.&#8221; Jika Anda sudah dalam kuburan (mati) Jibril menyalami, &#8220;Salam bagimu dengan ruh dan aroma keharuman.&#8221;<br />
Itulah yang difirmankan Allah, &#8220;minKulliAmrinSalaam&#8221; (dalam segala hal, ada Salam.)</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menyebutkan, bahwa para malaikat itu hanya menyalami mereka yang taat, sementara tidak pada mereka yang sedang bermaksiat. Di antara ahli maksiat itu adalah mereka yang berbuat kedhaliman, mereka yang memakan makanan haram, mereka yang memutus tali sillaturrahim, mereka yang mengadu domba, mereka yang memakan harta anak yatim, mereka itu tidak mendapatkan salam dari para malaikat. Lalu manakah bencana yang lebih besar dibanding bencana seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal bulan Ramadlan diawali oleh rahmat, ditengahi oleh ampunan dan diakhiri dengan kebebasan dari neraka. Sementara Anda tidak memiliki bagian dari salam para malaikat itu? Bukankah itu semua gara-gara Anda jauh dari Yang Maha Pengasih? dan Anda juga tergolong para  penentang Allah dan mensakralisasi tindakan syetan? Anda berhias dengan riasan penempuh jalan neraka? Begitu pula karena Anda jauh dan mengabaikan dari para penempuh jalan surga? Anda juga hijab dari Tuhan yang memiliki kekuasaan atas bahaya dan kebajikan?</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal bulan Ramadlan adalah bulan kejernihan, bulan keselarasan bersama Allah, bulan para pendzikir-Nya, bulan orang-orang sabar dan bulan para shadiqin. Lantas apabila tidak ada bekas dalam hati Anda, dan Anda tidak mencabut akar kemaksiatan dalam hati Anda, menjauhi para pelaku kejahatan dan kemungkaran, lalu pengaruh apa yang bisa membekas dalam hati Anda itu? Apa yang Anda harapkan dari selain kebajikan? Apa yang masih anda sisakan dalam jiwa Anda? Kebahagiaan manakah yang bisa Anda raih di sana?</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah wahai orang yang sangat kasihan, terhadap apa yang menempel pada diri Anda. Bangkitlah dari kelelapan yang meninabobokan Anda, membuat Anda alpa. Lihatlah pada yang memberi petunjuk pada Anda, sisa-sisa bulan Anda, dengan tindakan taubat dan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmatilah bulan ini dengan istigfar dan kepatuhan, agar Anda meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Anda harus membatu dengan segala hal yang mengarah pada sikap negatif Menangislah pada diri sendiri atas dorongan yang menyeret Anda pada cacat-cacat jiwa, kebinasaan dan tragedi. Betapa banyak orang berpuasa, namun hakikatnya tidak pernah berpuasa selamanya. Banyak orang yang berdiri tegak untuk ibadah, hakikatnya tak pemah ibadah selamanya. Betapa banyak orang beramal, namun tanpa pahala ketika amal itu usai dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Amboi, apakah puasa kita diterima, ibadah kita diterima, atau sebaliknya semua itu ditolak dan dilemparkan ke wajah kita sendiri? Amboi, betapa kita telah menolak ibadah yang seharusnya diterima, dan menghormati ibadah yang seharusnya ditolak?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Betapa banyak orang berpuasa, namun tak lebih dari lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang tegak beribadah, melainkan hanya kelelahan belaka..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam kepadamu wahai bulan puasa.<br />
Salam kepadamu wahai bulan kebangkitan. Salam kepadamu wahai bulan iman.<br />
Salam kepadamu wahai bulan al-Qur &#8216;an.<br />
Salam kepadamu wahai bulan cahaya-cahaya Salam kepadamu wahai bulan maghfirah dan ampunan.<br />
Salam kepadamu wahai bulan derajat dan keselamatan dari keburukan.<br />
Salam kepadamu wahai bulan orang-orang yang bertobat, beribadat.<br />
Salam kepadamu wahai orang-orang ma &#8216;rifat Salam kepadamu wahai bulan orang yang tekun beribadat.<br />
Salam kepadamu wahai bulan yang aman Engkau telah menahan orang-orang maksiat Engkau telah bermesraan dengan ahli taqwa Salam kepada bilik dan cahaya-cahaya yang cemerlang dan mata yang terjaga air mata yang melimpah mihrab yang terang benderang ungkapan yang suci nafas-nafas yang membubung dari kalbu-kalbu yang bergelora.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan,jadikanlah kami tergolong mereka yang Engkau terima puasanya, shalatnya, dan Engkau ganti keburukan dengan kebajikannya, dan Engkau masukkan dengan rahmat-Mu dalam surga-Mu, dan Engkau tinggikan derajat mereka, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/lailatul-qadar.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat-sifat Orang Arif dan Hakikatnya</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/sifat-sifat-orang-arif-dan-hakikatnya.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/sifat-sifat-orang-arif-dan-hakikatnya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 21:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang ma&#8217;rifat. Lalu ia menjawab, &#8220;Ma&#8217;rifat itu datang lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah Kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba.&#8221; Sementara itu Abu Turab an-Nakhsyabi &#8211; rahimahullah &#8211; ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang ma&#8217;rifat. Lalu ia menjawab, &#8220;Ma&#8217;rifat itu datang lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah Kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Abu Turab an-Nakhsyabi &#8211; rahimahullah &#8211; ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia menjawab, &#8220;Orang arif adalah orang yang tidak terkotori oleh apa saja, sementara segala sesuatu akan menjadi jernih karenanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin &#8216;Atha&#8217; &#8211; rahimahullah &#8211; berkata, &#8220;Ma&#8217;rifat itu ada dua: Ma&#8217;rifat al-Haq dan ma&#8217;rifat hakikat. Adapun ma&#8217;rifat al-Haq adalah ma&#8217;rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-nama dan Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya.</p>
<p><span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan ma&#8217;rifat hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan makhluk)-Nya, dan mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Karena Allah telah berfirman:<br />
&#8220;Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya&#8221;.&#8221; (Q.s. Thaha: 110).</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Abu Nashr as-Sarraj &#8211; rahimahullah &#8211; menjelaskan:<br />
Makna ucapan Ahmad bin&#8217;Atha&#8217;, &#8220;Tak ada jalan menuju ke sana,&#8221; yakni ma&#8217;rifat (mengetahui) secara hakiki. Sebab Allah telah menampakkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya kepada makhluk-Nya, dimana Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab untuk tahu dan ma&#8217;rifat secara hakiki tidak akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma&#8217;rifat-Nya tidak akan sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya. Lalu siapa yang sanggup ma&#8217;rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya ada orang berkata, &#8220;Tak ada selain Dia yang sanggup mengetahui-Nya, dan tak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri. Sebab Kemahaagungan dan Keabadian (ash-Shamadiyyah) tak mungkin dapat dipahami secara detail. Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan mereka tidak mengetahui apa apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya&#8221;.&#8221; (Q.s. al-Baqarah: 255).</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan makna ini, ada riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata, &#8220;Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma&#8217;rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syibli &#8211; rahimahullah &#8211; pernah ditanya, &#8220;Kapan seorang arif berada dalam tempat kesaksian al-Haq?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, &#8220;Tatkala Dzat Yang menyaksikan tampak, dan bukti-bukti fenomena alam yang menjadi saksi telah fana&#8217; (sirna) indera dan perasaan pun menjadi hilang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa awal dari masalah ini dan apa pula akhirnya?&#8221;<br />
Ia menjawab, &#8220;Awalnya adalah ma&#8217;rifat dan ujungnya adalah mentauhidkan-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia melanjutkan, &#8220;Salah satu dari tanda ma&#8217;rifat adalah melihat dirinya berada dalam &#8216;Genggaman&#8217; Dzat Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain dari ma&#8217;rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma&#8217;rifat dengan-Nya tentu akan mencintai-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami &#8211; rahimahullah &#8211; pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia menjawab, &#8220;Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Jika air itu anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih. Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Abu Nashr as-Sarraj &#8211; rahimahullah &#8211; menjelaskannya: Artinya, &#8211; hanya Allah Yang Mahatahu &#8211; bahwa kadar kejernihan air itu akan sangat bergantung pada sifat dan warna tempat (wadah) yang ditempatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi warna benda yang ditempatinya tidak akan pernah berhasil mengubah kejernihan dan kondisi asli air itu. Orang yang melihatnya mungkin mengira, bahwa air itu berwarna putih atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan aslinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika &#8220;bersama&#8221; Allah Azza wa jalla dalam segala hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya &#8220;bersama&#8221; Allah adalah dalam satu makna.<br />
Al-junaid &#8211; rahimahullah &#8211; pernah ditanya tentang rasionalitas orang-orang arif (al-&#8217;arifin). Kemudian ia menjawab, &#8220;Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi sifat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian dari para tokoh Sufi ditanya tentang ma&#8217;rifat. Lalu ia menjawab, &#8220;Adalah kemampuan hati nurani untuk melihat kelembutan-kelembutan apa yang diberitahukan-Nya, karena ia telah menauhidkan-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Junaid &#8211; rahimahullah &#8211; ditanya, &#8220;Wahai Abu al-Qasim, (nama lain dari panggilan al-junaid, pent.). apa kebutuhan orang-orang arif kepada Allah?&#8221;<br />
Ia menjawab, &#8220;Kebutuhan mereka kepada-Nya adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi &#8211; rahimahullah &#8211; berkata, &#8220;Akan tetapi mereka tidak membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun. Sebab tanpa membutuhkan dan memilih, mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa yang bisa dilakukan orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat Yang mewujudkannya.&#8221;<br />
Muhammad bin al-Mufadhdhal juga pernah ditanya, &#8221; Apa yang dibutuhkan orang-orang arif?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawabnya, &#8220;Mereka membutuhkan moral (akhlak) yang dengannya semua kebaikan bisa sempurna, dan ketika moral tersebut hilang, maka segala kejelekan akan menjadi jelek seluruhnya. Akhlak itu adalah istiqamah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz &#8211; rahimahullah &#8211; ditanya tentang sifat orang arif, maka ia menjawab, &#8220;Ia bisa masuk di kalangan orang banyak, namun ia terpisah dengan mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kesempatan lain ia ditanya lagi tentang orang yang arif, maka ia menjawab, &#8220;Ialah seorang hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) lalu ia terpisah dengan mereka.&#8221;<br />
Abu al-Husain an-Nuri &#8211; rahimahullah &#8211; ditanya, &#8220;Bagaimana Dia tidak bisa dipahami dengan akal, sementara Dia tidak dapat diketahui kecuali dengan akal&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, &#8220;Bagaimana sesuatu yang memiliki batas bisa memahami Dzat Yang tanpa batas, atau bagaimana sesuatu yang memiliki kekurangan bisa memahami Dzat Yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali, atau bagaimana seorang bisa membayangkan kondisi bagaimana terhadap Dzat Yang membuat kemampuan imajinasi itu sendiri, atau bagaimana orang bisa menentukan &#8216;di mana&#8217; terhadap Dzat Yang menentukan ruang dan tempat itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula Yang menjadikan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir tentu tidak bisa diketahui mana yang pertama dan mana yang terakhir.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ia melanjutkannya, &#8220;Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun. Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan (&#8216;ubudiyyah).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, &#8216;Kun&#8217; (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri, &#8220;mengetahui-Nya secara langsung,&#8221; ialah langsung dengan yakin dan kesaksian hati nurani akan hakikat-hakikat keimanan tentang hal-hal yang gaib.</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Abu Nashr as-Sarraj &#8211; rahimahullah &#8211; melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut &#8211; hanya Allah Yang Mahatahu &#8211; bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah swt. Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat. Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. &#8211; dan hanya Allah Yang Mahatahu-.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad bin Atha&#8217; &#8211; rahimahullah &#8211; pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma&#8217;rifat. Dimana hal ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin &#8216;Atha&#8217;, &#8220;Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya (tidak ada nilai-nilai Ketuhanan).</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan). Sebab keduanya merupakan sifat yang selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali. Dimana tampak dua ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang diterima, benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya. Maka setelah itu, tidak ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya katakan, bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmad bin Atha&#8217; maknanya mendekati dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani &#8211; rahimahullah &#8211; dimana ia berkata, &#8220;Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha) atau benci.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula, karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan orang-orang yang dibenci-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha&#8217;, &#8220;Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya.&#8221; Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut. Sementara ucapannya yang menyatakan, &#8220;Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya.&#8221; Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya. Makna semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis:</p>
<p style="text-align: justify;">Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, &#8220;Ini adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara yang ini adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka.&#8221; (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash. Hadist ini Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Abu Bakar al-Wasithi &#8211; rahimahullah &#8211; mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia berkata, &#8220;Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini. Artinya &#8211; dan hanya Allah Yang Mahatahu -, &#8220;Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah (yakni fenomena alam), dan juga tidak merasa senang dengan mereka (makhluk).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/sifat-sifat-orang-arif-dan-hakikatnya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Nafsu</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/melawan-nafsu.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/melawan-nafsu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 01:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy : Firman Allah swt.: &#8220;Dan adapun orang orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (Q.s An Naazi&#8217;aat: 40-1). Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah telah bersabda: &#8220;Hal yang paling ku takutkan kepada ummatku adalah mengumbar hawa nafsu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy :</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah swt.:<br />
&#8220;Dan adapun orang orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (Q.s An Naazi&#8217;aat: 40-1).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah telah bersabda:<br />
&#8220;Hal yang paling ku takutkan kepada ummatku adalah mengumbar hawa nafsu dan melamun panjang. Mengumbar hawa nafsu memalingkan manusia dari Al Haq, sedang melamun panjang membuat orang lupa kepada akhirat. Karena itu, ketahuilah bahwa melawan hawa nafsu adalah modal ibadat.&#8221; (H.r. Hakim dan Dailamy).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika salah seorang syeikh ditanya tentang Islam, ia menjawab, &#8220;Membabat nafsu dengan pisau perlawanan. Dan ketahuilah bahwa bagi seseorang yang nafsunya telah bangkit, maka pencerahan hati yang menyebabkan sukacita jiwanya di hadapan Allah swt. akan hilang. &#8220;</p>
<p><span id="more-123"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al Mishry mengatakan, &#8220;Kunci ibadat adalah tafakur. Tanda tercapainya tujuan adalah perlawanan terhadap hawa nafsu dengan meninggalkan keinginan-keinginannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Atha&#8217; berkata, &#8220;Nafsu itu dengan sendirinya cenderung pada perilaku yang jahat. Pada saat yang sama, si hamba diperintahkan agar bersabar di dalam beradab. Jadi, hawa nafsu berperilaku sesuai dengan wataknya dengan cara menentang, dan si hamba menolak hawa nafsu dengan perjuangannya melawan tuntutan tuntutannya yang jahat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Junayd berkomentar, &#8220;Nafsu amarah yang terus menerus mendorong pada kejahatan adalah penyeru kepada kebinasaan, pembantu musuh, pengikut hawa nafsu, dan diharu biru dengan berbagai macam kejahatan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hafs mengajarkan, &#8220;Barangsiapa tidak mencurigai diri sendiri dalam setiap waktu, tidak menentangnya dalam setiap keadaan ruhani, dan tidak memaksakan kepada diri sendiri apa yang tidak disukai dalam hari harinya adalah manusia yang tertipu. Dan barangsiapa memberikan perhatian kepada nafsu dan menyetujui sebagian darinya identik dengan menghancurkan diri sendiri. Bagaimana bisa membenarkan bagi orang yang memiliki akal untuk menyenangi diri sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Yusuf a.s. yang mulia, putra dari keturunan yang mulia, Ya&#8217;qub bin Ishaq bin Ibrahim a.s. berkata, &#8220;Aku tidak membersihkan diriku dari kesalahan; sesungguhnya nafsu itu cenderung kepada kejahatan.&#8221; (Q.s.Yusuf 53).</p>
<p style="text-align: justify;">Al Junayd menuturkan, &#8220;Suatu malam aku tidak dapat tidur, lalu aku bangun untuk melakukan wird. Tetapi aku tidak menemukan kemanisan atau kenikmatan yang biasanya kurasakan. Maka aku menjadi bingung dan berharap untuk dapat tidur saja, tapi tetap tidak dapat. Lalu aku duduk, namun demikian aku tidak dapat duduk nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kubuka jendela, dan aku pergi keluar. Ku lihat seorang laki laki berselimutkan mantel sedang berbaring di jalan. Ketika ia menyadari kehadiranku, ia mengangkat kepalanya dan berkata, &#8216;Wahai Abul Qasim, lihatlah waktu!&#8217; Aku menjawab, &#8216;Tuanku, tidak ada ketentuan waktu.&#8217; Ia berkata, &#8216;Bahkan aku sudah memohon kepada Sang Pembangkit hati agar menggerakkan hatimu kepadaku.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata, &#8216;Dia telah melakukannya. jadi, apa kemauan Anda?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Bilakah penyakit nafsu menjadi obatnya sendiri?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Jika nafsu menentang hawanya, maka penyakitnya menjadi obatnya.&#8217; Kemudian laki laki itu berpaling dan berkata kepada dirinya sendiri,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Dengar, (hai nafsu), aku telah menjawab pertanyaanmu tujuh kali dengan jawaban seperti itu, tapi engkau menolak menerimanya sampai engkau mendengarnya dari al Junayd, dan sekarang engkau telah mendengarnya.&#8217; Kemudian ia berlalu meninggalkan aku. Aku tidak tahu siapa dirinya dan tidak pernah bertemu lagi dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr ath Thamastany berkata, &#8220;Nikmat terbesar adalah jika engkau keluar dari dirimu sendiri, sebab ia adalah tabir terbesar antara dirimu dengan Allah swt.&#8221;<br />
Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Tidak ada ibadat bagi Allah yang lebih utama dari menentang hawa nafsu. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanya tentang perkara yang paling dibenci Allah swt, Ibnu Atha&#8217; menjawab, &#8220;Memberikan perhatian kepada diri sendiri dengan segala keadaannya. Lebih buruk dari itu adalah mengharapkan imbalan atas perbuatan perbuatannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim al Khawwas menuturkan, &#8216;Aku sedang berada di atas gunung al Lakam, ketika aku melihat segerombol pohon delima, timbul keinginanku untuk mencicipinya sebuah. Lalu aku naik ke atas memetik sebuah dan membelahnya, akan tetapi rasanya asam. Lalu aku melihat seorang laki laki terbaring di tanah, dikerumuni lebah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkata kepadanya, &#8216;Assalamu&#8217;alaikum.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Wa&#8217;alaikum salam, wahai Ibrahim,&#8217; Aku bertanya, &#8216;Bagaimana engkau mengenalku?&#8217; Ia menjawab, Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari manusia yang mengenal Allah swt.&#8217; Aku berkata, &#8216;Kulihat engkau berada dalam keadaan bersama Allah. Mengapa engkau tidak meminta kepada Nya agar melindungimu dari gangguan lebah lebah itu?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata, &#8216;Dan engkau, kulihat juga berada dalam keadaan bersama Allah swt. Mengapa engkau tidak meminta kepada Nya juga agar melindungimu dari keinginan makan delima? Manusia akan mengalami rasa sakit dari sengatan delima di akhirat, sementara sengatan lebah hanya terasa sakit di dunia!&#8217; Akupun pergi berlalu meninggalkan orang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu riwayat Ibrahim bin Syaiban mengabarkan, &#8220;Selama empatpuluh tahun aku tidak pernah bermalam satu kali pun di bawah atap rumahku atau di tempat tertutup yang lain. Namun terkadang aku masih menginginkan agar bisa makan &#8216;adas dengan kenyang. Sayang keinginanku itu tak pernah terpenuhi. Pada suatu hari, ketika aku berada di Syam, seseorang menghidangkan semangkok penuh 4 &#8216;adas kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku makan isinya dan kemudian berangkat. Di tengah jalan aku, melihat botol botol besar berisi semacam cairan, yang kukira adalah cuka. Di antara mereka menegurku, &#8216;Bagaimana pendapatmu? Ini adalah botol botol anggur, dan ini guci anggur,&#8217; Aku berkata kepada diri sendiri, &#8216;Adalah kewajibanku &#8230;&#8217; Kemudian aku pun masuk ke dalam warung dan menumpahkan isi botol botol serta guci guci itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Itu mengira bahwa aku menumpahkan isi botol botol itu atas perintah sultan. Tapi ketika mengetahui bahwa itu hanya inisiatifku sendiri, Ia lalu membawaku kepada Ibnu Thaulun, yang memerintahkan agar aku didera duaratus kali dan dimasukkan ke dalam penjara. Aku tinggal di penjara beberapa waktu lamanya sampai Abu Abdullah al Maghriby, guruku, datang ke negeri itu dan membebasanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika melihatku, beliau bertanya, Apa yang telah engkau perbuat? &#8216;Aku menjawab, &#8216;Satu perut yang penuh berisi &#8216;adas dan duaratus deraan!&#8217; Beliau berkata, &#8216;Engkau telah diselamatkan dari segala tuduhan di akhirat&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam suatu riwayat Sary as Saqathy pernah menuturkan, &#8220;Selama tigapuluh atau empatpuluh tahun, nafsuku telah meminta kepadaku sepotong wortel yang dicelup dalam madu kurma, tetapi aku belum sempat memakannya!&#8221; Saya dengar Abul Abbas al Baghdady, menuturkan bahwa kakeknya pernah berkata, &#8220;Bencana seorang hamba adalah rasa puasnya terhadap keadaan dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Isham bin Yusuf al Balkhy menghadap, kepada Hatim al Asham, ia pun diterima. Seseorang bertanya, &#8220;Mengapa Anda menerimanya.&#8221;<br />
Hatim menjawab, &#8220;Dengan menerimanya aku. merasakan rasa hinaku sekaligus merasakan kebanggaannya. Sebaliknya, apabila aku menolaknya, aku merasakan kebanggaanku sekaligus merasakan rasa hinanya. Maka aku. memilih kebanggaannya daripada kebanggaanku dan kehinaanku daripada kehinaannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang berkata kepada salah seorang Sufi, &#8220;Aku ingin melaksanakan ibadat haji dalam keadaan menyepi (tajrid).&#8221; Sang Sufi menjawab, &#8220;Lebih tadridlah sifat alpa dari dalam hatimu, kekurangseriusan dari dirimu, dan perkataan yang sia sia dari lidahmu; setelah itu tempuhlah ke mana saja engkau mau.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad Darany berkata, &#8220;Orang yang melewati malam harinya dengan cukup baik akan memperoleh balasan di siang harinya, dan orang yang melewati siang dengan cara yang baik akan memperoleh balasan di malam harinya. Barangsiapa tulus dalam menjauhi hawa nafsu akan terbebas dari beban memberi makanan. Allah swt. bersifat Maha Pemurah hingga tidak berkehendak untuk menghukum hati yang menjauhi hawa nafsu demi Dia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. mewahyukan kepada Daud as, &#8220;Peringatkanlah para sahabatmu terhadap sikap menuruti hawa nafsu, sebab hati yang terikat kepada hawa nafsu dunia tertutup dari Ku.&#8221;<br />
Dikatakan bahwa seseorang sedang duduk melayang di udara, dan seseorang bertanya kepadanya, &#8220;Bagaimana engkau bisa melakukan hal ini? &#8221; Ia menjelaskan, &#8216;Aku meninggalkan hawa nafsu, karenanya Allah swt. menjadikan udara tunduk kepadaku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Jika (pemenuhan) seribu hawa nafsu ditawarkan kepada seorang Mukmin, niscaya ia akan menolaknya dengan rasa takut kepada Allah swt. Tetapi Jika pemenuhan satu kehendak hawa nafsu ditawarkan kepada seorang pendosa, pemenuhan itu akan mengusir darinya rasa takut kepada Allah swt.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;Janganlah engkau tempatkan kendalimu di tangan nafsu, sebab ia pasti membawamu pada kegelapan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Nusuf bin Asbat berkata, &#8220;Hanya takut yang sangat atau kerinduan yang bergelora sajalah yang bisa memadamkan nafsu.&#8221;<br />
Al Khawwas berkata, &#8220;Barangsiapa meninggalkan hawa nafsu, tapi tidak menemukan pengganti dalam hatinya adalah seorang pendusta dalam meninggalkan hawa nafsu itu sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ja&#8217;far bin Nashr mengabarkan, &#8220;Al Junayd memberiku uang satu dirham dan menyuruhku membeli semacam buah kenari. Kubeli beberapa buah, dan ketika saat berbuka puasa tiba, ia memecah sebuah dan memakan isinya. Tapi kemudian ia memuntahkannya dan menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Singkirkan buah buah ini!&#8217; pintanya. Ketika aku bertanya apa yang telah terjadi, ia menjawab, &#8216;Sebuah suara berseru dalam hatiku, &#8216;Tidakkah engkau merasa malu? Engkau menjauhi satu nafsu demi untuk Ku, tapi kemudian mengambilnya lagi&#8217;!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum Sufi bersyair:<br />
Huruf nun dari kehinaan (hewan) dari hawa telah dicuri.<br />
Menyerah kepada hawa nafsu jatuh dalam kehinaam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/melawan-nafsu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muroqobah</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/muroqobah.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/muroqobah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 01:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dalam suatu hadist, bahwa malalkat jibril datang kepada Rasulullah saw. dalam rupa sebagai seorang manusia. Ia bertanya: &#8216;Wahai Muhammad, apakah iman itu?&#8221; Beliau menjawab, &#8216;Iman adalah bahwa engkau percaya kepada Allah swt, para malaikat Nya, kitab kitab Nya, utusan utusan Nya, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit&#8221;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dalam suatu hadist, bahwa malalkat jibril datang kepada Rasulullah saw. dalam rupa sebagai seorang manusia. Ia bertanya:<br />
&#8216;Wahai Muhammad, apakah iman itu?&#8221; Beliau menjawab, &#8216;Iman adalah bahwa engkau percaya kepada Allah swt, para malaikat Nya, kitab kitab Nya, utusan utusan Nya, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Jibril berkata, &#8220;Engkau benar.” Jarir (perawi hadis ini) berkata, &#8220;Kami semua heran atas penegasannya terhadap kebenaran jawaban Nabi, sedangkan Jibril sendiri yang bertanya.. Kemudian Jibril bertanya lagi, &#8220;Katakanlah kepadaku, apakah Islam itu?&#8221;</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. menjawab, &#8220;&#8216;Islam yaitu hendaknya engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadat haji ke Baitullah&#8221;. Jibril berkata, &#8220;Engkau benar.&#8221; Kemudian ia bertanya lagi, &#8220;Katakanlah kepadaku, apakah ihsan &#8216; itu?&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Ihsan yaitu hendaknya engkau menyembah Allah seolah olah engkau melihat Nya, (namun) jika engkau tidak melihat Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.&#8221; Jibril berkata, &#8220;Engkau benar&#8221;. (H.r. Muslitri, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i).</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Ali ad Daqqaq berkomentar, bahwa sabda Nabi saw, &#8220;jika engkau tidak melihat Nya, sesungguhnya Dia melihatmu,&#8221; merupakan petunjuk mengenal keadaan mawas diri kepada Allah swt. (muraqabah)&#8221;, sebab, mawas diri adalah kesadaran si hamba bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapnya ia dalam kesadaran ini merupakan muraqabah kepada Allah swt, dan milah sumber kebaikan baginya. Ia hanya akan sampai kepada muraqabah ini setelah sepenuhnya melakukan perhitungan dengan dirinya sendiri mengenai apa yang telah terjadi di masa lampau, memperbaiki keadaannya di masa kini, tetap berteguh di jalan yang benar, memperbaiki hubungannya dengan Allah swt. dengan sepenuh hati, menjaga diri agar setiap saat senantiasa ingat kepada Allah swt, taat kepada Nya dalam segala kondisi. Baru setelah ia mengetahui keadaan keadaannya, Dia melihat perbuatannya, dan Dia mendengar perkataannya. Orang yang alpa akan semua hal ini, ia akan jatuh dari titik awal wushul, lalu bagaimana ia akan mencapai taqarrub?</p>
<p style="text-align: justify;">Al Jurairy berkata, &#8220;Orang yang belum mengukuhkan rasa takwa dan muraqabah dirinya kepada Allah swt. tidak akan mencapai mukasyafah dan musyahadah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq semoga Allah merahmatinya berkata, &#8220;Suatu ketika ada seorang raja mempunyai seorang menteri yang mendampingi di hadapannya. Sang menteri berpaling kepada salah seorang pelayan yang hadir, bukan karena curiga, tapi karena merasa adanya bisik bisik di antara para pelayan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan sang raja juga sedang memperhatikan menterinya itu. Sang menteri khawatir bila sang raja akan mengira ia melihat kepada para pelayan itu karena curiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, sang menteri tetap mengarahkan pandangannya kepada mereka. Sejak hari itu sang menteri selalu datang kepada raja dengan mata memandang ke satu sisi. Inilah mawas diri seorang manusia terhadap sesamanya; maka bagaimana pula halnya mawas diri hamba terhadap Tuhannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar salah seorang fakir mengabarkan, &#8220;Ada seorang raja mempunyai seorang pelayan yang mendapat perhatian lebih dari pelayan lainnya. Tidak seorang pun di antara mereka yang lebih berharga atau lebih tampan dari pelayan yang satu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang raja ditanya tentang hal ini, maka ia lalu ingin menjelaskan kepada mereka kelebihan pelayannya tersebut dari pelayan lainnya dalam pengabdian. Suatu hari ia sedang menunggang kuda bersama para pengiringriya. Di kejauhan tampak sebuah gunung bersalju. Sang raja menatap ke arah salju itu dan membungkukkan kepala.</p>
<p style="text-align: justify;">Si pelayan lalu memacu kudanya. Orang orang tidak tahu mengapa si pelayan memacu kudanya. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sedikit salju. Sang raja bertanya kepadanya, &#8216;Bagaimana engkau tahu bahwa aku menginginkan salju?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Si pelayan menjawab, &#8216;Karena paduka menatapnya terus, dan seorang raja hanya melihat sesuatu jika mempunyai niat yang benar.&#8217; Maka sang raja lalu berkata, &#8216;Aku memberinya anugerah dan kehormatan khusus, karena bagi setiap orang ada pekerjaannya sendiri, dan pekerjaannya adalah mengamati pandangan mataku dan memperhatikan keadaanku&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi berkomentar, &#8220;Orang yang muraqabah kepada Allah dalam benaknya, niscaya Allah swt. akan menjaga anggota badannya.&#8221;<br />
Ketika Abul Husain bin Hind ditanya, &#8220;Kapankah seorang gembala mengusir domba dombanya dari padang kebinasaan dengan. tongkat penjagaannya?.&#8221; Ia menjawab, &#8220;Manakala ia tahu bahwa seseorang sedang memperhatikannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Ibnu Umar r.a. sedang berada dalam perjalanan, ia melihat seorang anak laki laki sedang menggembalakan kambing. Ibnu Umar bertanya kepadanya, &#8220;Maukah engkau menjual seekor kambingmu kepadaku?&#8221; Si anak menjawab, &#8220;Kambing kambing ini ini bukan milikku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Umar berkata, &#8220;Katakan saja kepada pemiliknya bahwa seekor serigala telah melarikannya.&#8221; Si anak berkata, &#8220;Lantas, di mana Allah?&#8221; Setelah kejadian itu, untuk beberapa waktu lamanya Ibnu Umar selalu mengatakan, &#8220;Budak itu berkata, &#8216;Di mana Allah&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Junayd berkata, &#8220;Barangsiapa mewujudkan muraqabah, hanyalah takut akan hilangnya bagian dari Allah swt, tidak yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang syeikh mempunyai beberapa orang murid, dan ia lebih menyukai salah seorang muridnya dan memberinya perhatian lebih daripada murid murid yang lain. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab, &#8220;Aku akan menunjukkan kepadamu mengapa aku bersikap demikian terhadapnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu diberikannya kepada setiap orang muridnya seekor burung dan memerintahkan kepada mereka, &#8220;Sembelihlah burung burung itu di suatu tempat di mana tidak seorang pun akan melihatnya!&#8221; Mereka semua lalu berangkat, kemudian masing masing kembali dengan burung sembelihannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi murid kesayangan itu kembali dengan membawa burung pemberian sang syeikh yang masih dalam keadaan hidup. Ketika syeikh bertanya, &#8220;Mengapa engkau tidak menyembelihnya ?&#8221; Si murid menjawab, &#8220;Tuan memerintahkan saya untuk menyembelih burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun, dan saya tidak bisa menemukan tempat seperti itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban muridnya itu, sang syeikh lalu berkata kepada murid murld yang lain, &#8220;Inilah sebabnya mengapa aku lebih memberikan perhatian kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nuun al Mishry mengatakan, &#8220;Tanda muraqabah adalah memilih apa yang dipilih oleh Allah swt, menganggap besar apa yang dipandang besar oleh Nya dan menganggap remeh apa yang dipandang Nya remeh.&#8221;<br />
Ibrahim an Nashr Abadzy menegaskan, &#8220;Harapan (raja&#8217;) mendorongmu untuk taat, takut (khauf) menghindarkanmu dari maksiat; dan muraqabah diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanyakan kepada Ja&#8217;far bin Nashr mengenai muraqabah, ia berkata kepada saya, &#8220;Muraqabah adalah menjaga diri terhadap sirri dikarenakan adanya kesadaran akan pengawasan Allah swt. terhadap setiap bisikan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al jurairy menjelaskan, &#8220;Jalan kita di bangun atas dua bagian, yaitu hendaknya engkau memaksa jiwamu untuk muraqabah terhadap Allah swt. dan hendaknya ilmu tampak dalam perilaku lahiriahmu.&#8221;<br />
Abdullah al Murta&#8217;isy berkomentar, &#8220;Muraqabah adalah menjaga diri atas batin sendiri dikarenakan kesadaran akan Yang Gaib dalam setiap pandangan dan ucapan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Ibnu Atha&#8217; ditanya, &#8216;Amal ibadat apakah yang paling baik?<br />
Ia menjawab, &#8220;Muraqabah terhadap Allah swt. di setiap waktu.&#8221;<br />
Ibrahim al Khawwas berkata, &#8220;Kemawasan diri menghasilkan muraqabah; muraqabah menghasilkan ketulusan batin dan lahir, semata kepada Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman al Maghriby menegaskan, &#8220;Disiplin paling utama pada diri manusia dalam menempuh tharikat ini adalah introspeksi dan muraqabah, sedang aplikasinya dengan ilmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman menuturkan, &#8220;Abu Hafs mengatakan kepadaku, &#8216;Manakala engkau duduk mengajar orang banyak, jadilah seorang penasihat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu, sebab mereka hanya memperhatikan wujud lahiriahmu, sedangkan Allah swt. memperhatikan wujud batinmu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sa&#8217;id al Kharraz mengabarkan, &#8220;Salah seorang syeikh mengatakan kepadaku, &#8216;Engkau harus mengawasi batinmu dan bermawas diri terhadap Allah. Suatu ketika aku sedang bepergian melalui padang pasir, dan tiba tiba aku mendengar suara keras yang menakutkan di belakangku. Aku ingin menoleh, tapi hal itu tak kulakukan. Lalu. aku melihat sesuatu jatuh ke atas pundakku, dan aku menoleh, sedang aku menjaga batinku, lantas aku menoleh dan kulihat seekor binatang buas yang besar&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad al Wasithy berkata, &#8220;Amal ibadat terbaik adalah menjaga waktu. Artinya, si hamba tidak melihat ke luar batas dirinya, tidak memikirkan sesuatu pun selain Tuhannya, dan tidak menyertakan diri dengan sesuatu pun selain waktunya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/muroqobah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lapar dan Meninggalkan Syahwat</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Lapar dan Meninggalkan Syahwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy Allah swt. berfirman: &#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada kepada orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 155). Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada kepada orang orang yang sabar.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 155).</p>
<p style="text-align: justify;">Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).&#8221; (Q.s. AI Hasyr: 9).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a.&#8221; memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw, beliau bertanya, &#8220;Apa ini, wahai Fatimah?&#8221; Fatimah menjawab, &#8220;Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.&#8221;</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menjawab, &#8220;Ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini.&#8221; (Hadis ini diriwayatkan oleh al Harits bin Abu Usamah dalam Musnad nya, melalui sanad yang dha&#8217;if, namun memiliki bukti kebajikan sanad dalam maknanya)</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat kaum Sufi dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh suluk selangkah demi selangkah maju membiasakan berlapar lapar menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal ini cukup banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Salim berkata, &#8220;Etika berlapar diri adalah bahwa seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya, kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit).&#8221; Dikatakan bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas hari. Manakala bulan Ramadhan tiba, ia bahkan tidak makan sampai melihat bulan baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tiap kali berbuka hanya minum air putih saja.  Yahya bin Mu&#8217;adz menjelaskan, &#8220;Seandainya orang dapat membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah berkomentar, &#8220;Ketika Allah swt. menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan minum, dan menempatkan kebijaksanaan dalam lapar.&#8221;<br />
Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Lapar bagi para penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadhah), sebuah cobaan bagi orang-orang yang bertobat, dan siasat bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli ma&#8217;rifat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, &#8220;Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang syeikh menangis, ia bertanya, &#8220;Mengapa Anda menangis?&#8221; Sang syeikh menjawab, &#8220;Aku lapar.&#8221; Ia mencela, &#8220;Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?&#8221; Sang syeikh balas mencela, &#8220;Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis&#8221;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dawud bin Mu&#8217;adz mengisahkan, bahwasanya Mukhallid mengabarkan, &#8216;Al Hajjaj bin Furafishah sedang berada bersama kami di Syam, dan selama limapuluh malam ia tidak minum air ataupun mengisi perut dengan sesuap makanan pun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah Ahmad bin Yahya al-Jalla&#8217; berkata, &#8220;Abu Turab an-Nakhsyaby datang mengarungi padang pasir Bashrah ke Mekkah &#8211; semoga Allah melindungi kota ini &#8211; dan kami bertanya kepadanya tentang makanannya. Ia menjawab, &#8216;Aku meninggalkan Bashrah, makan di Nibaj dan kemudian di Dzat Araq. Dan dari Dzat Araq aku datang kepada kalian.&#8217; Jadi, ia menyeberangi padang itu dengan hanya makan sebanyak dua kali.&#8221;<br />
Setiap kali Sahl bin Abdullah lapar, ia tegar, dan setiap kali makan ia menjadi lemah.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman al-Maghriby berkata, &#8220;Orang yang mengabdi kepada Tuhan (rabbany) hanya makan setiap empatpuluh hari, dan orang yang mengabdi kepada Yang Abadi (shamadany) hanya makan setiap delapanpuluh hari.&#8221;<br />
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan, &#8220;Kunci dunia ini adalah mengisi perut, dan kunci akhirat adalah lapar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah ditanya, &#8220;Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang makan sekali sehari?&#8221; Dijawabnya, &#8220;Itulah makan orang beriman.&#8221; &#8220;Bagaimana dengan yang makan tiga kali sehari?&#8221; Ia mencela, &#8220;Suruh saja orang membuat gentong makanan untukmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz berkomentar, &#8220;Lapar adalah pelita, dan kenyang adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api yang berkobar, dan tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy menuturkan, &#8220;Seorang laki laki dari kaum Sufi datang menemui seorang syeikh dan menyuguhkan sedikit makanan. Lalu ia bertanya, &#8216;Sudah berapa lama Anda tidak makan?&#8217; Sang syeikh menjawab, &#8216;Lima hari.&#8217; Si Sufi berkata, &#8216;Lapar Anda adalah lapar orang bakhil. Anda memakai pakaian (bagus) sementara Anda lapar. Itu bukanlah lapar orang fakir&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan, &#8220;Bahwa meninggalkan sepotong daging di waktu makan malam lebih kusukai daripada berdiri melakukan shalat sepanjang malam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Abul Qasim ja&#8217;far bin Ahmad ar-Razy, &#8220;Beberapa hari Abul Khayr al &#8216;Asqalany ingin sekali mengonsumsi ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ke tangannya melalui jalan yang halal. Tetapi ketika tangannya meraih ikan itu untuk dimakannya, lalu ia berkata, &#8216;Ya Allah, jika hal ini menimpa orang yang mengulurkan tangannya karena ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi kepada orang yang mengulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Rustam asy-Syirazy as-Shufy menuturkan, &#8220;Abu Abdullah bin Khafif sedang menghadiri jamuan makan, tiba-tiba salah seorang muridnya bermaksud mengambil makanan mendahului sang syeikh karena laparnya. Salah seorang murid syeikh, yang ingin menegur atas ketidak sopanannya itu, menempatkan sedikit makanan di hadapan si fakir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyadari bahwa dirinya dicela karena kurang beradab, si fakir itu lalu tidak mau makan selama limabelas hari sebagai hukuman dan pendisiplinan jiwanya, serta sebagai tanda tobat atas ketidak-sopanannya itu, padahal selama ini ia telah menderita kelaparan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Malik bin Dinar berkata, &#8220;Barangsiapa telah mengalahkan syahwat dunia, maka itulah tindakan yang dapat memisahkan setan dari lindungannya.&#8221;<br />
Abu Ali ar-Rudzbary mengajarkan, &#8220;Jika seorang Sufi setelah lima hari tidak makan, mengatakan, &#8216;Aku lapar,&#8217; maka kirimlah ia ke pasar agar mendapatkan pekerjaan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan ucapan seorang syeikh, bahwa penghuni neraka telah dikalahkan oleh syahwatnya atas kewaspadaan mereka, hingga mereka tercela. Beliau juga berkata, &#8220;Seseorang bertanya kepada salah seorang syeikh, Apakah Anda tidak menginginkan sesuatu?&#8217; Sang syeikh menjawab, ‘Aku menginginkannya, akan tetapi aku menahan diri&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh yang lain ditanya, &#8220;Adakah sesuatu yang tuan inginkan?&#8221; Jawabnya, &#8216;Aku menginginkan untuk tidak ingin lagi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr at-Tammar mengabarkan, &#8220;Pada suatu malam Bisyr datang kepadaku, dan aku berkata, &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah membawamu ke sini, Sejumlah kapas dari Khurasan telah sampai kepada kami; budak wanita telah menenunnya, menjualnya dan membeli sedikit daging untuk kita. Engkau bisa berbuka puasa dengan kami.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjawab, &#8216;Jika aku mesti makan dengan seseorang, aku akan memilih makan denganmu.&#8217; Lalu ia menjelaskan, &#8216;Telah bertahun tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya.&#8217; Lalu aku menjawabnya, &#8216;Ada terung yang halal dalam makanan ini.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Bahkan sampai bersih dari bijinya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Abu Ahmad ash Shagir berkata, &#8220;Abu Abdullah bin Khafif menyuruhku menyuguhinya sepuluh butir kismis untuk buka puasanya setiap malam. Suatu malam aku merasa kasihan kepadanya, dan kusuguhkan limabelas butir kismis. Ia memandangku dan bertanya, &#8216;Siapa yang menyuruhmu (memberi limabelas kismis?)&#8217; Lalu dimakannya sepuluh butir dan membiarkan sisanya. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Turab an-Nakhsyaby berkomentar, &#8220;Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja: Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata, &#8216;Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu orang orang di situ memukuliku tujuhpuluh kali. Seorang laki laki di antara mereka mengenaliku dan menyela, &#8216;Ini adalah Abu Turab an Nakhsyaby!&#8217; Mendengar itu, mereka cepat-cepat meminta maaf kepadaku, dan laki laki itu lalu membawaku ke rumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri, &#8216;Makanlah, setelah tujuhpuluh kali pukulan&#8217;!&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/lapar-dan-meninggalkan-syahwat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khusyu dan Tawadhu</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 13:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Khusyu dan Tawadhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy Allah swt. berfirman Allah: &#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu&#8217; dalam shalatnya”.(Q.s. Al Mu&#8217;minun: 1 2) Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman Allah:<br />
&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu&#8217; dalam shalatnya”.(Q.s. Al Mu&#8217;minun: 1 2)</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji sawi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berpakaian bagus;&#8221;&#8216; Beliau menjawab, &#8220;Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong adalah berpaling dari AI Haq dan mencemooh manusia.&#8221; (H.r. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Malik mengabarkan, &#8220;Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan budak-budak. Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bani Nadhir, Rasul mengendarai seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula. &#8220;</p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Khusyu&#8217; adalah berkait kepada Allah swt, dan tawadhu&#8217; adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Hudzaifah berkata, &#8220;Khusyu&#8217; adalah hal yang pertama tama hilang dari agamamu.&#8221; Ketika salah scorang Sufi ditanya tentang khusyu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Khusyu&#8217; adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah menegaskan, &#8220;Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu&#8217;.&#8221; Dikatakan, &#8220;Di antara tanda tanda kekhusyu&#8217;an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia semua itu diterimanya.&#8221;<br />
Salah seorang Sufi berkomentar, &#8220;Kekhusyu&#8217;an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Ali at Tirmidzy menjelaskan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah begini: jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, sementara cahaya keagungan menyinari hatinya, sehingga syahwatnya mati, dan hatinya hidup khusyu&#8217;lah semua anggota badannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al Hasan al Bashry berkata, &#8220;Khusyu&#8217; adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati.&#8221; Ketika al junayd ditanya tentang khusyu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Khusyu&#8217; adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban.&#8221;<br />
Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hamba hamba Ar Rahman yaitu orang orang yang berjalan di muka bumi dengan sikap rendah hati.&#8221; (Q.s. Al Furqan: 63).<br />
Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, bahwa makna ayat ini adalah hamba hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.<br />
Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu&#8217; adalah di dalam hati. Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya, &#8220;Wahai sahabat, khusyu&#8217; itu di sini,&#8221; sambil menunjuk ke dadanya, bukan di sini,&#8221; sambil menunjuk bahunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda:<br />
&#8220;Jika hatinya khusyu&#8217;, niscaya anggota badannya juga akan khusyu&#8217;.&#8221; (H.r. Tirmidzi).<br />
Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.<br />
Syeikh ad-Daqqaq berkata, &#8220;Khusyu&#8217; mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt.&#8221; Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Khusyu&#8217; adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat.&#8221;<br />
Khusyu&#8217; adalah mukadimah bagi luapan anugerah.<br />
Dikatakan, &#8220;Khusyu&#8217; adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tiba-tiba.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;Iyadh menegaskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu&#8217; daripada batinnya.<br />
Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Seandainyanya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku seridiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tidak akan menghormatinya pula.&#8221;<br />
Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.<br />
Mujahid berkata, &#8220;Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu, Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.&#8221;<br />
Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri, &#8220;Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.&#8221; Tapi Umar menjawab, &#8220;Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!&#8221; Maka si tamu lalu berkata, &#8220;Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.&#8221; Umar menolak, &#8220;Jangan, ia baru saja pergi tidur!&#8221; Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu. berseru, &#8220;Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?&#8221; Umar berkata kepadanya, &#8220;Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagal Umar pula.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sa&#8217;id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tidak pernah merasa malu membawa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa tertawa, sedih tapi tidak cemberut; rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;lyadh berkata, &#8220;Para ulama dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong.&#8221; Ia juga berkomentar, &#8220;Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu&#8217; sama sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu&#8217;, ia mengajarkan, &#8220;Pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapa pun yang mengatakannya.&#8221;<br />
Ketika al junayd ditanya tentang tawadhu&#8217;, ia menjawab, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Wahb berkata, &#8220;Telah tertulis dalam salah satu kitab suci, &#8216;Sesungguhnya Aku (Allah) mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu&#8217; daripada hati Musa as. Maka Kupilih ia dan Aku berbicara langsung dengannya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mubarak mengatakan, &#8220;Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu&#8217;.&#8221;<br />
Abu Yazid ditanya, &#8220;Bisakah seseorang mencapai sifat tawadhu&#8217;?. Dijawabnya, &#8220;jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah anugerah Allah yang tidak pernah iri dengki orang, dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu&#8217;, dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Syaiban menegaskan, &#8220;Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu&#8217;, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qana&#8217;ah.&#8221;<br />
Abu Sa&#8217;id al Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata, &#8216;Ada lima macam manusia termulia di dunia: Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yang rendah hati, scorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti Sunnah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya bin Mu&#8217;adz menegaskan, &#8220;Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin.&#8221;<br />
Ibnu Atha&#8217; berkomentar: &#8220;Tawadhu&#8217; adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendarai kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya, &#8220;Jangan, wahai anak paman Rasulullah!&#8221; Ibnu Abbas berkata, &#8220;Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami.&#8221; Maka Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya, sambil berkata, &#8220;Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Urwah bin az-Zubair menuturkan, &#8220;Ketika aku melihat Ummar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya, &#8216;Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda.&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasaan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya.&#8221; Beliau terus memikul air itu dan membawanya ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisikannya ke dalam gentong milik wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy mengabarkan, &#8220;Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak teriak, &#8216;Beri jalan untuk amir&#8217;!&#8221;<br />
Abdullah ar-Razy menjelaskan, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah tidak membedabedakan dalam memberikan pelayanan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat.&#8221;<br />
Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8220;Keangkuhan terhadap orang yang bersikap sombong terhadapmu dikarenakan kekayaannya, adalah sikap tawadhu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang laki-laki datang kepada asy-Syibly dan bertanyalah kepadanya, &#8220;Siapakah engkau?&#8221; ia menjawab, &#8220;Wahai tuanku, sebuah titik di bawah ba.&#8221; Lalu laki laki itu berkata, &#8220;Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau menganggap rendah kedudukan dirimu sendiri.&#8221;<br />
Ibnu Abbas r.a. mengatakan, &#8220;Salah satu bagian tawadhu&#8217; adalah bahwa orang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya.&#8221;<br />
Bisyr mengajarkan, &#8220;Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syu&#8217;alb bin Harb menuturkan, &#8220;Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka&#8217;bah, seorang buruh laki laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin &#8216;Iyadh, yang berkata, &#8220;WahaiAbu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8216;Aku melihat seorang laki laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka&#8217;bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang orang yang menyanjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf, selang beberapa waktu setelah itu aku melihat ia meminta minta kepada orang orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran, ia lalu berkata kepadaku, Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia mestinya merendahkan diri, maka Allah swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya, &#8216;Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham, jika surat ini telah sampai ke tanganmu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, &#8216;Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar, &#8220;Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang berkhutbah, ku taksir-taksir pakaian yang dikenakannya berharga sekitar duabelas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar, surban, celana, sepasang sandal, dan selendang.&#8221;<br />
Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi&#8217; berjalan dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya, &#8220;Tahukah kamu dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tigaratus dirham. Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang sepertinya di kalangan kaum Muslimin. Lantas, dengan orangtua yang semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?&#8221;<br />
Hamdun al-Qashshar berkata, &#8220;Tawadhu&#8217; adalah engkau tidak memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal agama.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Abu Dzar dan Bilal -semoga Allah meridhai mereka berdua- sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw, yang lalu bersabda, &#8220;Wahai &#8216;Abu Dzar, sungguh masih ada sifat jahiliyah dalam hatimu!&#8221; Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia tidak bangunbangun sampai Bilal melakukan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian, dan berkata, &#8216;Aku berhutang budi kepada mereka sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku memperoleh keuntungan lebih dari itu.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/khusyu-dan-tawadhu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dzikir</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 14:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy Allah swt. berfirman: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.&#8221; (Q.s. Al Ahzab: 41). Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: &#8220;Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.&#8221; (Q.s. Al Ahzab: 41).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:<br />
&#8220;Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Apakah itu, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Dzikir kepada Allah swt.&#8221; (H.r. Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Anas bin Malik na, bahwa Rasulullah saw. &#8216;bersabda:<br />
&#8220;Hari Kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap &#8216;Allah, Allah&#8217;.&#8221; (H.r. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Anas r.a. juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,<br />
&#8220;Kiamat tidak akan datang sampai lafazh &#8216;Allah, Allah&#8217; tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.&#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, &#8220;Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua macam dzikir; Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, &#8220;Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan dijalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelalaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cambuk itu patah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian, ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju kepada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika al-Wasithy ditanya tentang dzikir, menjelaskan, &#8220;Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dzun Nun al-Mishry menegaskan, &#8220;Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman ditanya, &#8220;Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah swt, tapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?&#8221; Abu Utsman menasihatkan, &#8220;Memujilah kepada Allah swt. karena telah menghiasi anggota badanmu. dengan ketaatan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah hadis yang masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan: “&#8217;Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.&#8221; Ditanyakan kepada bellau, &#8220;Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan dzikir kepada Allah.&#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir bin Abdullah menceritakan, &#8220;Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda:<br />
&#8220;Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman surga!&#8221; Kami bertanya, &#8220;Apakah taman surga itu?&#8217; Beliau menjawab, &#8220;Majelis orang melakukan dzikir.&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Berjalanlah dipagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkan-Nya dalam dirinya.” (H.r. Tirmidzi, juga riwayat darl Abu Hurairah).</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syibly berkata, &#8220;Bukankah Allah swt. telah berfirman, &#8216;Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku&#8217;. &#8220;Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt.?&#8221; Lalu ia bersyair berikut: Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat; Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta, Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar, ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku, Kusaksikan Diri-Mu di mana saja, Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan, Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintah untuk berdzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadat termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu. Dzikir dalam hati bersifat terus-menerus, dalam kondisi apa pun. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaitu orang orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).&#8221; (Q.s. Ali Imran: 191).</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan, &#8220;Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari sikap berpura-pura dalam dzikir.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, &#8220;Manakah yang lebih baik, dzikir ataukah tafakur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?&#8221; Beliau berkata, &#8220;Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apa pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.&#8221; Maka Syeikh Abu Ali setuju dengan pendapat yang bagus ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad al-Kattany berkata, &#8220;Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan syair:<br />
Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu<br />
melainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.<br />
Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,<br />
&#8216;Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya: &#8220;Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.&#8221; (Q.s. Al Baqarah: 152).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah hadis menyebutkan bahwa Jibril as. mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwasanya Allah swt. telah berfirman, &#8220;Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.&#8221; Nabi saw. bertanya kepada Jibril, &#8220;Apakah pemberian itu?&#8221; Jibril menjawab, &#8220;Pemberian itu adalah firman-Nya, &#8216;Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan akan berdzikir kepadarnu.&#8217; Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Malaikat maut minta izin dengan orang yang berdzikir sebelum mencabut nyawanya.&#8221; Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. bertanya, &#8220;Wahai Tuhanku, di mana Engkau tinggal?&#8221; Allah swt. berfirman, &#8220;Dalam hati manusia yang beriman.&#8221; Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk &#8220;tinggal&#8221; dan penempatan. &#8220;Tinggal&#8221; yang disebutkan di sini hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Dzun-Nun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan, &#8220;Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia membacakan syair:<br />
Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karena<br />
aku telah melupakan-Mu;<br />
Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahl bin Abdullah mengatakan, &#8220;Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, &#8216;Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku&#8217;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sulaiman ad-Darany berkata, &#8220;Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terkadang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya, &#8216;Mengapa engkau berhenti?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Sahabatku telah kendor dzikirnya&#8217;. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur&#8217;an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad al-Aswad menuturkan, &#8220;Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk, begitupun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular itu pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, lalu berkata, &#8216;Dzikirlah kepada Allah!&#8217; Aku pun berdzikir, dan ular-ular itu akhirnya pergi menjauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi. Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya. Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada Syeikh, Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?&#8217; Beliau menjawab, &#8220;Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.&#8221;  As-Sary menegaskan, &#8220;Tertulis dalam salah satu kitab suci, &#8216;Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya&#8217;.&#8221; Dikatakan pula, &#8220;Allah mewahyukan kepada Daud as, &#8216;Bergembiralah dengan-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ats-Tsaury mengatakan, &#8220;Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma&#8217;rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.&#8221;<br />
Tertulis dalam Injil, &#8220;Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah. Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan menggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya, Apa yang telah terjadi atas dirinya?&#8217; Salah seorang dari mereka akan menjawab, &#8216;Seorang manusia telah menyentuhnya&#8217;.&#8221; Sahl berkata, &#8220;Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk dari lupa kepada Allah swt.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi menuturkan, &#8220;Aku mendengar cerita tentang seorang, laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas menggigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketika ia siuman, aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku, Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan menggigitku sebagaimana yang engkau saksikan&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah Al-jurairy mengabarkan, &#8220;Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzlkir dengan mengucap &#8216;Allah, Allah.&#8217; Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah membentuk kata-kata &#8216;Allah, Allah&#8217;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/tentang-dzikir.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIAM ( Diam yang bagaimana? )</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 14:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[DIAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim Al-Qusyairy Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari Musliln dan Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">dari : Syeikh Abul Qasim Al-Qusyairy</span></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:<br />
&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari Musliln dan Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Umamah, bahwasanya &#8216;Uqbah bin Amir bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa dosamu. &#8221; (H.r. Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh ad-Daqqaq berkata, &#8220;Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan; penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara&#8217;, perintah-perintah dan larangan larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Diam pada waktu yang tepat adalah termasuk sifat para tokoh. Begitupun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.&#8221;</p>
<p><span id="more-110"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, &#8220;Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran adalah setan yang bisu.&#8221; Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman, &#8220;Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.&#8221; (Q.s. AI Nraf. 204).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin dengan Rasul saw. Firman Nya, &#8220;&#8230; maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, &#8216;Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)&#8217;.&#8221; (Q.s. Al Ahqaf 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, &#8220;&#8230; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.&#8221; (Q.s. Thaaha: 108).</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita berpisah,<br />
Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba,<br />
Tiba tiba kulupakan ketika kita berjumpa,<br />
Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata kata hampa.<br />
Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini:<br />
Betapa banyak kata-kata yang ingin kucurahkan padamu,<br />
Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,<br />
Segalanya jadi kelu.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga baris berikut ini:<br />
Kulihat bicara menghiasi oranq muda,<br />
Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang.<br />
Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut,<br />
Dan betapa banyak pembicara yang berangan<br />
Seandainya ia bisa diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua jenis diam: Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang &#8216;arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus perbuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu? &#8216;Para Rasul menjawab, &#8220;Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). &#8220;&#8216; (Q.s. Al Maidah: 109).</p>
<p style="text-align: justify;">Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu berbicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Dawud ath-Tha&#8217;y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia memutuskan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah seorang muridnya. la duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenaan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber&#8217;uzlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisyr ibnul Harits mengajarkan, “Apabila berbicara menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda, berbicaralah.&#8221; Sahl bin Abdullah menegaskan, &#8220;Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr al-Farisy mengatakan, &#8220;Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan.&#8221;<br />
Salah seorang Sufi berkata, &#8220;Orang yang tidak menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol.&#8221; Mumsyad ad-Dinawary berkata, &#8220;Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kekita Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya, &#8220;Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan masa depan.&#8221; Dikatakannya pula, &#8220;Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mu&#8217;adz bin Jabal r.a. berkata, &#8220;Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat Nya.&#8221; Dzun Nuun al-Mishry ditanya, &#8220;Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?&#8221; Dijawab Dzun Nuun, &#8220;Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya. &#8221; Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama lama lebih dari lidah.&#8221; Ali bin Bukkar mencatat, &#8220;Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Konon Abu Bakr ash Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara. Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya, &#8220;Engkau berbicara, dan bicaramu sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiarn, sehingga engkau menjadi bagus!&#8221; Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat menjemputnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Manakala asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan, &#8220;Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa apa).&#8221; (Q.s. An Naml: 85). Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnus Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu&#8217;adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, menjawab, &#8220;Sudah sepatutnya begini.&#8221; Orang orang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majells Yahya dan duduk di pojok di manaYahya tidak akan dapat melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan, &#8216;Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku,&#8221; dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, &#8220;Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu. Sehingga Allah swt. menjaganya terhadap pendengar yang bukan kompetennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para syeikh yang ahli mengenal tharikat ini telah menjelaskan, &#8220;Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, &#8220;Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku, &#8216;Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu&#8217;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang ahli hikmah berkata, &#8220;Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata, &#8220;Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu. &#8221; Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.:<br />
&#8220;Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.&#8221; (Q.s. Al Hujurat: 12).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah scorang Sufi berkata, &#8220;Diam adalah bahasa ketabahan.&#8221;<br />
Sebagian mereka mengatakan, &#8220;Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam rnenguatkanmu.&#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Menjaga lisan adalah lewat diamnya.&#8221; Ada yang mengatakan, &#8220;Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu ikat akan menyerangmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hafs ditanya, &#8220;Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali, diam atau berbicara?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Jika si pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. agar dapat berbicara (agar bisa menunjukan kebaikan).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Diam bagi kaum awam dengan lidahnya, diam bagi kaum yang ma&#8217;rifat kepada Allah swt. dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian sufi mengisahkan, &#8216;Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapanku kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tigapuluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali dari ucapanku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8220;jika lidah Anda didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan Jika Anda berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang &#8216;arif berdiam diri, ia akan berkuasa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Fudhail bin &#8216;Iyadh berkata, &#8220;Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/diam-diam-yang-bagaimana.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dengki</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 14:17:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy Allah swt. berfirman: &#8220;Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk Nya,&#8221; kemudian Dia berfirman, &#8220;Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;. (Q.s. AI Falaq: 1, 2 dan 5). Di sini Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyebutkan kata dengki. Diriwayatkan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">dari : Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk Nya,&#8221; kemudian Dia berfirman, &#8220;Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;. (Q.s. AI Falaq: 1, 2 dan 5).</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyebutkan kata dengki. Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis Inenolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.&#8221; (H.r. Ibnu Asakir).</p>
<p><span id="more-108"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Sufi mengatakan, &#8220;Orang yang dengki adalah orang yang tidak beriman, sebab ia tidak merasa puas dengan takdir Allah Yang Maha Esa.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang Yang denki tidak berjaya.&#8221;<br />
Disebutkan dalam firman Allah swt,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.&#8221; (Q.s. AI A&#8217;raf : 33).<br />
Dalam beberapa kitab tertulis bahwa, &#8220;Orang yang dengki adalah musuh nikmat-Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Pengaruh dengki tampak padamu sebelum ia tampak pada musuhmu.&#8221; Al Asmu&#8217;i menuturkan, &#8220;Aku melihat seorang Badui yang berumur seratus duapuluh tahun, dan aku berkata, &#8216;Alangkah panjangnya umur Anda.&#8217; Ia menjawab, &#8216;Aku telah meninggalkan dengki, hingga umurku panjang&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mubarak mengatakan, &#8220;Segala puji bagi Allah, yang tidak menempatkan dengki dalam hati pernimpinku sebagaimana yang telah ditempatkan Nya dalam hati pendengkiku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu hadist dikatakan, &#8220;Ada seorang malaikat di langit kelima yang amal perbuatan seorang manusia melaluinya, dan ia bersinar kemilau seperti matahari. Malaikat itu memerintahkan, &#8216;Berhentilah, karena aku adalah malaikat dengki. Pukullah pelaku dengki pada mukanya, sebab ia adalah seorang pendengki.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan berkata, &#8216;Aku mampu menyenangkan semua orang kecuali pendengki. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa pun selain berhentinya kenikmatan bagi semua orang.&#8221; Dikatakan, &#8220;Seorang pendengki adalah seorang yang paling zalim. Ia tidak membiarkan sesuatu pun tetap tinggal di tempatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Abul Aziz menegaskan,&#8217;Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaan sengsara dan nafas sesak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Di antara tanda tanda seorang pendengki adalah penjilat orang lain manakala orang itu berada di dekatnya, memfitnahnya manakala tidak berada di dekatnya, dan merasa senang apabila ada bencana yang menimpa diri orang lain.&#8221;  Mu&#8217;awiyah berkata, &#8220;Tidak ada sifat sifat kejahatan yang lebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Sulaiman putra Daud as, &#8220;Kuperintahkan engkau agar melakukan tujuh perkara, janganlah engkau menggunjing dan mendengki salah seorang hamba-Ku yang saleh.&#8217; Sulaiman menjawab, &#8216;Tuhanku, cukuplah perintah itu bagiku&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Musa as. melihat seorang manusia di dekat &#8216;Arasy. Karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau bertanya, “Apa amalnya?&#8221; Pertanyaannya itu dijawab, &#8220;Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt. kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Seorang pendengki menjadi bingung bila melihat adanya rahmat atas diri orang lain dan merasa senang jika melihat adanya kekurangan pada diri orang lain.&#8221; Dikatakan, &#8220;Jika engkau ingin selamat dari seorang pendengki, sembunyikanlah urusanmu darinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Seorang pendengki sangat marah terhadap manusia yang tidak mempunyai dosa, dan bersikap kikir terhadap yang tidak ia miliki.&#8221;<br />
Dikatakan juga, &#8220;Waspadalah jangan sampai engkau mengharapkan untuk mencintai orang yang mendengkimu, sebab ia pasti tidak akan menerima kebaikanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kata salah seorang Sufi, &#8220;Apablla Allah swt. berkehendak memberikan kekuasaan kepada seorang musuh yang tak mengenal kasihan terhadap salah seorang hamba Nya, maka kekuasaan itu diberikan Nya kepada pendengkinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Dalam syair Sufi:</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Cukuplah bagimu kisah tentang seseorang<br />
yang dikasihani oleh para pendengkinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka juga membacakan syair berikut:<br />
Semua permusuhan terkadang diharapkan<br />
kematiannya<br />
Kecuali permusuhan dari orang<br />
yang melawanmu dengan rasa dengki.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka juga membacakan syair:<br />
Manakala Allah berkehendak menebar kebajikan<br />
Digulunglah lidah pendengkinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Mu&#8217;tazz mengatakan:<br />
Katakan pada pendengki<br />
ketika nafasnya terengah-engah,<br />
&#8216;Hai si zalim.&#8217;<br />
Sedang ia seakan akan orang yang ditindas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/tentang-dengki.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ber-Syukur</title>
		<link>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm</link>
		<comments>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 19:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.baitulamin6.org/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt. berfirman: &#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7). Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman:<br />
&#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7).</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya&#8217;la dari Abu Khabab, dari Atha&#8217; yang berkata, &#8220;Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, &#8216;Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!&#8217; Beliau menangis dan bertanya, &#8216;Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, &#8216;Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!&#8217; Aku menjawab, &#8220;Saya senang berdekatan dengan Anda,&#8217; tapi aku mengizinkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku&#8217; dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh.</p>
<p><span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada beliau, &#8216;Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:<br />
&#8216;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.&#8217; (Q.s. Al Baqarah: 164).&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ayat ini, Allah swt. memiliki sifat syakur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur, sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana difirmankanNya, &#8220;Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang serupa.&#8221; (Q.s. Asy Syura: 40).</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa bersyukurnya Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit, seperti kata pepatah, &#8220;Seekor binatang dikatakan bersyukur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi kebaikan dengan mengingat ingat anugerah yang telah diberikan Nya. Jadi bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt. adalah pujian kepada Nya dengan mengingat ingat anugerah Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya Allah swt. kepada hamba Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt, sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rahmat Nya kepada si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada Nya. Syukur seorang hamba, Pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum &#8216;arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap Nya di dalam semua perilaku mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakr al Warraq berkata, &#8220;Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah terhadap, anugerah tersebut dan menjaga penghormatan.&#8221;<br />
Hamdun al Qashshar menegaskan, &#8220;Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur.&#8221; Al-junayd berkomentar, &#8220;Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur melihat peningkatan bagi dirinya sendiri; jadi ia sadar di sisi Allah swt. lebih dari bagian dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan taufiq Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga.&#8221; Dikatakan, &#8220;Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd mengatakan, &#8220;Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.&#8221; Ruwaym menegaskan, &#8220;Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi.&#8221; Dikatakan juga, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Al-junayd menjelaskan, &#8220;Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai anakku, apakah bersyukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengatakan, &#8216;Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak&#8217;!&#8221; Al-junayd mengatakan, &#8216;Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu.&#8221; Asy-Syibly menjelaskan, &#8220;Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.&#8221; Dikatakan, &#8220;Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Utsman berkata, &#8220;Kaum awam bersyukur karena diberi makanan dan pakaian, sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna makna yang datang di hati mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, &#8220;Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepacla Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?&#8221; Allah mewahyukan kepadanya, &#8220;Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, &#8220;Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?&#8221; Allah Menjawab, &#8220;Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan. Sufi itu diminta supaya datang, dan sahabatnya itu mengatakan kepadanya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8221; Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada si Sufi, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian seorang Majusi yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol rantainya dikenakan pada kaki sahabat, dan borgol lainnya dikenakan pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang berarti sahabat itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai melepaskan hajatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.!&#8221; Sahabatnya (si Sufi) bertanya, &#8220;Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini: Cobaan apa yang lebih berat dari ini?&#8221; Sahabatnya menjawab, &#8220;Jika sabuk yang dikenakan orang kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, &#8220;Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!&#8221; Sahl berkata, &#8220;Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid, apa yang akan engkau perbuat?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8220;Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan juga, &#8220;Syukur adalah menyibukkan diri dalam memujiNya karena Dia telah memberimu apa yang engkau tidak pantas menerimanya.&#8221; Al-Junayd menuturkan, &#8220;Manakala as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, &#8216;Wahai al-Junayd, apakah syukur itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Syukur adalah jika tidak satu bagian pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada Nya.&#8217; Ia bertanya lagi, &#8216;Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan) ini.&#8217; Aku menjawab, &#8216;Bersama majelis-majelis Anda&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat, &#8220;Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah, kecuali kemurahan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan, &#8216;Jika tangan mu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap syukur dengan lisanmu. &#8221; Dikatakan pula, &#8220;Ada empat amal yang tidak berbuah: Mempercayakan rahasia kepada orang yang bisu, memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur, menebar benih di tanah yang tandus, dan menyalakan lampu di bawah cahaya matahari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dikatakan bahwa ketika Idris as. memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab, &#8220;Agar aku dapat bersyukur kepada Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.&#8221; Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya ke langit.</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa salah seorang Nabi &#8211; semoga Allah swt. melimpahkan salam kepadanya &#8211; berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air, yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara kepadanya, katanya, &#8220;Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman, &#8216;Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.&#8217; (Q.s. At Tahrim: 6).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun menangis karena takut.&#8221; Nabi itu kemudian mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu itu dari api neraka, dan Allah lalu mewahyukan kepadanya, &#8216;Aku telah menyelamatkannya dari neraka.&#8221; Maka Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali melewati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya, yang membuatnya heran.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara, dan Nabi itu lalu bertanya, &#8220;Mengapa engkau masih menangis sedangkan Allah telah mengampunimu?&#8221; Batu itu menjawab, &#8220;Sebelumnya adalah tangis takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira.&#8221; Dikatakan, &#8220;Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt. berfirman, &#8220;Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat Ku) kepadamu.&#8221; (Q.s. Ibrahim: 7.). Orang yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian kepada Nya yang memberikan cobaan. Allah lalu berfirman, &#8220;Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar&#8221; (Q.s. AI Anfal: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, &#8220;Coba, yang tua-tua dulu berbicara! &#8221; Mendengar itu si pemuda berkata, &#8220;Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar berkata, &#8220;Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, &#8220;Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan. Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Umar pun bertanya kepadanya, &#8220;Lantas, siapa kalian ini?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang.&#8221; Dan mereka lalu bersenandung:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam.<br />
Atas apa yang telah kau lakukan,<br />
sedangkan kebaikanmu berbicara.<br />
Aku melihat anugerah darimu<br />
dan aku menyembunyikan;<br />
karenanya, di tangan yang pemurah<br />
jadi pencuri.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as, &#8216;Aku melimpahkan rahmat kepada hamba hamba Ku: Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka yang terampuni.&#8221; Musa bertanya, &#8220;Mengapa pula terhadap mereka yang terampuni?&#8221; Allah swt. menjawab, &#8220;Dikarenakan kecilnya syukur mereka atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu.&#8221;<br />
Dikatakan, &#8220;Pujian itu bagi nafas, dan syukur atas nikmat nikmat anggota badan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan pula, &#8220;Pujian sebagai permulaan dari Nya, dan syukr sebagai tebusan darimu.&#8221; Dalam hadis shahih disebutkan, &#8220;Yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal.&#8221; Dikatakan, &#8220;Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikanNya, dan syukur atas apa yang diperbuat oleh Nya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.baitulamin6.org/ber-syukur.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
